Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi serta sejumlah lembaga survei literasi nasional per 2024, indeks literasi maritim masyarakat Indonesia masih berada di kisaran 40 persen—jauh tertinggal dibanding negara-negara kepulauan seperti Jepang atau Norwegia yang menembus 80 persen. Angka ini menjadi ironi mengingat Indonesia adalah negara kepulauan terbesar dunia dengan luas laut mencapai 5,8 juta kilometer persegi atau sekitar 70 persen dari total wilayah yurisdiksi nasional. Padahal, sektor ekonomi kelautan berkontribusi sekitar 7,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2023, dengan tren yang terus meningkat year-on-year.
Di tengah realitas itu, sebuah inisiatif pendidikan maritim kembali digelar untuk mendekatkan dunia bahari kepada generasi muda. Program bertajuk Bahtera LiteraSEA yang diselenggarakan oleh Pertamina International Shipping berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, dengan mengundang pelajar untuk mengenal dunia maritim secara lebih interaktif dan menyenangkan. Pendekatan yang dipilih bukan ceramah formal, melainkan permainan, simulasi, dan aktivitas kreatif—sebuah strategi yang dalam kajian pendidikan disebut sebagai experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman.
Mengapa Literasi Maritim Penting secara Ekonomi?
Literasi maritim bukan sekadar pengetahuan tentang kapal dan pelabuhan. Ia mencakup pemahaman tentang logistik, rantai pasok, kedaulatan wilayah, hingga peluang karier di sektor kelautan. Data Bank Indonesia per kuartal II 2024 menunjukkan sektor transportasi laut mencatat pertumbuhan 6,2 persen year-on-year, lebih tinggi dibanding rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,05 persen. Ini menandakan permintaan tenaga kerja terampil di bidang maritim terus menguat.
Di satu sisi, pendekatan edukatif seperti Bahtera LiteraSEA berpotensi memperkuat fondasi sumber daya manusia (SDM) sejak dini. Menurut sejumlah ekonom pendidikan, setiap kenaikan satu poin indeks literasi tematik pada usia sekolah berkorelasi dengan peningkatan minat studi lanjut di bidang terkait hingga 15 persen. Artinya, intervensi di jenjang pelajar bisa menjadi investasi jangka panjang bagi industri pelayaran nasional yang diproyeksikan tumbuh 8 persen pada 2026.
Di sisi lain, tantangan fundamental tetap besar. Rasio guru terlatih dalam materi kemaritiman masih rendah, infrastruktur laboratorium bahari di sekolah terbatas, dan kurikulum kemaritiman belum menjadi prioritas di banyak daerah pesisir. Tanpa dukungan kebijakan dan anggaran yang konsisten, program semacam ini berisiko hanya menjadi sentimen sesaat—atraktif di awal, tetapi minim keberlanjutan.
"Literasi maritim harus naik dari sekadar wacana menjadi bagian dari portofolio kebijakan pendidikan nasional. Tanpa itu, potensi ekonomi biru hanya akan menjadi proyeksi di atas kertas," ujar seorang pengamat ekonomi kelautan dalam sebuah diskusi publik.
Dua Perspektif: Peluang versus Keterbatasan
Pro: Kegiatan interaktif seperti ini mampu menciptakan pengalaman emosional yang kuat, meningkatkan retensi pengetahuan, dan membuka wawasan karier. Pelajar yang terpapar sejak dini berpotensi mengisi kebutuhan tenaga kerja sektor maritim yang diproyeksikan mencapai 300 ribu posisi dalam lima tahun ke depan. Selain itu, pendekatan kreatif dapat meningkatkan daya tarik sektor yang selama ini dianggap kurang populer.
Kontra: Efektivitasnya sulit diukur secara kuantitatif. Tanpa evaluasi berkelanjutan, dampaknya terhadap indeks literasi nasional bisa sangat kecil. Lagi pula, kegiatan bersifat sporadis tidak menyelesaikan masalah struktural seperti keterbatasan akses pendidikan di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Di sini, likuiditas anggaran pendidikan dan komitmen lintas kementerian menjadi penentu utama.
Melihat ke Depan: Dari Seru ke Sistematis
Jika ingin berdampak signifikan, program semacam ini perlu diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan yang lebih luas—misalnya kerja sama dengan sekolah, pemda, dan industri. Pemerintah sendiri menargetkan kontribusi ekonomi kelautan naik menjadi 12 persen terhadap PDB pada 2030. Target itu hanya bisa dicapai bila literasi maritim tumbuh merata, bukan hanya di kota-kota besar.
Pada akhirnya, upaya mengenalkan dunia maritim lewat cara yang menyenangkan adalah langkah awal yang positif. Namun, fundamental dan keberlanjutan tetap menjadi kunci. Tanpa itu, antusiasme sesaat hanya akan menjadi catatan kaki dalam panjangnya perjalanan membangun bangsa maritim.
Comments (0)