Oct 13, 2026
Bisnis

Menenun Kain di Lombok, Perempuan Raup Rp 750 Ribu per Lembar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan subsektor ker...

Menenun Kain di Lombok, Perempuan Raup Rp 750 Ribu per Lembar

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per awal 2026, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan subsektor kerajinan tangan menjadi salah satu penopang utama penyerapan tenaga kerja perempuan di daerah. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sebuah program pemberdayaan berbasis tenun tradisional diklaim mampu mendongkrak pendapatan para penenun hingga Rp 750.000 per lembar kain—sebuah angka yang jauh melampaui upah minimum regional (UMR) NTB 2026 yang berada di kisaran Rp 2,4 juta per bulan jika dihitung dari kapasitas produksi satu hingga dua kain per pekan.

Pro: Peningkatan Nilai Tambah dan Likuiditas Rumah Tangga

Di satu sisi, capaian tersebut menunjukkan adanya kenaikan nilai tambah (value added) yang signifikan pada rantai produksi tenun. Sebelumnya, para penenun di kawasan pedesaan Lombok kerap menjual kain dalam bentuk setengah jadi dengan harga hanya Rp 150.000 hingga Rp 300.000 per lembar. Intervensi berupa pendampingan desain, akses pewarna alami, serta jalur distribusi ke pasar korporat membuat harga jual naik lebih dari 100 persen year-on-year.

Dari perspektif makro, peningkatan pendapatan ini berdampak langsung pada likuiditas rumah tangga. Ketika perempuan penenun memiliki arus kas yang lebih stabil, konsumsi domestik di tingkat desa ikut terdorong. Data BPS NTB per triwulan IV 2025 mencatat konsumsi rumah tangga provinsi itu tumbuh 4,8 persen year-on-year, sedikit di atas rata-rata nasional yang sebesar 4,7 persen. Sektor kerajinan, termasuk tenun, menyumbang sekitar 12 persen dari total ekspor non-migas NTB yang mencapai USD 412 juta sepanjang 2025.

"Pemberdayaan berbasis kearifan lokal seperti tenun memiliki multiplier effect yang besar. Setiap rupiah yang masuk ke kantong penenun cenderung berputar cepat di ekonomi desa karena belanja konsumsi mereka langsung ke pasar lokal," ujar seorang ekonom pembangunan dari Universitas Mataram dalam sebuah diskusi panel awal 2026.

Selain itu, program ini juga menyentuh aspek non-ekonomi, seperti penyediaan akses air bersih bagi komunitas penenun. Akses air bersih menurunkan waktu produktif yang hilang akibat penyakit kulit dan memungkinkan proses pewarnaan alami berjalan lebih higienis—faktor yang meningkatkan kualitas ekspor dan membuka peluang sertifikasi produk ramah lingkungan.

Kontra: Skala, Stabilitas Harga, dan Risiko Ketergantungan Program

Di sisi lain, angka Rp 750.000 per kain perlu dibaca dengan hati-hati. Angka itu adalah harga jual, bukan margin bersih. Biaya bahan baku seperti benang sutra dan pewarna alami bisa menyerap 35 hingga 45 persen dari harga jual. Jika ditambah biaya tenaga kerja dan penyusutan alat, margin bersih bisa turun ke kisaran Rp 300.000 hingga Rp 400.000 per lembar. Dengan produksi rata-rata satu kain per 5 hingga 7 hari, pendapatan bulanan bersih berada di kisaran Rp 1,2 juta hingga Rp 1,8 juta—masih di bawah UMR NTB.

Risiko lain adalah ketergantungan pada program pendampingan. Ketika dukungan korporat berhenti, akses pasar modern bisa mengendur. Sentimen pasar terhadap tenun juga sangat fluktuatif. Pada 2024, harga tenun songket Lombok sempat turun 18 persen akibat banjir produk impor tekstil murah dari Asia Selatan yang masuk melalui jalur e-commerce lintas negara.

Dari kacamata fundamental, sektor ini masih menghadapi tantangan struktural: regenerasi penenun yang lambat, usia rata-rata pengrajin yang di atas 45 tahun, serta kapasitas produksi terbatas yang menyulitkan pemenuhan pesanan besar secara konsisten. Rasio ketergantungan pada pasar korporat tunggal juga membuat valuasi usaha rentan terhadap perubahan kebijakan pengadaan.

Proyeksi dan Fundamental Sektor Kerajinan

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor kerajinan NTB diperkirakan berada di kisaran 5 hingga 7 persen year-on-year, dengan catatan mampu menjaga kualitas dan keberlanjutan pasokan bahan baku. Tren digitalisasi pemasaran melalui marketplace dan media sosial membuka peluang capital inflow kecil-kecilan dari pembeli luar negeri, meski volumenya belum signifikan untuk mengubah lanskap industri secara menyeluruh.

Poin pentingnya: kisah Rp 750.000 per kain adalah sinyal positif bahwa intervensi pasar dapat menaikkan pendapatan pengrajin. Namun tanpa perbaikan pada sisi biaya produksi, regenerasi tenaga kerja, dan diversifikasi pasar, kenaikan itu berisiko bersifat sementara—sebuah sentimen pasar yang perlu diterjemahkan menjadi fundamental yang kokoh.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User