Aug 28, 2026
Bisnis

Dua Dekade Rosidah Besarkan Usaha Gula Merah Berkat KUR BRI

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2026, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melanjutkan tren ekspansi dengan pertumbuhan year-on-year yang stabil, setelah tahun 2024 di...

Dua Dekade Rosidah Besarkan Usaha Gula Merah Berkat KUR BRI

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juli 2026, realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) melanjutkan tren ekspansi dengan pertumbuhan year-on-year yang stabil, setelah tahun 2024 ditutup pada angka Rp 280,45 triliun atau melampaui target pemerintah saat itu. Besaran itu penting karena KUR menjadi jalur utama pembiayaan bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sektor yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dan menyerap 97 persen dari total tenaga kerja nasional. Namun, di balik statistik makro itu tersimpan kisah-kisah mikro yang tidak kalah bermakna. Salah satunya datang dari Sumenep, Madura, tempat Rosidah, seorang perajin gula merah, menghabiskan dua dekade membesarkan usahanya dengan mengandalkan pembiayaan KUR dari BRI.

Dua Dekade dari Dapur Kecil ke Pasar Lebih Luas

Rosidah mengawali usahanya hampir dua puluh tahun lalu dari skala rumah tangga. Awalnya, produksi gula merahnya hanya mengandalkan satu tungku sederhana dengan kapasitas sekitar 300 kilogram per bulan, dan pemasarannya terbatas pada tetangga serta pasar kecamatan. Gula merah dari nira lontar dan aren memang produk khas Madura, tetapi tanpa modal yang cukup, volume produksi sulit ditingkatkan. Titik balik datang ketika Rosidah memutuskan memanfaatkan KUR BRI, pertama kali dengan plafon yang relatif kecil untuk membeli peralatan pengolahan dan menambah pasokan bahan baku nira dari petani sekitar.

Dari sana, skala usahanya berubah secara bertahap. Kapasitas produksi naik hingga tiga kali lipat, dan omzet bulanan mengalami kenaikan yang konsisten dari tahun ke tahun. Saat ini Rosidah mempekerjakan belasan tenaga kerja dari lingkungan sekitarnya, membeli nira dari puluhan petani penyadap, dan memasarkan gula merahnya tidak hanya di Sumenep tetapi juga ke sejumlah kota di Jawa Timur. Dengan kata lain, satu keputusan pembiayaan di tingkat rumah tangga ikut menggerakkan mata rantai ekonomi di desa: petani nira kebagian penghasilan rutin, pekerja kebagian upah, dan keluarga Rosidah menikmati perbaikan kesejahteraan yang nyata, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.

Angka Kecil, Dampak Berlapis

Kisah Rosidah sejatinya sejalan dengan data agregat. Secara fundamental, KUR dirancang sebagai kredit bersubsidi dengan bunga sekitar 6 persen per tahun, lebih rendah daripada kredit komersial, dan untuk plafon tertentu tidak memerlukan agunan tambahan. Skema ini menurunkan hambatan masuk bagi pelaku usaha kecil yang umumnya tidak memiliki aset untuk dijaminkan. Likuiditas yang mengalir melalui KUR juga membuat perajin seperti Rosidah mampu membeli bahan baku secara lebih besar, sehingga rasio biaya produksi per unit cenderung turun dan margin usaha membaik.

Namun, dampak positif itu tidak datang tanpa syarat. OJK dan perbankan berulang kali menekankan bahwa keberlanjutan KUR bergantung pada disiplin membayar dan kemampuan mengelola arus kas. Sentimen pasar terhadap sektor UMKM juga masih beragam: di satu sisi lembaga keuangan melihatnya sebagai segmen yang menjanjikan, di sisi lain risiko gagal bayar tetap menjadi perhatian pengawas. Karena itu, peningkatan literasi keuangan menjadi penentu sejauh mana kredit bersubsidi ini benar-benar menciptakan nilai jangka panjang, bukan sekadar suntikan likuiditas jangka pendek.

Di Satu Sisi Manfaat, di Sisi Lain Tantangan

Analisis terhadap keberhasilan Rosidah tidak boleh berhenti pada satu sisi. Pro dari skema KUR sudah terlihat: akses modal murah, tanpa agunan untuk plafon kecil, proses yang semakin digital, dan dampak berganda pada penyerapan tenaga kerja. Data menunjukkan proporsi penyaluran KUR ke sektor produksi seperti pertanian, perikanan, dan pengolahan terus dijaga agar nilai tambahnya tidak bocor ke sektor konsumtif.

Kontranya pun nyata. Pertama, ketergantungan pada bunga bersubsidi membuat perajin rentan jika skema diubah atau plafon dibatasi. Kedua, harga gula merah sangat dipengaruhi fluktuasi pasokan nira yang bergantung pada musim dan cuaca. Ketiga, persaingan dengan gula rafinasi dan produk pemanis lain menekan harga jual di tingkat perajin. Keempat, tanpa pencatatan keuangan yang rapi, perajin sulit naik kelas ke pembiayaan komersial ketika kebutuhan modalnya melampaui plafon KUR.

"Keberhasilan UMKM seperti Rosidah membuktikan bahwa KUR efektif sebagai pintu masuk pembiayaan. Tantangannya adalah bagaimana mengawal penerima agar naik kelas, dari ketergantungan subsidi menuju pembiayaan yang berkelanjutan," ujar seorang ekonom yang mengamati perkembangan UMKM di Jawa Timur.

Proyeksi dan Pelajaran bagi Ekosistem

Ke depan, pemerintah dan perbankan memproyeksikan penyaluran KUR nasional terus meningkat, dengan target yang kembali dinaikkan pada 2026 seiring membaiknya fundamental ekonomi domestik. Bagi ekosistem UMKM, kisah dua dekade Rosidah memberi pelajaran penting: pembiayaan adalah alat, bukan tujuan. Keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh kombinasi akses modal, kapasitas produksi, pembukuan yang tertib, dan kemampuan membaca pasar.

Di sisi lain, pemerintah daerah dan perbankan perlu memastikan pendampingan berjalan seiring penyaluran kredit, termasuk pelatihan pengemasan, sertifikasi produk, dan perluasan kanal pemasaran digital. Jika itu terjadi, cerita seperti Rosidah tidak akan menjadi pengecualian, melainkan bagian dari tren yang lebih luas: UMKM yang tumbuh bukan hanya dari suntikan dana, tetapi dari pengelolaan yang sehat dan berkelanjutan. Pada akhirnya, angka makro yang besar hanya bermakna jika sampai pada kesejahteraan di tingkat yang paling kecil.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User