Pemerintah Dorong Konsep Smart City untuk Wujudkan Kota Berkelanjutan
JAKARTA — Pemerintah terus mendorong penerapan konsep smart city di berbagai daerah sebagai upaya mewujudkan kota berkelanjutan yang ramah lingkungan, efisien, dan berdaya saing. Kementerian Komunikas
JAKARTA — Pemerintah terus mendorong penerapan konsep smart city di berbagai daerah sebagai upaya mewujudkan kota berkelanjutan yang ramah lingkungan, efisien, dan berdaya saing. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mencatat hingga tahun 2024, sebanyak 150 kabupaten/kota telah mengimplementasikan program smart city dengan berbagai inovasi berbasis teknologi.
Transformasi Digital untuk Efisiensi Perkotaan
Konsep smart city mengintegrasikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dalam pengelolaan sumber daya kota. Contohnya, penggunaan Internet of Things (IoT) untuk memantau kualitas udara, sistem transportasi cerdas, dan pengelolaan sampah berbasis sensor. Di Jakarta, penerapan Jakarta Smart City telah berhasil menurunkan konsumsi energi penerangan jalan umum hingga 30% melalui lampu LED pintar yang dikendalikan secara otomatis. Data dari Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang DKI Jakarta menunjukkan penurunan emisi karbon sebesar 15% dalam dua tahun terakhir berkat optimalisasi lalu lintas dan pengurangan kemacetan.
Beberapa inovasi smart city yang mendukung keberlanjutan:
- Sistem pengelolaan sampah terpadu dengan sensor ketinggian tempat sampah di beberapa titik, sehingga pengangkutan lebih efisien.
- Aplikasi pelaporan publik yang memungkinkan warga melaporkan kerusakan infrastruktur secara real-time.
- Pemantauan kualitas air sungai melalui sensor IoT yang terintegrasi dengan pusat kendali.
Tantangan dan Target ke Depan
Meski kemajuannya signifikan, masih terdapat tantangan seperti keterbatasan anggaran, kesenjangan digital antar daerah, dan kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni. Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, menyatakan bahwa pemerintah menargetkan 200 kota/kabupaten menerapkan smart city pada tahun 2025. “Smart city bukan sekadar teknologi, tetapi juga perubahan budaya dan tata kelola. Keberlanjutan lingkungan menjadi ukuran utama keberhasilan,” ujarnya dalam sebuah seminar nasional bulan lalu.
Di sisi lain, konsep kota berkelanjutan juga menekankan partisipasi masyarakat. Misalnya, program bank sampah digital yang terintegrasi dengan aplikasi smart city di Surabaya berhasil meningkatkan daur ulang hingga 25% dalam setahun. Data dari Kemenko PMK menunjukkan bahwa kota-kota dengan indeks smart city tinggi cenderung memiliki kualitas udara lebih baik dan tingkat kebahagiaan warga yang lebih tinggi.
Kolaborasi Multisektor Diperlukan
Pengamat perkotaan dari Universitas Indonesia, Dr. Rini Setiowati, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan akademisi. “Smart city yang berkelanjutan membutuhkan pendekatan holistik, termasuk regulasi yang mendukung, investasi infrastruktur hijau, dan literasi digital warga,” katanya. Pemerintah sendiri telah menyusun Roadmap Smart City 2020-2045 yang mencakup target net zero emission pada sektor perkotaan di tahun 2045.
Dengan semakin banyaknya kota yang mengadopsi konsep ini, harapan akan terciptanya lingkungan perkotaan yang lebih layak huni semakin terbuka. Inovasi seperti penggunaan kendaraan listrik dalam sistem transportasi publik dan bangunan hemat energi menjadi langkah konkret menuju masa depan perkotaan yang lebih berkelanjutan.
Comments (0)