Sep 17, 2026
Nasional

Pakar Neurologi Peringatkan Bahaya Paparan Polusi Suara bagi Tubuh

Di balik hiruk-pikuk metropolitan dan gemuruh lalu lintas yang tiada henti, tersimpan ancaman biologis yang kerap diabaikan masyarakat modern. Rangsangan s

Pakar Neurologi Peringatkan Bahaya Paparan Polusi Suara bagi Tubuh

Di balik hiruk-pikuk metropolitan dan gemuruh lalu lintas yang tiada henti, tersimpan ancaman biologis yang kerap diabaikan masyarakat modern. Rangsangan suara berlebih—mulai dari deru mesin kendaraan, kebisingan industri, hingga dentuman audio personal bertegangan tinggi—terbukti secara klinis bukan sekadar gangguan kenyamanan, melainkan pemicu utama disrupsi saraf dan stres sistemik pada tubuh manusia.

Investigasi klinis menunjukkan bahwa paparan stimulus auditori di luar ambang batas toleransi tubuh secara terus-menerus memaksa otak berada dalam status siaga permanen. Gelombang suara yang intens mengaktifkan respons neuroendokrin, memicu pelepasan hormon stres yang pada akhirnya merusak keseimbangan biologis secara perlahan namun pasti.

Mekanisme Biologis: Dari Koklea hingga Lonjakan Kortisol

Spesialis Neurologi Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Brigjen TNI (Purn) dr. Sholihul, memaparkan bahwa pemrosesan suara di otak terhubung langsung dengan sistem limbik yang mengatur emosi dan respons bertahan hidup. Ketika getaran suara frekuensi tinggi atau intensitas ekstrem menembus koklea, sinyal elektrik tidak hanya dikirim ke korteks pendengaran, melainkan langsung menyulut amigdala dan hipotalamus.

"Respons fisiologis terhadap kebisingan berlebih adalah alarm otomatis tubuh. Otak membaca desibel tinggi sebagai ancaman predatorik, mengaktifkan sistem saraf simpatik yang berujung pada lonjakan hormon kortisol dan adrenalin," jelas dr. Sholihul dalam kajian neurologinya.

Kondisi ini memicu rantai reaksi berbahaya: detak jantung meningkat drastis, pembuluh darah menyempit, dan tekanan darah melonjak tajam. Jika stimulasi berlebih ini berlangsung harian (kronis), tubuh kehilangan kemampuan homeostasis, memicu sindrom kelelahan adrenal dan kerusakan pembuluh darah mikro.

Dampak Ambang Batas Kebisingan terhadap Kesehatan

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan pakar neurosains mengklasifikasikan paparan suara berdasarkan dampaknya terhadap fungsi fisiologis dan psikologis manusia:

Tingkat Kebisingan (dB) Contoh Sumber Suara Dampak Neurologis & Fisiologis
40 – 50 dB Percakapan tenang, ruang perpustakaan Batas aman ideal untuk pemulihan mental dan tidur berkualitas.
60 – 75 dB Lalu lintas kota, kantor ramai, restoran Memicu kelelahan mental, gangguan konsentrasi, dan ketegangan otot ringan.
85+ dB Suara knalpot brong, konser, earphone volume penuh Risiko kerusakan sel rambut koklea permanen, lonjakan tajam kortisol, hipertensi.

Gejala Stres Akustik yang Kerap Diabaikan

Paparan polusi suara tidak selalu berwujud gangguan pendengaran langsung seperti tinitus (telinga berdenging). Kerusakan neurologis sering kali bermanifestasi dalam berbagai gejala psikosomatis yang samar:

  • Insomnia dan Kualitas Tidur Rendah: Otak tetap memproses suara saat tidur, mencegah tercapainya fase deep sleep (NREM fase 3).
  • Kabut Otak (Brain Fog) dan Penurunan Kognitif: Beban sensorik berlebih menguras energi korteks prefrontal yang bertanggung jawab atas logika dan fokus.
  • Hipertensi dan Takikardia: Ketegangan vaskular yang dipicu oleh stimulasi suara mendadak berulang kali.
  • Iritabilitas dan Ketidakstabilan Emosi: Kelelahan sistem limbik akibat bombardir auditori tanpa jeda hening.

Untuk menekan risiko degenerasi saraf akibat kebisingan, para ahli menyarankan penerapan "higiene akustik" harian. Langkah mitigasi mencakup pembatasan penggunaan earphone dengan aturan 60/60 (volume maksimal 60 persen selama maksimal 60 menit per sesi), pemanfaatan peredam suara di ruang kerja, serta meluangkan waktu hening (sensory detox) minimal 30 menit setiap hari demi memberi kesempatan bagi sistem saraf pusat untuk melakukan regenerasi.

Spesialis Neurologi RSPAD Gatot Soebroto memperingatkan bahwa paparan suara di atas 75 dB secara terus-menerus memaksa otak dalam mode siaga predatorik, memicu stres kronis dan gangguan kognitif. Baca analisis medis lengkapnya di Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User