Berdasarkan data BPS/Bank Indonesia/OJK per 30 September 2025, perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang terjaga di tengah tekanan global. Produk Domestik Bruto (PDB, yaitu nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu) Indonesia tercatat mengalami kenaikan year-on-year sebesar 5,1%, dengan nilai mencapai Rp5.516 triliun. Salah satu sektor yang turut berkontribusi terhadap laju pertumbuhan ini adalah ekonomi kreatif, yang berdasarkan proyeksi BPS akan berkontribusi sebesar 7,9% terhadap PDB pada tahun 2026. Kontribusi ini menjadi salah satu sinyal bahwa terdapat tren pergeseran fundamental (perubahan mendasar yang memengaruhi struktur perekonomian jangka panjang) terhadap sektor berbasis ide, keterampilan dan nilai tambah intelektual.
Ekonomi Kreatif dan Pergeseran Struktur Perekonomian
Ekonomi kreatif merupakan sektor perekonomian yang memanfaatkan kreativitas, bakat dan keahlian individu untuk menciptakan lapangan kerja, serta menghasilkan barang dan jasa dengan nilai ekonomi. Sektor ini tidak terbatas pada seni dan hiburan, namun telah meluas ke subsektor seperti desain, fesyen, permainan digital, penerbitan, arsitektur, kuliner kreatif serta layanan teknologi. Berdasarkan data BPS, jumlah tenaga kerja yang terserap oleh sektor ekonomi kreatif pada tahun 2024 mencapai 25,12 juta orang, atau sekitar 17,99% dari total angkatan kerja Indonesia. Angka ini mengalami kenaikan year-on-year sebesar 3,7% dibandingkan tahun 2023, yang menandakan bahwa sektor ini tidak hanya berperan secara kultural, namun juga berperan secara makroekonomi.
Di satu sisi, digitalisasi (proses pemanfaatan teknologi digital untuk mengubah cara kerja, pelayanan dan transaksi) telah menjadi katalisator (faktor pendorong yang mempercepat suatu proses) bagi perkembangan sektor ini. Akses terhadap pasar global melalui platform digital, kemudahan transaksi, serta penyebaran konten secara masif dapat menekan biaya distribusi, sehingga pelaku usaha berskala mikro dan kecil dapat menjangkau konsumen di luar wilayah asalnya. Hal ini turut mendorong sentimen pasar (pandangan dan ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi) yang positif terhadap potensi valuasi (penilaian atas nilai suatu aset atau sektor berdasarkan fundamental dan prospek) sektor ekonomi kreatif di Indonesia.
Di sisi lain, percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI) turut menimbulkan tantangan. AI berpotensi menggantikan beberapa tahapan produksi kreatif, khususnya yang bersifat repetitif, sehingga dapat menekan margin usaha. Selain itu, ketergantungan terhadap platform asing dapat meningkatkan risiko capital outflow (arus keluar modal ke luar negeri) melalui pembagian pendapatan, yang secara tidak langsung dapat memengaruhi likuiditas (kemampuan suatu entitas untuk memenuhi kewajiban jangka pendek) pelaku usaha domestik. Oleh karena itu, perlu adanya keseimbangan antara pemanfaatan AI dengan pelindungan nilai tambah yang berasal dari keunikan dan pengalaman manusia.
Peran Perbankan dalam Mendukung Transformasi
Percepatan transformasi digital tidak terlepas dari peran sistem keuangan. Bank Indonesia mencatat bahwa nilai transaksi digital banking pada Agustus 2025 mencapai Rp6.056 triliun, mengalami kenaikan year-on-year sebesar 36,7%. Sementara itu, volume transaksi uang elektronik (e-money) pada periode yang sama mencapai 1,24 miliar transaksi, meningkat sebesar 32,1% secara year-on-year. Angka-angka ini menunjukkan bahwa adopsi pembayaran digital telah menjadi tren yang masif di kalangan masyarakat, termasuk pelaku ekonomi kreatif yang cenderung bergerak secara dinamis dan berbasis online.
Dari sisi fundamental perbankan, dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif dapat dilihat melalui perluasan akses pembiayaan yang terukur. OJK mencatat rasio (perbandingan antara dua angka yang menunjukkan hubungan tertentu) kredit kepada sektor ekonomi kreatif terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 1,6% per Agustus 2025. Angka ini terbilang terbatas apabila dibandingkan dengan kontribusi sektor tersebut terhadap PDB, sehingga masih terdapat ruang untuk perluasan pembiayaan yang sehat. Namun, perlu diperhatikan pula aspek manajemen risiko, mengingat sebagian besar pelaku usaha kreatif merupakan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan valuasi aset yang belum terstandarisasi, serta rekam jejak keuangan yang masih terbatas.
Di satu sisi, sinergi antara lembaga keuangan dan ekosistem kreatif dapat memperkuat portofolio (kumpulan aset yang dimiliki) pembiayaan inklusif, sekaligus meningkatkan indeks inklusi keuangan (ukuran akses dan pemanfaatan layanan keuangan oleh masyarakat) Indonesia yang pada tahun 2024 berada pada level 75,02%, meningkat dari 65,43% pada tahun 2019. Di sisi lain, ekspansi pembiayaan perlu diimbangi dengan literasi keuangan dan mitigasi risiko, agar tidak membebani kualitas aset perbankan, khususnya di tengah proyeksi suku bunga global yang masih fluktuatif.
Menyeimbangkan Teknologi dan Kemanusiaan
Isu sentral yang kini berkembang adalah bagaimana menjaga peran manusia di tengah dominasi AI. Otomatisasi dapat meningkatkan efisiensi, namun kreativitas sering kali bersumber dari pengalaman, konteks sosial, emosi dan nilai budaya yang sulit untuk direplikasi secara penuh oleh algoritma. Hal ini menjadi relevan mengingat Indonesia merupakan negara dengan kekayaan budaya yang beragam, dimana produk kreatif kerap mengandung identitas lokal yang menjadi daya saing tersendiri di pasar global.
Di satu sisi, pemanfaatan AI dapat membantu pelaku kreatif untuk meningkatkan produktivitas, seperti otomatisasi tugas administratif, analisis tren pasar, maupun optimalisasi distribusi konten. Pemanfaatan ini dapat menekan biaya operasional, sehingga sumber daya dapat dialihkan untuk pengembangan ide dan inovasi. Di sisi lain, terdapat kekhawatiran akan homogenisasi (penyeragaman) konten, yang dapat menurunkan keunikan produk kreatif. Selain itu, tanpa penguasaan teknologi yang merata, kesenjangan digital dapat melebar, sehingga manfaat transformasi tidak terdistribusi secara adil.
"Teknologi harus berfungsi untuk memperluas kapasitas manusia, bukan untuk menggantikannya. Keseimbangan inilah yang akan menentukan daya saing jangka panjang sektor kreatif."
Implikasi Jangka Menengah terhadap Perekonomian
Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan berada pada kisaran 4,8% - 5,6%, dengan konsumsi rumah tangga dan investasi tetap menjadi motor utama pertumbuhan. Sektor ekonomi kreatif, yang beririsan erat dengan konsumsi dan digitalisasi, berpotensi turut menopang laju pertumbuhan tersebut. Namun, realisasi potensi ini akan bergantung pada beberapa faktor, antara lain stabilitas makroekonomi, perluasan akses pembiayaan, penguatan infrastruktur digital, serta kesiapan sumber daya manusia untuk beradaptasi dengan AI.
Di satu sisi, sinergi antara ekosistem keuangan, pelaku kreatif, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memperkuat fundamental sektor ini, serta menahan potensi tekanan terhadap neraca transaksi berjalan melalui peningkatan ekspor jasa kreatif. Di sisi lain, risiko eksternal seperti perlambatan ekonomi global, fluktuasi nilai tukar, serta ketidakpastian geopolitik dapat membatasi ruang pertumbuhan, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam menjaga likuiditas dan kualitas pembiayaan.
Dengan mempertimbangkan kedua perspektif tersebut, upaya untuk menjaga nilai kemanusiaan di tengah era AI bukanlah sebuah pilihan kultural semata, namun merupakan sebuah kebutuhan ekonomi. Nilai tambah yang bersumber dari kreativitas, empati dan konteks lokal merupakan aset yang sulit untuk digantikan, dan dapat menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bagi Indonesia. Oleh karena itu, transformasi digital perlu diarahkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, peran manusia sebagai inti dari pertumbuhan ekonomi kreatif di masa mendatang.
Comments (0)