Pasar keuangan global kembali bergolak. Harga minyak mentah melonjak tajam pada perdagangan Selasa, sementara bursa saham di Asia dan Amerika Serikat justru terperosok. Pemicunya: pernyataan keras Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang kembali mengancam Iran setelah serangan balasan di Selat Hormuz. Situasi ini mengingatkan para investor bahwa konflik di Timur Tengah masih jauh dari kata usai, dan inflasi yang dipicu kenaikan harga energi bisa kembali menghantui kebijakan bank sentral.
Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke sebuah pulau milik Iran di Selat Hormuz pada Minggu lalu. Iran langsung membalas dengan menyerang sasaran militer AS di Yordania dan Uni Emirat Arab. Trump, dalam pernyataan singkat kepada seorang jurnalis Fox News, berjanji akan merespons keras. "Kami akan menghajar mereka," katanya. "Akan ada balasan."
Dari Perang Militer ke Perang Ekonomi
Setelah enam bulan konflik bersenjata, situasi menemui jalan buntu. Iran terus menutup Selat Hormuz yang strategis, sementara Washington memperketat blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pemerintahan Trump sempat beralih fokus ke "perang ekonomi" dengan meningkatkan sanksi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, "Kami akan terus menekan. Kami sudah melakukan diskusi yang sangat baik di sini." Ia menambahkan bahwa titik balik dalam kampanye tekanan ini bisa terjadi dalam "hitungan minggu atau bulan".
Serangan terbaru di Pulau Larak—yang menurut pejabat AS menargetkan peluncur roket Iran untuk mencegah penanaman ranjau di selat—telah mengoyak kembali ketenangan yang sempat tercipta. Analis National Australia Bank, Rodrigo Catril, menilai, "Sifat aksi yang terkendali menunjukkan kedua pihak tidak secara aktif mencari konflik berkelanjutan. Namun, kebuntuan negosiasi dan pentingnya Selat Hormuz membuat situasi rentan eskalasi."
Minyak Melambung, Bursa Tertekan
Kontrak minyak mentah utama mencatat kenaikan lebih dari dua persen pada Senin, dan melanjutkan tren positif pada Selasa. Harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1,5 persen di sesi Asia. Kekhawatiran akan terganggunya pasokan dari kawasan Teluk mendorong spekulan kembali memburu aset komoditas.
Sebaliknya, indeks saham di Asia sebagian besar tertekan. Tokyo, Hong Kong, Seoul, Shanghai, Sydney, Singapura, dan Wellington ditutup di zona merah. Hanya Taipei, Manila, dan Jakarta yang mencatat penguatan tipis. Di Wall Street, investor menanti data inflasi dan tenaga kerja yang akan dirilis pekan ini menjelang pertemuan Federal Reserve pada 16 September. Pidato hawkish bos The Fed Kevin Warsh pada Jumat lalu telah meningkatkan spekulasi kenaikan suku bunga. Imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2025, sementara imbal hasil obligasi Jepang bertenor 10 tahun menyentuh rekor tertinggi dalam 30 tahun.
Trump Bertemu Eksekutif Kilang, Bensin AS Momok Politik
Di tengah gejolak pasar, Trump dijadwalkan bertemu dengan para eksekutif perusahaan kilang minyak pada Selasa. Pertemuan ini bertujuan mencari cara menekan harga bensin domestik yang meroket—sebuah isu yang menjadi sakit kepala politik bagi Partai Republik menjelang pemilu sela November mendatang. Harga bensin di pompa bensin AS telah melonjak lebih dari 20 persen dalam tiga bulan terakhir, memicu kemarahan konsumen dan tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Sementara itu, di lanskap korporasi, raksasa mode cepat Shein merosot lebih dari sembilan persen pada debut perdagangannya di Hong Kong, meskipun berhasil mengumpulkan US$1,7 miliar dalam penawaran umum perdana (IPO) yang sangat dinanti. Sementara itu, saham MediaTek melonjak hampir 10 persen setelah raksasa teknologi AS Nvidia mengumumkan suntikan dana sebesar US$3,5 miliar ke perusahaan semikonduktor Taiwan tersebut.
Comments (0)