Oct 09, 2026
Bisnis

Harga Telur Anjlok, DPR Janji Sampaikan Aspirasi Peternak ke Presiden

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pantauan harga pasar periode terbaru, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam yang menekan margin usaha. Fluktuasi ini menja...

Harga Telur Anjlok, DPR Janji Sampaikan Aspirasi Peternak ke Presiden

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dan pantauan harga pasar periode terbaru, harga telur ayam ras di tingkat peternak mengalami penurunan tajam yang menekan margin usaha. Fluktuasi ini menjadi sorotan karena telur merupakan salah satu komoditas pangan strategis penyumbang inflasi volatile food, sekaligus sumber protein terjangkau bagi masyarakat luas.

Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, menyatakan komitmennya untuk meneruskan keluhan para peternak ayam petelur mengenai anjloknya harga jual di tingkat kandang kepada Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut mencuat setelah sejumlah asosiasi peternak mengeluhkan bahwa harga yang mereka terima tidak lagi menutup biaya produksi atau cost of production.

Di Satu Sisi: Peternak Menanggung Beban Biaya yang Tak Turun

Di satu sisi, penurunan harga telur di tingkat peternak menempatkan pelaku usaha kecil dan menengah dalam posisi rentan. Struktur biaya produksi peternak rakyat sebagian besar ditentukan oleh harga pakan, terutama jagung dan konsentrat, yang porsinya dapat mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional. Ketika harga jual telur turun sementara harga pakan relatif kaku alias sticky, maka rasio margin peternak langsung tertekan.

Sejumlah asosiasi melaporkan harga di tingkat kandang sempat berada di kisaran Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram, sementara biaya produksi diperkirakan mendekati Rp22.000 per kilogram. Kondisi ini membuat banyak peternak memilih mengurangi populasi ayam petelur atau mempercepat afkir dini, langkah yang dalam jangka menengah berpotensi mengganggu pasokan nasional.

"Keluhan peternak ini kami tampung dan akan kami bawa langsung ke Presiden agar ada solusi yang menyeluruh, bukan hanya jangka pendek," ujar Titiek Soeharto dalam keterangan resminya.

Di Sisi Lain: Harga Murah Menjaga Daya Beli Konsumen

Di sisi lain, harga telur yang lebih rendah memberikan bantalan bagi daya beli rumah tangga. Dalam keranjang konsumsi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, telur berfungsi sebagai substitusi protein hewani lain yang harganya lebih mahal, seperti daging sapi dan ayam ras pedaging. Penurunan harga komoditas ini secara langsung menahan laju inflasi pangan bergejolak.

Pro: konsumen diuntungkan karena harga eceran lebih terjangkau dan inflasi volatile food terjaga. Kontra: produsen di hulu menghadapi tekanan likuiditas dan risiko penurunan kapasitas produksi ke depan. Jika peternak mengurangi populasi secara kolektif, dalam 3 hingga 6 bulan ke depan pasokan bisa mengetat dan harga justru berbalik naik secara tajam.

Dinamika Rantai Pasok dan Sentimen Pasar

Persoalan utama bukan semata level harga, melainkan disparitas antara harga di tingkat peternak dan harga di tingkat konsumen. Rantai distribusi yang panjang, mulai dari pedagang pengumpul, distributor, hingga pengecer, membuat penurunan harga di hulu tidak selalu sepenuhnya tercermin di hilir. Rasio price transmission atau transmisi harga ini menjadi perhatian otoritas karena menyangkut efisiensi pasar dan kesejahteraan kedua sisi.

Dari kacamata fundamental, industri perunggasan nasional masih memiliki prospek jangka panjang seiring pertumbuhan penduduk dan kebutuhan protein. Namun valuasi usaha peternak rakyat sangat sensitif terhadap siklus harga. Setiap fase harga jatuh biasanya diikuti fase pemulihan, tetapi amplitudo siklusnya kerap membuat peternak dengan modal terbatas tidak mampu bertahan.

Menarik dicermati apakah intervensi kebijakan akan menyasar harga pakan, penyerapan oleh industri pengolahan, atau penguatan tata niaga. Kombinasi kebijakan yang tepat diperlukan agar tidak terjadi trade-off berlebihan antara melindungi konsumen dan menjaga keberlanjutan produsen.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Proyeksi ke depan bergantung pada tiga faktor: pertama, arah harga pakan jagung pada musim panen berikutnya; kedua, efektivitas penyerapan oleh industri hilir seperti pabrik pengolahan dan program bantuan pangan; ketiga, respons kebijakan fiskal maupun operasi pasar. Bila ketiganya tidak sinkron, risiko volatilitas harga telur akan kembali berulang.

Secara ringkas, anjloknya harga telur menghadirkan dilema klasik pasar pangan: murah di konsumen, namun menyakitkan di produsen. Aspirasi yang dijanjikan akan disampaikan ke Presiden menjadi titik uji apakah pemerintah mampu merancang kebijakan yang menyeimbangkan perlindungan daya beli masyarakat dengan keberlanjutan usaha peternak nasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User