Oct 08, 2026
Bisnis

Menperin Genjot Ekspor IKM, Ini Strategi dan Tantangannya

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Oktober 2026, sektor industri kecil dan menengah (IKM) menopang lebih dari 60% total unit usaha manufaktur nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja...

Menperin Genjot Ekspor IKM, Ini Strategi dan Tantangannya

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per Oktober 2026, sektor industri kecil dan menengah (IKM) menopang lebih dari 60% total unit usaha manufaktur nasional dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja di sektor industri pengolahan. Angka ini menjadikan IKM sebagai tulang punggung struktur industri domestik, meski kontribusinya terhadap nilai ekspor nasional masih tergolong rendah, yakni berkisar 15-17% dari total ekspor nonmigas. Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji menilai besarnya populasi IKM merupakan kekuatan yang perlu dioptimalkan, terutama untuk mendorong kinerja ekspor yang selama ini didominasi korporasi besar.

Pro: Basis Industri Kecil sebagai Motor Diversifikasi Ekspor

Di satu sisi, strategi menggenjot ekspor IKM memiliki landasan yang kuat. Selama ini ekspor nasional sangat terkonsentrasi pada komoditas dan produk padat sumber daya alam, seperti minyak sawit, batu bara, serta logam dasar. Ketergantungan ini membuat neraca perdagangan rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan gejolak sentimen pasar. Dengan mendorong IKM masuk ke rantai nilai ekspor, struktur ekspor berpotensi lebih terdiversifikasi, sehingga risiko guncangan eksternal bisa ditekan.

Secara year-on-year, pertumbuhan ekspor produk IKM tercatat naik sekitar 8,4% pada periode Januari-September 2026 dibandingkan periode sama tahun lalu. Produk fesyen, kriya, makanan olahan, dan kosmetik berbahan alam menjadi penyumbang utama. Nilai ini memang belum besar, namun tren positif menunjukkan adanya fundamental yang bisa digarap lebih serius.

"IKM kita punya fleksibilitas produksi dan kedekatan dengan bahan baku lokal. Yang dibutuhkan adalah akses pasar, standardisasi, dan pembiayaan yang terjangkau," ujar Sarmuji dalam sebuah forum industri di Jakarta.

Kontra: Kendala Struktural yang Tak Selesai dalam Semalam

Di sisi lain, optimisme terhadap ekspor IKM menghadapi sejumlah hambatan struktural yang tidak mudah diurai. Pertama, soal skala ekonomi. Mayoritas IKM beroperasi dengan kapasitas terbatas, sehingga biaya produksi per unit relatif tinggi dan daya saing harga lemah dibandingkan produk impor dari negara dengan upah murah. Kedua, likuiditas dan akses pembiayaan. Berdasarkan data OJK, rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19-20%, jauh dari target pemerintah sebesar 30%. Banyak pelaku IKM belum bankable karena keterbatasan laporan keuangan dan agunan.

Ketiga, persoalan standardisasi dan sertifikasi. Untuk menembus pasar ekspor, produk harus memenuhi standar negara tujuan, mulai dari sertifikasi halal, ISO, hingga uji laboratorium. Biaya sertifikasi ini sering kali tidak sebanding dengan volume produksi IKM yang kecil. Keempat, infrastruktur logistik. Biaya logistik nasional masih berkisar 14-17% dari PDB, lebih tinggi dibanding rata-rata negara ASEAN lain yang berada di level 10-13%. Ini menggerus margin keuntungan IKM yang memang tipis.

Proyeksi dan Sentimen Pasar ke Depan

Jika strategi ini dijalankan secara konsisten, proyeksi Kementerian Perindustrian menargetkan kontribusi ekspor IKM bisa naik menjadi 20-22% dari total ekspor nonmigas dalam tiga sampai lima tahun ke depan. Namun target ini sangat bergantung pada eksekusi kebijakan, bukan sekadar narasi. Beberapa langkah yang disebut sedang disiapkan antara lain pendampingan ekspor, digitalisasi pemasaran melalui platform lintas negara, serta insentif fiskal bagi IKM yang berorientasi ekspor.

Dari kacamata pasar, sentimen terhadap sektor IKM masih campuran. Valuasi usaha kecil yang tergabung dalam rantai pasok ekspor cenderung membaik, tetapi capital outflow dari sektor manufaktur padat karya masih menjadi bayangan. Pelaku usaha berharap kebijakan tidak berhenti pada sosialisasi, melainkan diikuti kemudahan likuiditas dan kepastian regulasi.

Pada akhirnya, menggenjot ekspor IKM bukan sekadar soal menambah volume, melainkan membangun ekosistem yang menyehatkan portofolio industri nasional. Tanpa perbaikan fundamental di sisi pembiayaan, logistik, dan standardisasi, kekuatan populasi IKM akan tetap menjadi potensi yang belum terkonversi menjadi kinerja ekspor riil.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User