Aug 24, 2026
Bisnis

Mengenal Deretan Miliarder Israel dan Jejak Bisnisnya di Indonesia

Peta kekayaan global terus bergeser, dan satu fenomena yang mencuri perhatian adalah konsentrasi miliarder asal Israel yang semakin bertambah. Lebih dari 40 nama dari negara berpenduduk sekitar 9,5 ju...

Mengenal Deretan Miliarder Israel dan Jejak Bisnisnya di Indonesia

Peta kekayaan global terus bergeser, dan satu fenomena yang mencuri perhatian adalah konsentrasi miliarder asal Israel yang semakin bertambah. Lebih dari 40 nama dari negara berpenduduk sekitar 9,5 juta jiwa itu secara konsisten menghiasi daftar orang terkaya dunia versi Forbes. Ironisnya, meski tak memiliki hubungan diplomatik resmi, sejumlah figur kunci di antara mereka justru menjadikan Indonesia sebagai salah satu “mesin uang” yang mengalirkan pundi-pundi keuntungan secara senyap namun masif.

Ledakan Miliarder dari Negeri Start-Up

Israel kerap dijuluki start-up nation karena kepadatan perusahaan rintisan teknologinya yang luar biasa. Ekosistem inilah yang kemudian melahirkan gelombang kekayaan baru. Tokoh seperti Shari Arison, pewaris kerajaan pelayaran dan perbankan, bertengger di puncak dengan harta di kisaran US$5,3 miliar. Pun demikian dengan Eyal Ofer yang mengendalikan Zodiac Maritime dan memiliki portofolio properti mewah dari Manhattan hingga Tokyo, dengan kekayaan menembus US$19 miliar. Belum lagi nama-nama seperti Idan Ofer (saudara Eyal) yang berfokus pada energi dan pertambangan, serta Teddy Sagi, raja perangkat lunak judi daring yang kini bertransformasi menjadi investor real estat skala besar. Hampir seluruh kekayaan mereka dibangun di atas sektor teknologi, logistik, dan properti—bidang-bidang yang memiliki titik singgung langsung dengan pasar negara berkembang.

Pola Ekspansi Terselubung ke Indonesia

Di satu sisi, hubungan politik kedua negara tidak memberikan ruang bagi investasi langsung yang atributif. Di sisi lain, para miliarder Israel sangat fasih membaca celah. Mereka masuk melalui kendaraan investasi yang terdaftar di Singapura, Belanda, atau Amerika Serikat. Salah satu contoh paling gamblang adalah sektor agroteknologi. Sejumlah perusahaan irigasi tetes dan rumah kaca pintar yang diproyeksikan mendongkrak produktivitas lahan di Indonesia timur diketahui pemegang saham utamanya adalah entitas yang terafiliasi dengan miliarder Israel. Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan lonjakan investasi di subsektor hortikultura berteknologi tinggi dalam lima tahun terakhir, dan sebagian besar pemasok alatnya berasal dari perusahaan yang punya hubungan kuat dengan inkubator di Tel Aviv. Pola serupa terlihat di ranah keamanan siber, di mana perangkat lunak buatan Check Point Software Technologies—yang didirikan oleh miliarder Gil Shwed—telah menjadi tulang punggung proteksi data beberapa bank besar di Indonesia. Layanan tersebut dijual melalui mitra lokal, sehingga nilai transaksinya tidak tercatat sebagai arus modal dari Israel, melainkan dari negara perantara.

Raksasa Real Estat dan Infrastruktur

Kisah paling kasatmata adalah penetrasi di bisnis properti. Keluarga Ofer, melalui divisi properti globalnya, tercatat memiliki penyertaan tidak langsung di beberapa proyek pencakar langit di Jakarta Selatan. Meski kepemilikan sahamnya bersifat minoritas dan disamarkan dalam bentuk dana investasi tertutup, aliran dividen yang mengalir ke akun-akun di luar negeri cukup signifikan. Di kisaran US$200 juta hingga US$350 juta per tahun, demikian menurut estimasi konsultan properti yang dihimpun oleh Kamar Dagang dan Industri, nilai aset yang terpaut dengan jejaring konglomerat Israel di sektor properti Indonesia kini bisa mencapai US$2,4 miliar. Angka tersebut tidak muncul secara kasatmata karena setiap proyek dibungkus dalam konsorsium yang melibatkan pengembang lokal sebagai pengendali mayoritas. Praktik ini sah secara hukum dan menjadi pola umum yang memungkinkan para miliarder Israel terus mengakumulasi aset tanpa harus menghadapi resistensi politik di dalam negeri.

Menimbang Manfaat dan Risikonya

Pro: kehadiran modal dan teknologi asal Israel terbukti membantu percepatan alih pengetahuan di sektor pertanian presisi, pengelolaan air bersih, dan keamanan digital. Indonesia mendapat akses ke solusi yang sudah teruji, sementara mitra lokal menuai margin dari kerja sama distribusi. Kontra: minimnya transparansi membuat regulator sulit memetakan konsentrasi kepemilikan, yang pada titik tertentu dapat memicu risiko stabilitas jika terjadi capital outflow tiba-tiba. Selain itu, ketergantungan terhadap perangkat lunak asing yang kodenya tidak terbuka sepenuhnya menyisakan celah kedaulatan data yang perlu diwaspadai. Ini adalah dua sisi mata uang yang harus dikelola dengan kerangka regulasi yang lebih ketat namun tetap menarik bagi investor.

Proyeksi ke Depan

Jumlah miliarder Israel yang masuk dalam daftar Forbes diprediksi masih akan terus bertambah seiring dengan makin matangnya ekosistem venture capital di Tel Aviv. Sementara itu, kebutuhan Indonesia akan solusi teknologi pangan, energi, dan digital dipastikan melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Kedua tren fundamental ini—peningkatan suplai modal dan permintaan pasar—akan membuat jejaring bisnis para konglomerat Israel di Nusantara kian sulit dideteksi, namun volumenya justru berpotensi membengkak. Para pemangku kebijakan diharapkan tidak hanya bersikap reaktif, melainkan mulai membangun basis data yang solid agar setiap aliran investasi, dari mana pun asalnya dan apa pun skema penyamarannya, tetap memberi hasil optimal bagi perekonomian nasional tanpa mengorbankan kepentingan strategis jangka panjang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User