Aug 28, 2026
Bisnis

Omset Rp 125 Juta, UMKM Oleh-Oleh Jakarta Siap Ekspor ke Jepang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia ke Jepang tercatat US$ 1,9 miliar pada paruh pertama tahun berjalan, mengalami kenaikan 3,2 persen year-on-year di...

Omset Rp 125 Juta, UMKM Oleh-Oleh Jakarta Siap Ekspor ke Jepang

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026, nilai ekspor Indonesia ke Jepang tercatat US$ 1,9 miliar pada paruh pertama tahun berjalan, mengalami kenaikan 3,2 persen year-on-year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja itu turut disokong perbaikan tren pengiriman produk makanan dan minuman olahan, komoditas yang selama ini menjadi tulang punggung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Di tengah geliat tersebut, Neng Mae, produsen oleh-oleh khas Jakarta milik Umairah, membukukan omset Rp 125 juta per bulan dan tengah menyiapkan diri menembus Negeri Sakura.

Neng Mae: Dari Dapur Rumah ke Jaringan Produksi

Umairah mengawali Neng Mae dari dapur rumahnya di Jakarta. Bermodal resep keluarga dan peralatan sederhana, ia meracik aneka camilan serta makanan khas Betawi yang selama ini hanya dikenal di pasar-pasar tradisional. Perlahan, permintaan mengalir dari tetangga, kantor, hingga acara pernikahan. Keputusan untuk naik kelas diambil ketika pesanan mulai melampaui kapasitas produksi rumahan.

Kini produksi Neng Mae tidak lagi dikerjakan sendirian. Umairah memberdayakan puluhan perajin rumahan, sebagian besar ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggalnya, untuk menangani tahap pengemasan hingga penyiapan bahan baku. Model ini membuat omsetnya mengalami kenaikan dari sekitar Rp 40 juta pada 2023 menjadi Rp 125 juta per bulan saat ini, atau tumbuh lebih dari 200 persen dalam tiga tahun terakhir. Dengan asumsi margin bersih di kisaran 15–20 persen, pendapatan bersih usaha ini diperkirakan mencapai belasan juta rupiah per bulan.

Istilah omset merujuk pada total nilai penjualan sebelum dikurangi biaya produksi, gaji, dan operasional. Artinya, angka Rp 125 juta itu menggambarkan skala aktivitas usaha, bukan keuntungan yang langsung masuk kantong pemilik. Pemahaman ini penting agar publik tidak menilai kesehatan finansial UMKM hanya dari sisi pendapatan kotor.

Peluang dan Tantangan di Negeri Sakura

Di satu sisi, pasar Jepang menawarkan peluang yang menggiurkan. Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dengan permintaan yang stabil terhadap produk rempah, makanan ringan, dan cita rasa Asia Tenggara. Tren wisatawan Jepang yang berkunjung ke Indonesia juga mengalami kenaikan setiap tahun, membangun familiaritas terhadap oleh-oleh khas Jakarta sebelum produknya benar-benar hadir di rak ritel Jepang.

Di sisi lain, jalan menuju pasar Jepang tidak mulus. Negeri Sakura dikenal memiliki standar keamanan pangan yang ketat, mencakup sertifikasi halal, label gizi berbahasa Jepang, hingga jaminan masa simpan produk yang panjang. Biaya sertifikasi, redesain kemasan, logistik pendingin, dan kepatuhan bea cukai bisa menggerus margin bila tidak dihitung cermat. Risiko lain datang dari preferensi rasa yang berbeda serta persaingan dengan produsen lokal Jepang yang telah menguasai distribusi.

Para pengamat menilai kesiapan ekspor UMKM tidak cukup diukur dari besarnya omset dalam negeri.

"Omset Rp 125 juta per bulan menunjukkan kapasitas produksi yang sehat, tetapi ekspor membutuhkan ketahanan modal kerja, likuiditas untuk membiayai pengiriman, dan konsistensi mutu selama berbulan-bulan," ujar seorang pengamat UMKM yang memantau sektor pangan olahan. "Tanpa tiga hal itu, risiko gagal kirim dan penolakan produk di pelabuhan menjadi tinggi."

Fundamental UMKM dan Proyeksi ke Depan

Kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional memang tidak bisa diabaikan. Sektor ini menyumbang sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen tenaga kerja, menurut data Kementerian Koperasi dan UKM. Namun, porsi ekspor langsung UMKM masih rendah, jauh di bawah kontribusinya terhadap lapangan kerja. Inilah yang membuat kisah Neng Mae menjadi menarik: ia mencoba menjembatani kesenjangan antara kapasitas produksi lokal dan permintaan pasar global.

Dari sisi fundamental, usaha ini memiliki keunggulan berupa bahan baku lokal, tenaga kerja yang tersedia, dan permintaan domestik yang stabil. Namun, skala produksi Rp 125 juta per bulan masih tergolong kecil untuk memenuhi kontrak ekspor rutin. Proyeksi paling realistis adalah memulai dari skema ekspor terbatas — misalnya melalui kerja sama dengan pembeli Jepang yang sudah memiliki jaringan distribusi — sebelum membangun kanal penjualan sendiri.

Bagi pelaku UMKM lain yang ingin mengikuti jejak serupa, prinsipnya sederhana: pastikan mutu konsisten, lengkapi dokumen, dan uji pasar dalam skala kecil terlebih dahulu. Perluasan ke pasar ekspor sebaiknya bertahap agar arus kas tidak terganggu, mengingat siklus pembayaran lintas negara bisa berlangsung lebih lama dibandingkan penjualan domestik.

Catatan Analis

Kisah Neng Mae menunjukkan bahwa oleh-oleh khas daerah tidak harus berhenti di pasar domestik. Namun, keberhasilan ekspor tidak diukur dari gengsi atau pemberitaan, melainkan dari keberlanjutan pengiriman, kepuasan pembeli, dan kemampuan menghasilkan laba. Di satu sisi, pencapaian omset Rp 125 juta per bulan patut diapresiasi sebagai bukti permintaan pasar yang nyata. Di sisi lain, ekspor ke Jepang masih membutuhkan investasi besar pada sertifikasi dan logistik yang belum tentu segera kembali dalam jangka pendek.

Dengan pengelolaan yang hati-hati, proyeksi jangka menengah tetap positif: pasar Jepang terbuka, dukungan pemerintah terhadap ekspor UMKM terus bertambah, dan tren konsumsi produk dengan cerita lokal sedang naik. Yang dibutuhkan kini adalah eksekusi yang disiplin, bukan sekadar sentimen pasar sesaat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User