Berdasarkan data BPS per Maret 2025, rasio Gini (ukuran ketimpangan pendapatan, yaitu angka 0 hingga 1 yang menunjukkan sebaran pendapatan, semakin mendekati 1 maka ketimpangan semakin tinggi) Indonesia tercatat sebesar 0,379. Angka ini mengalami penurunan tipis dibandingkan Maret 2024 yang berada di 0,388. Namun, penurunan tersebut tidak serta merta mencerminkan pemerataan kesejahteraan. Justru, tren konsentrasi kekayaan (akumulasi aset yang terpusat pada kelompok kecil masyarakat) masih menjadi salah satu tantangan fundamental (kondisi dasar ekonomi jangka panjang) bagi perekonomian nasional.
Di tengah upaya pemulihan daya beli, data BPS juga menunjukkan bahwa jumlah penduduk miskin pada Maret 2025 mencapai 25,22 juta jiwa, atau sekitar 9,03% dari total penduduk. Angka ini mengalami penurunan year-on-year sebesar 0,46 juta jiwa dibandingkan Maret 2024. Meski demikian, kelompok rentan (masyarakat yang berada tepat di atas garis kemiskinan dan mudah kembali miskin akibat guncangan harga) masih berjumlah cukup besar, yakni sekitar 67,8 juta jiwa atau 24,23% dari populasi. Kondisi ini menjadi latar belakang penting untuk melihat bagaimana sentimen pasar (persepsi kolektif pelaku ekonomi terhadap kondisi saat ini maupun masa depan) dan tekanan sosial dapat saling memengaruhi stabilitas ekonomi secara luas.
Di Satu Sisi: Tekanan Ekonomi yang Terakumulasi
Di satu sisi, tekanan biaya hidup masih dirasakan oleh mayoritas masyarakat. Berdasarkan data Bank Indonesia per April 2025, inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam periode tertentu) tercatat sebesar 1,95% year-on-year. Meskipun berada dalam kisaran target, harga sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, telur, dan cabai mengalami kenaikan signifikan secara bulanan akibat faktor musim dan distribusi. Hal ini berdampak langsung terhadap daya beli rumah tangga berpendapatan rendah yang proporsi pengeluarannya untuk makanan masih sangat tinggi.
Selain itu, akses terhadap lapangan kerja berkualitas masih menjadi persoalan. Berdasarkan Sakernas BPS Februari 2025, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada di 4,76%, namun persentase pekerja informal masih mencapai 59,17% dari total tenaga kerja. Pekerja informal umumnya memiliki perlindungan sosial terbatas, upah tidak tetap, serta rentan terhadap guncangan. Ketika harga naik, namun pendapatan tidak mengalami kenaikan sebanding, maka rasio (perbandingan antara dua angka ekonomi untuk menilai kondisi tertentu) beban pengeluaran terhadap pendapatan rumah tangga akan semakin berat. Kondisi ini dapat memperlebar jurang persepsi antara kelompok berpenghasilan tinggi dan mayoritas masyarakat.
Di Sisi Lain: Peran Kekayaan dan Dinamika Makro
Di sisi lain, perlu dilihat pula dinamika dari sisi akumulasi kekayaan. Data Credit Suisse Global Wealth Report 2024 menunjukkan bahwa 1% populasi terkaya di dunia masih menguasai porsi kekayaan bersih global yang sangat besar. Meskipun laporan ini bersifat global, pola serupa dapat memengaruhi sentimen domestik, khususnya ketika terlihat kontras antara gaya hidup kelompok atas dengan realitas ekonomi masyarakat luas. Namun, kekayaan itu sendiri tidak selalu bersifat likuid (mudah dicairkan menjadi uang tunai tanpa kehilangan nilai signifikan). Banyak dari kekayaan kelompok atas berbentuk aset tidak bergerak, sehingga tidak serta merta dapat dialihkan untuk menekan harga kebutuhan pokok.
Dari sisi fundamental perekonomian, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil. Berdasarkan proyeksi Bank Indonesia per kuartal I 2025, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB, nilai total barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tertentu) diperkirakan berada di kisaran 4,7% hingga 5,1% year-on-year. Indeks keyakinan konsumen (ukuran optimisme rumah tangga terhadap kondisi ekonomi) juga masih berada di zona optimis meski mengalami penurunan dibandingkan puncak tahun sebelumnya. Selain itu, likuiditas (ketersediaan uang dalam sistem keuangan untuk mendukung transaksi dan kegiatan ekonomi) perbankan terjaga, dengan rasio kecukupan modal (CAR, kemampuan bank menyerap kerugian) industri perbankan berada di atas 27%, jauh di atas ketentuan minimum OJK.
Namun, tekanan eksternal juga perlu diperhatikan. Tren kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat sepanjang 2024 hingga awal 2025 berpotensi mendorong capital outflow (arus keluar modal asing dari pasar domestik ke pasar luar negeri) terbatas dari pasar surat berharga negara Indonesia. Fenomena ini dapat memengaruhi valuasi (penilaian wajar suatu aset berdasarkan faktor fundamental) aset keuangan, namun hingga saat ini dampaknya terhadap pasar domestik masih terkelola. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas makro tidak selalu berbanding lurus dengan persepsi keadilan ekonomi di tingkat masyarakat.
Perspektif Sosial-Ekonomi yang Berimbang
Ketimpangan yang dirasakan secara sosial kerap kali berbeda dengan angka agregat (rata-rata secara keseluruhan) makro. Ketika masyarakat melihat perbedaan gaya hidup yang ekstrem, namun di sisi lain harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar, maka sentimen ketidakadilan dapat meningkat. Hal ini bukan semata soal jumlah kekayaan, namun soal jarak relatif antara kelompok. Fenomena ini dapat memengaruhi portofolio (kumpulan aset yang dimiliki oleh individu, institusi, maupun negara) persepsi sosial, yang pada gilirannya berdampak terhadap kohesi (keterikatan dan rasa kebersamaan antaranggota masyarakat) di ruang publik.
"Ketimpangan bukan hanya masalah distribusi pendapatan, namun juga masalah legitimasi (penerimaan masyarakat terhadap aturan dan struktur yang ada). Tanpa persepsi keadilan yang memadai, stabilitas ekonomi jangka panjang akan sulit dipertahankan, meski indikator makro terlihat solid." - Pandangan seorang ekonom senior berdasarkan kajian empiris ketimpangan dan stabilitas sosial.
Penting untuk dicatat bahwa respons terhadap ketimpangan dapat beragam. Di satu sisi, tekanan sosial yang terakumulasi berpotensi memicu ketegangan jika tidak direspons dengan kebijakan yang tepat sasaran. Di sisi lain, kesadaran kolektif terhadap masalah ini juga dapat mendorong diskusi publik yang konstruktif mengenai akses terhadap pendidikan, kesehatan, perumahan, dan kesempatan kerja. Kedua hal ini dapat terjadi bersamaan, tergantung pada saluran penyampaian aspirasi yang tersedia di masyarakat.
Implikasi Jangka Panjang Terhadap Ekonomi
Dalam jangka panjang, ketimpangan yang berlarut dapat membawa konsekuensi ekonomi tersendiri. Tingkat konsumsi rumah tangga berpendapatan rendah yang besar terhadap PDB menjadikan daya beli mereka sebagai penggerak penting. Apabila kelompok ini terus mengalami penurunan kemampuan konsumsi akibat tekanan harga, maka permintaan domestik (total pembelian barang dan jasa oleh masyarakat dalam negeri) dapat melambat. Hal ini berpotensi menahan pertumbuhan, meski investasi dan ekspor tetap berjalan.
Selain itu, mobilitas sosial (kemampuan individu atau kelompok untuk berpindah kelas ekonomi) yang terbatas dapat menurunkan akumulasi sumber daya manusia berkualitas. Investasi jangka panjang dalam pendidikan dan kesehatan menjadi krusial untuk menjaga fundamental ekonomi. Tanpa perbaikan mobilitas, proyeksi pertumbuhan potensial (tingkat pertumbuhan maksimum yang dapat dicapai tanpa memicu inflasi berlebihan) Indonesia dapat terkoreksi ke bawah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, isu kesenjangan perlu dilihat tidak hanya sebagai isu sosial, namun juga sebagai variabel ekonomi yang memiliki dampak terhadap stabilitas makro secara berkelanjutan.
Comments (0)