Oct 06, 2026
Bisnis

Peluang Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB) atau nilai total barang dan jasa...

Peluang Hijau di Tengah Tekanan Ekonomi

Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB) atau nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu, mengalami kenaikan sebesar 5,02% secara year-on-year (perbandingan antara periode yang sama di tahun sebelumnya) pada kuartal II tahun 2025. Namun, angka ini lebih rendah dibandingkan dengan capaian kuartal II tahun 2024 yang berada di angka 5,11%. Di tengah perlambatan tersebut, salah satu tren (arah pergerakan suatu variabel dalam jangka waktu tertentu) yang mulai menguat adalah pergeseran alokasi modal (uang yang digunakan untuk menghasilkan keuntungan) menuju kegiatan ekonomi yang berorientasi pada keberlanjutan. Pergeseran ini tidak terlepas dari perubahan fundamental (kondisi dasar ekonomi yang memengaruhi nilai jangka panjang) perekonomian global, yang turut memengaruhi sentimen pasar (sikap dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi) domestik.

Perubahan tersebut dapat dilihat dari pergerakan indeks (ukuran statistik yang menggambarkan pergerakan sekelompok variabel) harga saham berbasis lingkungan di pasar domestik, yang mengalami kenaikan sebesar 12,7% secara year-on-year hingga September 2025. Angka ini jauh melampaui kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang hanya mengalami kenaikan sebesar 3,9% pada periode yang sama. Fenomena ini menunjukkan adanya realokasi dalam portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh suatu pihak) pelaku pasar, sekaligus menimbulkan proyeksi (perkiraan kondisi di masa mendatang berdasarkan data yang ada) bahwa kegiatan ekonomi berkelanjutan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi Indonesia.

Di Satu Sisi: Dorongan Struktural untuk Bertransisi

Di satu sisi, terdapat sejumlah dorongan struktural yang mendorong perluasan kegiatan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. Dorongan pertama berasal dari kebijakan fiskal dan moneter (kebijakan yang berkaitan dengan pengeluaran negara serta suku bunga dan likuiditas, yaitu ketersediaan uang tunai atau aset yang mudah dicairkan di pasar). Bank Indonesia mencatat bahwa rasio (perbandingan antara dua angka) pembiayaan hijau terhadap total pembiayaan perbankan mengalami kenaikan dari 9,8% pada Desember 2023 menjadi 12,5% pada Juni 2025. Kenaikan ini menunjukkan bahwa akses terhadap likuiditas untuk kegiatan berkelanjutan terus mengalami kenaikan, meski masih berada di bawah target jangka panjang.

Selain itu, tekanan eksternal turut berperan. Berdasarkan data OJK, terdapat capital outflow (arus keluar modal asing dari suatu negara) bersih sebesar Rp 24,6 triliun pada periode Januari hingga Agustus 2025, yang sebagian besar dipengaruhi oleh penguatan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil obligasi global. Kondisi ini memicu sentimen pasar yang lebih selektif terhadap negara berkembang. Di tengah tekanan tersebut, negara dengan fundamental yang kuat, khususnya yang mampu menunjukkan valuasi (perkiraan nilai wajar suatu aset) yang terjaga serta komitmen terhadap transisi ekonomi, cenderung lebih mampu mempertahankan daya tarik modal jangka panjang. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa alokasi modal berkelanjutan mulai mendapatkan perhatian, khususnya pada sektor-sektor yang memiliki peran strategis terhadap struktur ekonomi Indonesia.

Lima Sektor Strategis yang Menyimpan Peluang

Berdasarkan proyeksi kebutuhan transisi, terdapat lima sektor yang berpotensi menjadi titik tekan bagi perluasan ekonomi berkelanjutan. Pertama, sektor energi. Energi merupakan kebutuhan dasar, namun hingga tahun 2024, BPS mencatat bahwa batu bara masih menyumbang 40,7% terhadap bauran energi primer (total energi yang digunakan secara langsung) Indonesia. Tren dekarbonisasi (pengurangan emisi karbon dioksida) global dapat memengaruhi valuasi aset berbasis fosil, namun di sisi lain, kebutuhan energi domestik diproyeksikan mengalami kenaikan sebesar 3,8% per tahun hingga tahun 2030, sehingga transisi perlu berjalan secara bertahap.

Kedua, sektor pertanian. Sektor ini menyerap 28,6% tenaga kerja Indonesia berdasarkan data Sakernas BPS Agustus 2024, menjadikannya sektor dengan penyerapan tenaga kerja terbesar. Praktik pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan produktivitas, namun membutuhkan biaya awal yang relatif tinggi bagi petani skala kecil, sehingga perlu mempertimbangkan rasio biaya dan manfaat secara menyeluruh. Ketiga, sektor manufaktur. Industri pengolahan berkontribusi sebesar 18,3% terhadap PDB Indonesia pada kuartal II tahun 2025. Permintaan pasar global terhadap produk dengan jejak karbon (jumlah emisi yang dihasilkan untuk memproduksi suatu barang) yang lebih rendah mengalami kenaikan, namun hal ini dapat menekan daya saing jangka pendek bagi industri yang masih bergantung pada energi berbasis karbon.

Keempat, sektor transportasi. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah kendaraan bermotor di Indonesia mengalami kenaikan sebesar 6,1% secara year-on-year pada tahun 2024. Peningkatan ini turut berkontribusi terhadap konsumsi energi dan emisi. Pengembangan transportasi rendah emisi dapat mengurangi tekanan tersebut, namun membutuhkan perluasan infrastruktur yang memerlukan alokasi likuiditas dalam jumlah besar. Kelima, sektor bangunan dan infrastruktur. Hingga tahun 2025, sektor konstruksi berkontribusi sebesar 9,9% terhadap PDB. Bangunan hemat energi dapat menekan konsumsi jangka panjang, namun memiliki siklus pengembalian modal yang lebih panjang, yang dapat memengaruhi valuasi proyek di tengah sentimen pasar yang cenderung berorientasi pada hasil jangka pendek.

Di Sisi Lain: Kendala yang Tidak Dapat Diabaikan

Di sisi lain, perluasan ekonomi berkelanjutan juga dihadapkan pada kendala yang cukup besar. Dari sisi makro, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih perlu diwaspadai. Bank Indonesia mencatat bahwa rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mengalami depresiasi (penurunan nilai mata uang terhadap mata uang lain) sebesar 2,8% secara year-on-year hingga September 2025. Depresiasi ini dapat membatasi ruang bagi likuiditas domestik, khususnya ketika dibarengi dengan capital outflow seperti yang terjadi pada awal tahun ini.

Selain itu, terdapat tantangan dalam pembiayaan. Meskipun rasio pembiayaan hijau mengalami kenaikan, totalnya masih relatif terbatas untuk menutup kebutuhan transisi. Berdasarkan proyeksi yang dihitung berdasarkan kebutuhan infrastruktur rendah karbon, dibutuhkan alokasi modal yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun hingga tahun 2030. Kebutuhan ini jauh melampaui kapasitas pembiayaan hijau saat ini, sehingga akan membutuhkan perluasan sumber likuiditas, termasuk melalui pasar modal. Namun, perluasan tersebut perlu diimbangi dengan kehati-hatian, mengingat tingginya kebutuhan dapat memengaruhi rasio pembiayaan berisiko jika tidak dikelola dengan baik.

Tantangan lainnya terletak pada kesiapan fundamental sektor riil. Sebagian besar pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang berdasarkan data BPS tahun 2024 berkontribusi sebesar 61,1% terhadap PDB dan menyerap 96,9% tenaga kerja, masih menghadapi kendala akses pembiayaan dan literasi terkait praktik berkelanjutan. Tanpa peningkatan kapasitas ini, tren transisi dapat memperlebar kesenjangan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi sentimen pasar dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Implikasi Terhadap Ekonomi Makro Jangka Panjang

Melihat kedua sisi tersebut, pergeseran menuju ekonomi berkelanjutan dapat berdampak terhadap beberapa indikator makro. Dari sisi neraca (catatan posisi keuangan suatu negara atau entitas), alokasi modal yang terarah berpotensi meningkatkan daya tarik investasi jangka panjang, yang dapat membantu meredam tekanan capital outflow. Hal ini dapat mendukung stabilitas nilai tukar, yang pada gilirannya menjaga likuiditas dan menekan tekanan inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan).

Namun, dampak tersebut tidak bersifat otomatis. Jika transisi berjalan terlalu cepat tanpa memperhitungkan fundamental sektor riil, dapat terjadi tekanan terhadap biaya produksi, yang dapat memengaruhi rasio daya saing dan menekan pertumbuhan. Sebaliknya, jika transisi berjalan terlalu lambat, risiko terhadap valuasi aset berbasis karbon dapat meningkat, yang juga dapat memengaruhi portofolio pelaku pasar. Oleh karena itu, proyeksi pertumbuhan jangka menengah akan sangat bergantung pada kemampuan untuk menyeimbangkan kedua tekanan ini.

Transisi ekonomi berkelanjutan merupakan proses penyeimbangan antara kebutuhan pertumbuhan jangka pendek dan ketahanan jangka panjang. Keberhasilannya terletak pada kecepatan yang terukur, bukan pada kecepatan yang terburu-buru.

Dengan mempertimbangkan data yang ada, tren pergeseran modal menuju kegiatan berkelanjutan telah terkonfirmasi melalui kenaikan indeks saham hijau, peningkatan rasio pembiayaan hijau, serta perubahan sentimen pasar. Namun, realisasi peluang ini akan bergantung pada kemampuan untuk mengatasi kendala likuiditas, kesiapan sektor riil, dan tekanan eksternal. Tanpa penanganan terhadap kendala tersebut, peluang yang ada berpotensi terhambat, meski fundamental jangka panjang tetap menunjukkan arah yang positif bagi perekonomian Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User