Oct 09, 2026
Bisnis

Pemerintah Genjot Rumput Laut demi Posisi Nomor Satu Dunia

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Oktober 2026, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi produsen rumput laut nomor satu di dunia. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan ambisi...

Pemerintah Genjot Rumput Laut demi Posisi Nomor Satu Dunia

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Oktober 2026, pemerintah menargetkan Indonesia menjadi produsen rumput laut nomor satu di dunia. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menyatakan ambisi tersebut sebagai bagian dari strategi hilirisasi sumber daya alam yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Langkah ini menandai pergeseran orientasi industri, dari sekadar mengejar volume ekspor menuju penguatan nilai tambah di dalam negeri.

Indonesia sejatinya sudah lama dikenal sebagai salah satu pemasok utama rumput laut dunia. Namun, sebagian besar hasil panen masih dikirim keluar dalam bentuk kering untuk diolah kembali di negara lain. Kondisi ini membuat margin keuntungan terbesar dinikmati pihak lain, sementara nilai tambah domestik relatif terbatas. Ambisi menjadi nomor satu dunia karenanya tidak sekadar soal menaikkan tonase, melainkan soal mengubah struktur industri.

Posisi Indonesia dalam Peta Global

Rumput laut merupakan komoditas yang permintaannya terus tumbuh secara year-on-year, didorong industri pangan, kosmetik, farmasi, hingga bahan bakar nabati. Sepanjang 2025, nilai pasar global untuk produk turunan rumput laut diperkirakan menembus puluhan miliar dolar Amerika Serikat, dengan tren pertumbuhan tahunan yang stabil di kisaran 5 hingga 7 persen. Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil utama, memiliki peluang besar untuk menangkap permintaan tersebut.

Namun, posisi Indonesia belum sepenuhnya dominan. Negara pesaing seperti China dan beberapa produsen Asia lain telah lebih dulu membangun industri pengolahan skala besar. Mereka tidak hanya menguasai hulu, tetapi juga hilir, termasuk produksi karagenan dan agar-agar yang bernilai jual jauh lebih tinggi. Selisih harga antara rumput laut kering dan produk turunannya bisa mencapai tiga hingga lima kali lipat, sehingga penguasaan hilirisasi menjadi kunci.

Pro: Hilirisasi Berpotensi Dongkrak Nilai Tambah

Di satu sisi, target menjadi produsen nomor satu dunia punya landasan yang cukup kuat. Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia, sekitar 99.000 kilometer, dengan luas area budidaya yang masih bisa diperluas. Ketersediaan tenaga kerja pesisir yang besar juga menjadi modal, mengingat budidaya rumput laut relatif padat karya dan tidak memerlukan teknologi kompleks pada tahap hulu.

Dari perspektif industri, pengembangan pengolahan dalam negeri berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan nelayan budidaya, serta memperkuat neraca perdagangan. Setiap satu ton rumput laut kering yang diolah menjadi karagenan dapat menghasilkan nilai jual berkali-kali lipat dibanding dijual mentah. Efek bergandanya terasa pada sektor logistik, kemasan, hingga riset dan pengembangan.

"Hilirisasi adalah jalan wajib jika kita ingin berhenti menjadi pemasok bahan mentah dan mulai menjadi pemain utama di rantai nilai global," ujar Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji.

Kontra: Tantangan Fundamental Masih Membayangi

Di sisi lain, jalan menuju posisi nomor satu tidak mulus. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa target produksi kerap berbenturan dengan persoalan struktural, seperti kualitas bibit yang belum seragam, serangan hama penyakit, serta fluktuasi harga di tingkat petani. Tanpa perbaikan tata kelola budidaya, lonjakan produksi berisiko hanya menambah pasokan tanpa diimbangi kenaikan harga yang menguntungkan.

Masalah lain adalah keterbatasan infrastruktur pengolahan dan akses pembiayaan bagi usaha kecil di daerah pesisir. Investasi pabrik pengolahan membutuhkan modal besar, sementara likuiditas perbankan untuk sektor ini dinilai masih terbatas. Selain itu, ada kekhawatiran soal daya serap pasar. Jika produksi melonjak tanpa kepastian pembeli, harga bisa tertekan dan memukul pendapatan pembudidaya.

Dari kacamata fundamental ekonomi, keberhasilan target ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, koordinasi lintas kementerian, serta kesiapan industri menyerap hasil panen. Sentimen pasar terhadap komoditas ini cenderung positif, tetapi tanpa eksekusi yang rapi, proyeksi optimistis bisa berujung pada kelebihan pasokan.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Keberhasilan ambisi ini akan diukur bukan hanya dari angka produksi, melainkan dari indeks nilai tambah dan kesejahteraan pembudidaya. Pemerintah perlu memastikan bahwa rantai pasok dari petani hingga pabrik berjalan efisien, termasuk penyediaan bibit unggul, pendampingan teknis, dan akses pasar yang stabil. Tanpa itu, target nomor satu dunia hanya akan menjadi simbol tanpa dampak nyata.

Investor dan pelaku usaha disarankan mencermati arah kebijakan hilirisasi ini secara berkala, terutama terkait insentif fiskal dan kemudahan investasi di sektor pengolahan. Bagi pembaca awam, isu ini penting karena menyangkut harga pangan, lapangan kerja, dan posisi Indonesia di perdagangan global. Pada akhirnya, pertarungan bukan sekadar siapa yang paling banyak memanen, tetapi siapa yang paling cerdas mengolah dan memasarkannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User