Pay Later Tumbuh 57,02 Persen, Peluang Ekonomi atau Risiko?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, nilai pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang populer disebut pay later mengalami kenaikan 57,02 persen year-on-year (yoy). Pertumbuh...

Aug 12, 2026 - 03:14
0 0
Pay Later Tumbuh 57,02 Persen, Peluang Ekonomi atau Risiko?

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, nilai pembiayaan Buy Now Pay Later (BNPL) atau yang populer disebut pay later mengalami kenaikan 57,02 persen year-on-year (yoy). Pertumbuhan ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di segmen pembiayaan konsumsi dan menegaskan perubahan perilaku belanja masyarakat yang semakin mengandalkan cicilan tanpa kartu kredit. Secara sederhana, BNPL adalah fasilitas pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang terlebih dahulu, lalu membayarnya kemudian, baik dalam sekali bayar maupun cicilan beberapa bulan.

Tren kenaikan ini terjadi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi berada pada kisaran 2,5 persen yoy, sementara Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam kondisi seperti itu, sebagian rumah tangga memanfaatkan pay later untuk menjaga likuiditas kas bulanan tanpa harus menguras tabungan, terutama untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak.

Faktor Fundamental di Balik Lonjakan Pay Later

Ada sejumlah faktor fundamental yang mendorong pertumbuhan dua digit ini. Pertama, penetrasi perdagangan elektronik (e-commerce) yang terus meluas membuat fitur pay later terintegrasi langsung di berbagai platform belanja daring, layanan transportasi, hingga pemesanan tiket. Kedua, penetrasi kartu kredit di Indonesia yang masih rendah, diperkirakan di bawah 5 persen dari populasi dewasa, menciptakan ruang besar bagi BNPL sebagai alternatif pembiayaan. Ketiga, struktur demografi yang didominasi generasi muda melek digital mempercepat adopsi. Proses pengajuan yang cepat, tanpa agunan, dan cukup bermodal identitas diri menjadi daya tarik utama dibandingkan kredit konvensional yang prosedurnya lebih panjang.

Di Satu Sisi: Stimulus Konsumsi dan Inklusi Keuangan

Di satu sisi, pertumbuhan BNPL memberikan dampak positif bagi perekonomian. Konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 53 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga kemudahan akses pembiayaan berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan di kisaran 5 persen. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di platform digital, kehadiran pay later terbukti meningkatkan nilai transaksi dan tingkat konversi penjualan. Dari sisi inklusi keuangan, BNPL membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang selama ini tidak terjangkau layanan perbankan formal. Sentimen pasar terhadap industri teknologi finansial juga membaik, tercermin dari membesarnya portofolio pembiayaan perusahaan multifinance dan fintech lending yang menggandeng penyedia pay later.

Di Sisi Lain: Risiko Kredit Macet dan Perilaku Konsumtif

Di sisi lain, lonjakan 57,02 persen memicu kekhawatiran sejumlah kalangan. Risiko pertama adalah potensi kredit bermasalah atau non-performing financing (NPF), yakni kondisi ketika konsumen gagal membayar cicilan sesuai jadwal. Semakin agresif ekspansi, semakin besar pula kemungkinan rasio pembiayaan macet ikut terkerek. Risiko kedua adalah perilaku konsumtif; kemudahan berutang dapat mendorong pembelian barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, sehingga menambah beban keuangan rumah tangga. Risiko ketiga adalah praktik meminjam di banyak platform sekaligus yang membuat total kewajiban melebihi kemampuan bayar. Regulator sebenarnya telah menetapkan pagar, antara lain batas usia minimal 18 tahun dan penghasilan minimal Rp3 juta per bulan bagi pengguna, namun efektivitas pengawasan di lapangan tetap menjadi tantangan.

Proyeksi dan Arah Kebijakan ke Depan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan BNPL diperkirakan tetap tinggi meski lajunya berpotensi melambat seiring membesarnya basis perhitungan. Kunci keberlanjutan industri ini terletak pada kualitas penilaian kredit (credit scoring) berbasis data alternatif, transparansi biaya dan bunga kepada konsumen, serta literasi keuangan pengguna. Bagi pelaku industri, valuasi perusahaan penyedia pay later akan sangat bergantung pada kemampuan menjaga rasio kredit macet tetap rendah sembari menumbuhkan portofolio secara sehat. Bagi konsumen, prinsip dasar yang perlu dipegang adalah memastikan total cicilan bulanan tidak melebihi 30 persen dari penghasilan. Dengan keseimbangan antara ekspansi dan kehati-hatian, pay later dapat menjadi instrumen pembiayaan yang produktif, bukan sekadar pendorong konsumsi jangka pendek.

Secara keseluruhan, pertumbuhan 57,02 persen yoy pada Juni 2026 perlu dibaca secara berimbang: sebagai sinyal positif bagi inklusi keuangan dan konsumsi, sekaligus pengingat akan pentingnya manajemen risiko. Fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil memberikan ruang bagi industri ini untuk tumbuh, tetapi kewaspadaan terhadap kualitas kredit dan perlindungan konsumen harus tetap menjadi prioritas semua pihak.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User