Sep 24, 2026
Bisnis

Mimpi Keliling Dunia Modal Rp50: Saleh-Darmadjati Berakhir Menjadi Gelandangan

Seorang pemuda asal Brebes, Saleh Husein (24), bersama sahabatnya Darmadjati (26), mungkin tak pernah membayangkan bahwa petualangan keliling dunia yang mereka idamkan akan berubah menjadi mimpi buruk...

Mimpi Keliling Dunia Modal Rp50: Saleh-Darmadjati Berakhir Menjadi Gelandangan

Seorang pemuda asal Brebes, Saleh Husein (24), bersama sahabatnya Darmadjati (26), mungkin tak pernah membayangkan bahwa petualangan keliling dunia yang mereka idamkan akan berubah menjadi mimpi buruk. Berbekal tekad dan uang saku hanya Rp50.000 di saku, keduanya memulai perjalanan dengan sepeda pada awal 2026 dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kini, alih-alih pulang sebagai penakluk dunia, mereka justru ditemukan hidup sebagai gelandangan di jalanan kota Lyon, Prancis.

Berawal dari Konten Viral yang Menjanjikan

Keduanya mengaku terinspirasi oleh unggahan media sosial tentang pelancong asing yang sukses menjelajahi benua dengan biaya minim, hanya mengandalkan kemurahan hati warga lokal. "Kami lihat banyak orang asing bisa keliling Eropa hanya modal nol rupiah, cuma ngemis atau jual kalung dan gelang. Kami pikir kenapa tidak?" ujar Saleh saat diwawancarai di KBRI Paris sesaat sebelum pemulangan. Mereka kemudian menjual hampir seluruh harta benda, hanya menyisakan sepeda gunung bekas dan sebuah tenda tipis. Dengan modal seadanya, mereka nekat berlayar menumpang kapal kargo menuju Thailand.

Mimpi mereka sederhana: membuktikan bahwa keterbatasan dana bukan halangan untuk menjelajah dunia. Namun, kenyataan pahit segera menghadang. Perbekalan cepat habis, sepeda kerap mogok, dan mereka berkali-kali ditolak saat meminta tumpangan atau makanan. Di Thailand, mereka sempat berjualan stiker bertema petualangan, namun penghasilannya tak cukup untuk membiayai visa dan biaya perbatasan selanjutnya.

Menembus Asia, Menuju Jebakan Eropa

Setelah berbulan-bulan mengayuh pedal melintasi Myanmar, India, Pakistan, dan Iran, kondisi fisik dan mental mereka mulai menurun drastis. Di India, Darmadjati sempat terkena infeksi saluran pencernaan parah karena mengonsumsi makanan sisa yang tidak higienis. Saldo uang yang terus tergerus membuat mereka terpaksa mengemis di beberapa kota. Sesampainya di Eropa, ekspektasi mereka justru berbalik jadi malapetaka. "Kami kira Eropa lebih mudah, ternyata aturan imigrasi dan biaya hidup sangat ketat. Kami tidak bisa bekerja sembarangan," tutur Darmadjati.

Di Prancis, keduanya benar-benar kehabisan bekal dan tidak memiliki tempat tinggal. Mereka tidur di kolong jembatan dan emperan Stasiun Lyon Part-Dieu, bertahan dengan mengais sisa makanan di tempat sampah restoran. Keduanya bahkan sempat tertangkap aparat setempat karena melanggar aturan tidur di area publik, namun dilepaskan tanpa proses lebih lanjut karena pertimbangan kemanusiaan.

Bantuan Datang dari Sesama WNI

Setelah hampir dua bulan hidup sebagai tunawisma, nasib baik menghampiri ketika seorang pelancong asal Indonesia, Andreas Sinaga, mengenali mereka dari unggahan lama di media sosial. Andreas yang sedang berlibur di Lyon merasa iba dan segera melaporkan kondisi mereka ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris. Tim perlindungan WNI KBRI kemudian menjemput keduanya dan memberikan penampungan sementara serta layanan kesehatan dasar.

Kepala Fungsi Konsuler KBRI Paris, Agus Wijaya, membenarkan bahwa proses penanganan kedua WNI tersebut cukup rumit karena mereka tidak memiliki dokumen lengkap dan telah melampaui batas izin tinggal di kawasan Schengen. "Kami harus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk mengurus pemulangan secara tertib. Biaya pemulangan sepenuhnya ditanggung oleh negara sesuai mekanisme perlindungan WNI," jelas Agus dalam keterangan resmi.

Antara Kenekatan, FOMO, dan Pelajaran Berharga

Fenomena perjalanan ekstrem bermodal minim sesungguhnya bukan hal baru. Namun, pengamat pariwisata dari Universitas Gadjah Mada, Dr. Rina Wahyuni, menilai kasus Saleh-Darmadjati mencerminkan lemahnya literasi perjalanan di kalangan anak muda. "Petualangan jarak jauh membutuhkan perencanaan matang, mulai dari asuransi kesehatan, visa yang memadai, hingga dana darurat. Banyak kasus serupa tidak terekspos karena korbannya tidak beruntung seperti dua pemuda ini yang akhirnya bisa dipulangkan," ujar Rina.

Dari sisi psikologi sosial, Dr. Bagus Pratomo dari Universitas Indonesia menyoroti peran media sosial dalam membentuk persepsi irasional tentang pencapaian. "Anak muda terjebak ilusi bahwa hidup bisa dijalani seperti konten video yang dikemas apik. Mereka tidak melihat kegagalan di balik layar, dan berujung pada keputusan nekat yang membahayakan diri," katanya. Kedua pakar sepakat bahwa dibutuhkan edukasi publik tentang persiapan perjalanan yang bertanggung jawab.

Pemulangan dan Kenangan Pahit

Saleh dan Darmadjati akhirnya mendarat di Jakarta pada Kamis pekan lalu. Keduanya tampak kurus dan lesu, namun mata mereka menyiratkan lega. Sepeda yang dulu menjadi simbol kebebasan kini telah dijual di Prancis untuk sekadar membeli roti. "Kami hanya ingin pulang dan melupakan semuanya. Mungkin kelak kami bisa berbagi cerita agar orang lain tidak melakukan kesalahan yang sama," ujar Saleh dengan suara bergetar.

Saat ini, keduanya tengah menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh di fasilitas milik Kementerian Sosial serta mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma. Kepala Dinas Sosial setempat mengatakan bahwa program reintegrasi akan disiapkan agar Saleh dan Darmadjati dapat melanjutkan hidup dengan lebih terencana. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa petualangan besar tak cukup hanya dibayar dengan semangat; tanpa perencanaan, mimpi bisa berakhir di jalanan asing yang dingin.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User