Sep 16, 2026
Nasional

NEW DELHI — Prabowo Temui Putin dan Xi Jinping di KTT BRICS

Di tengah eskalasi geopolitik global dan dinamika ekonomi kawasan, langkah diplomasi luar negeri Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Dalam perhelata

NEW DELHI — Prabowo Temui Putin dan Xi Jinping di KTT BRICS

Di tengah eskalasi geopolitik global dan dinamika ekonomi kawasan, langkah diplomasi luar negeri Indonesia kembali mencuri perhatian dunia. Dalam perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-18 yang berlangsung di New Delhi, India, Sabtu (12/9), Presiden Prabowo Subianto terekam kamera melakukan perbincangan hangat nan akrab dengan jajaran pemimpin utama dunia. Di sela-sela agenda formal, Prabowo tampak berdiskusi intensif bersama Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Tiongkok Xi Jinping, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Momen interaksi informal tersebut menjadi sorotan tajam para pengamat geopolitik internasional. Langkah ini dinilai bukan sekadar gestur kesopanan diplomatik biasa, melainkan cerminan dari strategi diplomasi bebas-aktif Indonesia yang makin bertenaga di tengah arus polarisasi kekuatan Barat dan blok negara-negara berkembang (Global South).

Kronologi Diplomasi Informal di New Delhi

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi acara serta informasi yang dihimpun tim reportase Beritadua.com, rangkaian perbincangan akrab tersebut berlangsung dalam beberapa tahapan krusial selama gelaran KTT BRICS ke-18:

  1. Sesi Pengondisian Awal (Sabtu Pagi, 12/9): Presiden Prabowo tiba di Bharat Mandapam International Exhibition-Convention Centre, New Delhi, dan disambut langsung oleh Perdana Menteri Narendra Modi sebagai tuan rumah penyelenggara KTT.
  2. Sela-sela Holding Room (Sabtu Siang): Sebelum sesi pleno dimulai, Presiden Prabowo terlibat percakapan santai namun substantif di ruang tunggu khusus bersama Presiden Xi Jinping. Kedua pemimpin membahas penguatan kemitraan strategis komprehensif antara Indonesia dan Tiongkok.
  3. Momentum Gala Dinner dan Foto Bersama (Sabtu Malam): Di sinilah momen keakraban puncak terjadi. Presiden Vladimir Putin bergabung dalam lingkaran diskusi bersama Prabowo, Xi Jinping, dan Narendra Modi. Keempatnya terlihat tersenyum lepas sambil mendiskusikan stabilitas pasokan pangan dan energi dunia.

Substansi Pembicaraan: Pangan, Energi, dan Arsitektur Keuangan Global

Investigasi lebih lanjut mengindikasikan bahwa diskusi informal tersebut menyentuh sejumlah topik krusial yang berdampak langsung pada perekonomian nasional Indonesia. Kehadiran Indonesia di forum BRICS kali ini membawa misi penyeimbang untuk memastikan kepentingan nasional tetap terlindungi di tengah ketidakpastian pasar global.

  • Ketahanan Pangan dan Pupuk: Pembicaraan dengan Vladimir Putin mencakup kepastian rantai pasok pupuk dan komoditas pertanian vital dari Rusia ke Indonesia guna menjaga stabilitas harga pangan domestik.
  • Investasi Infrastruktur dan Teknologi: Diskusi dengan Xi Jinping menyoroti kelanjutan investasi manufaktur hijau dan pengembangan rantai pasok baterai kendaraan listrik di tanah air.
  • Kerja Sama Ekonomi Bilateral: Dialog dengan Narendra Modi memperkuat komitmen transaksi perdagangan menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) guna mengurangi ketergantungan pada Dolar AS.
"Kehadiran dan keakraban Presiden Prabowo di antara para pemimpin BRICS menunjukkan bahwa Indonesia memiliki daya tawar geopolitik yang sangat tinggi. Indonesia berhasil menempatkan diri sebagai jembatan komunikasi antara berbagai poros kekuatan dunia tanpa harus mengorbankan prinsip independensi," ujar Dr. Raden Hardjono, pengamat hubungan internasional senior dari Pusat Studi Geopolitik Nusantara.

Implikasi Strategis Posisi Indonesia di Panggung Internasional

Keakraban yang diperlihatkan di New Delhi ini menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci di kawasan Asia dan kelompok negara berkembang. Dalam beberapa tahun terakhir, BRICS terus memperluas pengaruhnya sebagai tandingan dominasi institusi keuangan barat. Langkah Prabowo mendekati para pimpinan BRICS dinilai sangat taktis untuk mengamankan peluang investasi asing langsung (FDI) sekaligus menjaga kestabilan harga komoditas dalam negeri.

Kendati demikian, tantangan diplomasi Indonesia ke depan tidaklah ringan. Pemerintah dituntut untuk tetap menjaga keseimbangan relasi dengan negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, sembari memetik manfaat konkret dari kerja sama erat dengan anggota BRICS. Publik kini menanti langkah konkret lanjutan dari safari diplomasi Presiden Prabowo setelah kepulangannya dari New Delhi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User