Oct 08, 2026
Bisnis

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Dampak Berganda Jadi Sorotan

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan nilai mencapa...

UMKM Kuliner Sumut Tembus Pasar Global, Dampak Berganda Jadi Sorotan

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per akhir 2024, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan nilai mencapai Rp9.580 triliun, sekaligus menyerap hampir 97 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Dari angka besar itu, Sumatera Utara menjadi salah satu provinsi dengan basis UMKM kuliner yang tumbuh paling agresif, dengan kontribusi sektor makanan dan minuman terhadap PDRB regional yang terus mengalami kenaikan year-on-year dalam lima tahun terakhir.

Di tengah tren tersebut, sebuah pelaku usaha kuliner asal Sumatera Utara bernama Quinn Kitchen menarik perhatian karena berhasil menembus pasar internasional. Ekspansi itu terjadi setelah pelaku usaha tersebut memperoleh pendampingan pembiayaan dan pembinaan dari sebuah bank BUMN, sebuah pola yang kini menjadi salah satu kanal utama bagi UMKM untuk naik kelas dari skala lokal ke skala ekspor.

Sisi Terang: Efek Berganda dan Peningkatan Daya Saing

Di satu sisi, keberhasilan UMKM kuliner menembus pasar global mencerminkan perbaikan fundamental pada sektor riil. Ketika sebuah UMKM mulai mengekspor, dampak ekonominya tidak berhenti di omzet perusahaan. Ada yang disebut efek berganda (multiplier effect), yaitu ketika satu unit usaha tumbuh, permintaan terhadap bahan baku, tenaga kerja, dan jasa logistik di sekitarnya ikut meningkat.

Jika diasumsikan satu UMKM ekspor menyerap 20 hingga 30 tenaga kerja langsung, maka rantai pasok di hulu—petani rempah, pemasok bahan mentah, hingga penyedia kemasan—bisa menyerap dua hingga tiga kali lipat jumlah tersebut. Inilah yang oleh kalangan ekonom disebut sebagai employment elasticity atau kepekaan lapangan kerja terhadap pertumbuhan usaha. Rasio ini penting karena setiap tambahan lapangan kerja di sektor informal membantu menekan angka pengangguran terbuka yang per Agustus 2024 berada di kisaran 4,91 persen secara nasional.

Ilustrasi UMKM kuliner

Selain itu, keterlibatan institusi pembiayaan formal memberi keuntungan struktural. UMKM yang teregistrasi dan memiliki rekam jejak kredit cenderung lebih mudah memperoleh akses modal berbiaya murah, sekaligus terhindar dari jeratan pinjaman berbunga tinggi. Dari sisi likuiditas, ketersediaan modal kerja membuat pelaku usaha dapat mengelola arus kas secara lebih stabil ketika menghadapi lonjakan permintaan musiman maupun fluktuasi harga bahan baku.

"Pemberdayaan UMKM lewat intermediasi perbankan bukan semata soal menyalurkan kredit, tetapi membangun ekosistem pendampingan, mulai dari pengemasan, sertifikasi, hingga akses pasar. Ini bagian dari fondasi ekonomi inklusif," kata seorang pengamat ekonomi pembangunan dari sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.

Sisi Lain: Tantangan Skala, Logistik, dan Ketahanan Ekspor

Di sisi lain, cerita sukses seperti ini tidak serta-merta menghapus persoalan mendasar. Struktur UMKM Indonesia masih didominasi usaha mikro dengan margin tipis dan kapasitas produksi terbatas. Ketika sebuah UMKM naik ke level ekspor, ia menghadapi sejumlah tekanan baru: standar mutu internasional, sertifikasi keamanan pangan, hingga biaya logistik yang bisa menggerus 15 hingga 25 persen dari nilai jual.

Belum lagi soal sentimen pasar global. Ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor berpotensi menekan permintaan. Bank Indonesia mencatat bahwa capital outflow atau aliran modal keluar dari pasar keuangan domestik masih menjadi risiko yang perlu diwaspadai, dan hal ini secara tidak langsung memengaruhi nilai tukar, yang pada gilirannya berdampak pada harga bahan baku impor bagi UMKM yang bergantung pada input luar negeri.

Valuasi dan Proyeksi ke Depan

Secara makro, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk 2025 berada di rentang 4,8 hingga 5,2 persen. Untuk mencapai batas atas proyeksi tersebut, kontribusi sektor UMKM dipandang krusial. Berbagai lembaga menilai bahwa penguatan UMKM berorientasi ekspor dapat membantu memperbaiki neraca perdagangan sekaligus mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.

Meski begitu, indikator keberhasilan tidak boleh hanya diukur dari sisi valuasi omzet semata. Yang lebih penting adalah keberlanjutan, yakni kemampuan UMKM mempertahankan pasar, menjaga kualitas, dan melakukan efisiensi. Sejumlah pengamat mengingatkan bahwa tanpa pendampingan berkelanjutan, banyak UMKM yang berhasil ekspor pada dua atau tiga tahun pertama justru kehilangan momentum pada tahun keempat karena keterbatasan kapasitas manajerial.

Dengan kata lain, kisah ekspansi UMKM kuliner Sumut ini layak diapresiasi, namun juga perlu dibaca secara jernih. Ia adalah cermin bahwa akses pembiayaan dan pendampingan dapat mengubah lanskap usaha, tetapi tetap menyisakan pekerjaan rumah besar: memperkuat fundamental, membangun ketahanan terhadap gejolak eksternal, dan memastikan bahwa pertumbuhan usaha benar-benar dirasakan hingga ke rantai pasok paling bawah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User