Oct 13, 2026
Bisnis

Konflik Saudi-Houthi Tekan Logistik Energi, Harga Minyak Terancam Naik

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per awal 2024, ketegangan geopolitik di jalur Laut Merah kembali mencuat ke permukaan. Konflik antara Arab Saudi dan milisi Houthi di...

Konflik Saudi-Houthi Tekan Logistik Energi, Harga Minyak Terancam Naik

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per awal 2024, ketegangan geopolitik di jalur Laut Merah kembali mencuat ke permukaan. Konflik antara Arab Saudi dan milisi Houthi di Yaman dilaporkan memperburuk arus logistik energi dunia, terutama karena jalur pelayaran tersebut menampung sekitar 12 persen perdagangan minyak global. Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa eskalasi ini berpotensi mengganggu distribusi energi dan mendorong kenaikan biaya logistik secara signifikan.

Bagi pembaca awam, logistik energi adalah proses pengangkutan minyak mentah, gas alam cair, dan produk turunannya dari negara produsen ke negara konsumen melalui jalur laut. Ketika jalur tersebut terganggu, kapal harus memutar arah, waktu tempuh memanjang, dan premi asuransi melonjak. Dalam konteks ini, istilah sentimen pasar merujuk pada reaksi pelaku pasar terhadap risiko yang belum terjadi, namun sudah diperhitungkan dalam harga.

Di Satu Sisi: Risiko Pasokan dan Tekanan Harga

Di satu sisi, gangguan logistik di Selat Bab el-Mandeb dan Laut Merah telah memaksa sejumlah perusahaan pelayaran besar mengalihkan rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Konsekuensinya, jarak tempuh bertambah sekitar 9.000 kilometer atau setara 10 hingga 14 hari tambahan. Menurut perhitungan sejumlah analis, biaya pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia ke Eropa naik 30 sampai 50 persen year-on-year. Kenaikan ini pada akhirnya akan diteruskan ke harga bahan bakar di tingkat konsumen.

Bahlil menegaskan bahwa Indonesia perlu mengantisipasi dampak berantai tersebut. "Kita tidak bisa menutup mata. Ketegangan di Timur Tengah selalu berdampak pada fundamental harga energi dunia, dan itu akan terasa pada APBN kita," ujarnya dalam sebuah forum energi di Jakarta. Pernyataan ini sejalan dengan proyeksi sejumlah lembaga internasional yang memperkirakan harga minyak Brent bisa menyentuh USD 95 per barel jika konflik berlanjut hingga kuartal ketiga.

Di Sisi Lain: Indonesia Relatif Terlindungi

Di sisi lain, posisi Indonesia sebagai net importir minyak memang rentan, tetapi tidak sepenuhnya terdampak langsung. Pasokan minyak mentah Indonesia sebagian besar berasal dari dalam negeri dan beberapa negara non-Timur Tengah seperti Nigeria dan Angola. Selain itu, PT Pertamina sebagai pengelola utama portofolio energi nasional menyatakan masih memiliki cadangan penyangga atau likuiditas pasokan untuk minimal 30 hari ke depan. Data Kementerian ESDM menunjukkan impor minyak mentah Indonesia dari Arab Saudi hanya sekitar 6 persen dari total kebutuhan nasional.

Namun, risiko tidak bisa diremehkan. Ketika harga minyak dunia naik, beban subsidi dan kompensasi energi dalam APBN ikut membengkak. Setiap kenaikan USD 1 per barel pada asumsi harga minyak Indonesia (ICP) diperkirakan menambah tekanan fiskal sekitar Rp 1,8 triliun per tahun. Ini belum termasuk dampak pada capital outflow di pasar keuangan, lantaran investor global cenderung beralih ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.

Respons Kebijakan dan Proyeksi ke Depan

Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari mempercepat transisi energi melalui pengembangan biodiesel B40 hingga mendorong efisiensi di sektor industri. Langkah ini diharapkan menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dalam jangka menengah. Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa transisi energi tidak bisa menjadi solusi instan.

"Dalam jangka pendek, setiap konflik di jalur strategis energi akan selalu menaikkan premi risiko dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Pemerintah harus memperkuat bantalan fiskal dan menjaga kepercayaan pasar," kata seorang pengamat ekonomi energi dari sebuah lembaga riset independen di Jakarta.

Dari kacamata valuasi pasar, saham-saham sektor energi cenderung diuntungkan oleh kenaikan harga minyak, sementara sektor transportasi dan manufaktur justru tertekan. Rasio harga terhadap laba atau price-to-earnings beberapa emiten energi tercatat naik 8 hingga 12 persen dalam sebulan terakhir, mencerminkan optimisme pasar terhadap lonjakan pendapatan. Namun, optimisme ini perlu dicermati karena sangat bergantung pada durasi konflik.

Secara keseluruhan, proyeksi jangka pendek menunjukkan bahwa ketegangan Arab Saudi-Houthi akan terus menjadi faktor penentu arah harga energi global. Indonesia berada di posisi yang relatif lebih aman dibandingkan sejumlah negara Eropa, tetapi tetap perlu mewaspadai efek rambatannya terhadap inflasi, nilai tukar, dan anggaran negara. Kunci utama terletak pada kecepatan respons kebijakan dan kemampuan menjaga tren diversifikasi pasokan energi agar tidak bergantung pada satu jalur rawan konflik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User