Berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Bank Indonesia per kuartal III 2026, sektor pariwisata nasional mencatat kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 4,1 persen, dengan wisata berbasis event olahraga menjadi salah satu pendorong pertumbuhan paling dinamis. Salah satu agenda yang menyita perhatian tahun ini adalah penyelenggaraan Mandalika Ride Out, sebuah touring motor sejauh 1.400 kilometer yang diselenggarakan sebagai rangkaian menyambut Pertamina Grand Prix of Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat.
Kegiatan ini menggabungkan unsur hobi, pariwisata, dan pengenalan bisnis energi kepada peserta. Dari sisi penyelenggara, perjalanan panjang ini menjadi medium edukasi soal rantai nilai energi — mulai dari distribusi bahan bakar, pelumas, hingga layanan pendukung di sepanjang jalur. Namun, di balik gemerlapnya, muncul pertanyaan mendasar: seberapa besar dampak ekonomi riil yang dihasilkan dari gelaran semacam ini bagi daerah yang dilalui?
Dampak Ekonomi Langsung dan Pengganda Wisata
Di satu sisi, kehadiran ratusan peserta touring dalam satu gelombang perjalanan menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang cukup terasa. Berdasarkan estimasi sektor perhotelan dan kuliner di jalur lintasan, satu peserta touring dengan durasi perjalanan beberapa hari berpotensi membelanjakan Rp3 juta hingga Rp7 juta untuk akomodasi, konsumsi, bahan bakar, dan oleh-oleh. Jika dikalikan dengan jumlah peserta dan kru pendukung, nilai transaksi yang berputar di daerah bisa menembus miliaran rupiah dalam periode singkat.
Angka ini penting karena belanja wisatawan domestik memiliki velocity of money — kecepatan perputaran uang — yang relatif tinggi di daerah. Artinya, uang yang dibelanjakan cepat berpindah ke pelaku usaha lokal, mulai dari warung kecil hingga bengkel motor. Bagi kabupaten yang menjadi titik singgah, gelaran ini kerap menjadi sentimen pasar positif yang sesaat mengangkat permintaan harian.
Pro: Konsistensi Event dan Peningkatan Valuasi Destinasi
Perspektif optimistis menilai, rangkaian event menuju Mandalika menciptakan tren tahunan yang memperkuat posisi Indonesia di peta wisata otomotif global. Dikutip dari pernyataan sejumlah pengamat pariwisata, kegiatan seperti ini disebut sebagai "etape penting untuk menjaga denyut kunjungan di luar musim puncak, sehingga okupansi hotel tidak terjun bebas setelah MotoGP berakhir." Dengan kata lain, event pendamping berfungsi sebagai penjaga likuiditas industri perhotelan dan transportasi lokal.
Secara fundamental, kehadiran kegiatan bertema otomotif juga membuka peluang kemitraan jangka panjang antara pelaku usaha energi, penyedia jasa wisata, dan komunitas motor. Portofolio kerja sama ini berpotensi menjadi kanal pemasaran yang murah sekaligus efektif, karena peserta berperan sebagai duta destinasi yang menyebarkan pengalaman secara organik melalui media sosial.
Kontra: Beban Infrastruktur dan Risiko Setelah Event Berlalu
Di sisi lain, kritik terhadap model pembangunan berbasis event perlu didengar. Sejumlah ekonom mengingatkan bahwa manfaat ekonomi pariwisata event cenderung bersifat temporal dan terpusat pada periode penyelenggaraan. Setelah peserta kembali ke kota asal, aktivitas ekonomi di jalur lintasan bisa turun tajam, menciptakan apa yang disebut sebagai post-event cliff — jurang penurunan permintaan pasca-acara.
"Kita sering mengukur keberhasilan dari lonjakan kunjungan, tetapi jarang menghitung biaya pemeliharaan jalan, penanganan lalu lintas, dan beban lingkungan yang ditinggalkan," ujar seorang analis kebijakan fiskal daerah, seraya menambahkan bahwa proyeksi penerimaan asli daerah dari sektor ini masih perlu diuji secara konsisten.
Selain itu, arus peserta dalam jumlah besar berpotensi menimbulkan capital outflow tidak langsung, jika penyediaan akomodasi dan peralatan didominasi pemasok luar daerah. Rasio kebocoran ekonomi (economic leakage) di destinasi wisata baru umumnya masih tinggi, diperkirakan 30 hingga 45 persen dari total belanja wisatawan tidak berputar di ekonomi lokal.
Membaca Tren ke Depan
Untuk menakar apakah Mandalika Ride Out sekadar perayaan sesaat atau pilar ekonomi berkelanjutan, beberapa indikator perlu dipantau: pertumbuhan okupansi hotel di NTB year-on-year, nilai transaksi UMKM di jalur lintasan, serta indeks kunjungan wisatawan pada bulan-bulan non-event. Berdasarkan data historis, destinasi yang berhasil mentransformasi event menjadi pertumbuhan berkelanjutan adalah mereka yang membangun infrastruktur permanen dan kapasitas pelaku usaha lokal, bukan sekadar mengandalkan kemeriahan.
Kesimpulannya, gelaran ini menyimpan dua wajah: peluang penguatan valuasi destinasi dan penggerak ekonomi daerah di satu sisi, serta risiko beban fiskal dan ketimpangan manfaat di sisi lain. Yang menentukan bukan besar kecilnya acara, melainkan sejauh mana perencanaan pasca-event dijalankan dengan disiplin anggaran dan data yang transparan.
Comments (0)