Aug 25, 2026
Bisnis

Pemimpin Iran Khamenei Kutip Pidato Bung Karno, Tekankan Persatuan

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali menarik perhatian dunia Islam dengan merujuk pada salah satu pidato legendaris Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Dalam sebuah foru...

Pemimpin Iran Khamenei Kutip Pidato Bung Karno, Tekankan Persatuan

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali menarik perhatian dunia Islam dengan merujuk pada salah satu pidato legendaris Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Dalam sebuah forum internasional baru-baru ini, Khamenei mengutip pernyataan Bung Karno untuk menjelaskan pentingnya persatuan di tengah keragaman agama dan ideologi. Kutipan itu bukan sekadar pengakuan diplomatik, melainkan penegasan bahwa warisan pemikiran Soekarno tetap relevan bagi tantangan global kontemporer.

Momen Bersejarah di Panggung Diplomasi

Menurut laporan yang beredar, Khamenei menyampaikan referensi tersebut saat berbicara di hadapan para pemimpin agama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara. Ia menekankan bahwa perbedaan mazhab, pandangan politik, dan latar belakang kebangsaan tidak seharusnya menjadi jurang pemisah. Justru, seperti yang pernah disampaikan Soekarno dalam pidato-pidatonya, kekuatan sebuah bangsa dan umat terletak pada kemampuannya merajut persatuan tanpa menyeragamkan identitas.

Meski tidak menyebutkan secara persis pidato mana yang dirujuk, para pengamat menilai bahwa Khamenei kemungkinan besar mengacu pada pidato Soekarno di Sidang Umum PBB pada 1960 berjudul "To Build the World Anew", atau pidato kenegaraan yang sarat semangat nasionalisme inklusif. Dalam banyak kesempatan, Soekarno memang menekankan prinsip Bhinneka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu.

Warisan Soekarno di Mata Pemimpin Syiah

Rujukan Khamenei terhadap Soekarno bukanlah kali pertama. Beberapa tahun sebelumnya, ia juga menyinggung konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme) yang digagas Bung Karno sebagai upaya mempersatukan kekuatan politik yang berbeda. Menurut Khamenei, meskipun secara ideologis Nasakom kontroversial, semangat di baliknya—mengelola perbedaan secara konstruktif—adalah pelajaran berharga bagi dunia Islam yang kerap dirundung konflik sektarian.

Bagi Tehran, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar namun berbasis Pancasila, menjadi contoh bahwa aspirasi keislaman dapat berjalan seiring dengan pemerintahan modern yang pluralis. Dr. Haidar al-Khoei, analis geopolitik Timur Tengah, mengatakan,

"Khamenei mengerti betul simbolisme Soekarno sebagai bapak bangsa yang bisa mempersatukan kelompok-kelompok yang berlawanan. Di Timur Tengah, di mana friksi Sunni-Syiah masih tajam, pesan itu sangat kuat."

Relevansi untuk Diplomasi Indonesia

Kutipan tersebut juga menguntungkan posisi Indonesia di kancah internasional. Sebagai negara non-blok yang aktif menjembatani dialog antaragama, Indonesia dapat memanfaatkan momen ini untuk memperkuat peran mediator di kawasan konflik. "Ini adalah pengingat bahwa nilai-nilai luhur bangsa sejak era kemerdekaan masih menjadi rujukan dunia," ujar Prof. Rizal Sukma, ahli hubungan internasional.

Di sisi lain, beberapa pihak skeptis dan menilai bahwa Khamenei menggunakan retorika Soekarno untuk membangun legitimasi politik dalam negeri. Iran tengah menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi dan protes sosial; merangkul memori tokoh populis bisa meredam ketidakpuasan. Namun, terlepas dari motifnya, pengakuan terhadap pemikiran Soekarno menegaskan bahwa diplomasi berbasis nilai luhur mampu melampaui batas generasi dan geopolitik.

Dengan demikian, gaung pidato Bung Karno yang berusia lebih dari setengah abad masih bergema di jantung pemerintahan Iran, membuktikan bahwa gagasan persatuan tetap abadi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User