Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2024, jumlah pekerja rentan di Indonesia masih mencakup sekitar 59,11 juta orang atau setara 42,29 persen dari total penduduk bekerja. Kelompok ini mencakup pekerja informal, harian lepas, dan mereka yang beroperasi tanpa jaminan sosial memadai. Di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan daya beli, perhatian terhadap segmen ini menjadi indikator penting bagi kesehatan sosial-ekonomi sebuah negara.
Pada Jumat (2/10), Livin' Mandiri Berbagi menggelar aksi apresiasi terhadap pekerja rentan di 12 titik wilayah Indonesia dengan mendistribusikan masing-masing 280 paket makanan dan minuman. Inisiatif ini bertepatan dengan hari ulang tahun ke-28 bank tersebut, menjadikannya bagian dari rangkaian tanggung jawab sosial perusahaan.
Di Satu Sisi: Stimulus Mikro yang Menopang Konsumsi Harian
Dari kacamata makroekonomi, bantuan pangan langsung kepada pekerja rentan memiliki efek berganda (multiplier effect) yang relatif cepat. Bank Indonesia mencatat inflasi pangan bergejolak (volatile food) pada September 2024 berada di kisaran 2,5—3,0 persen year-on-year, sementara kelompok pengeluaran makanan masih menyumbang porsi terbesar dalam keranjang konsumsi rumah tangga berpenghasilan rendah, yakni mencapai 52,4 persen menurut Susenas 2023.
Artinya, setiap paket makanan yang disalurkan langsung menambah daya beli riil penerima pada hari itu. Dalam konteks ekonomi yang sedang mencari pijakan, injeksi konsumsi di lapisan bawah dapat menjaga momentum permintaan agregat. Proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2024 yang dirilis sejumlah lembaga berada di rentang 4,9—5,1 persen, dan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sekitar 53 persen terhadap PDB.
"Program berbasis komunitas seperti ini memang tidak mengubah struktur, tetapi ia menjaga likuiditas harian kelompok terbawah agar tidak jatuh lebih dalam," ujar seorang ekonom pembangunan yang meneliti sektor informal.
Di Sisi Lain: Skala Terbatas dan Tantangan Fundamental
Namun, bila diletakkan dalam konteks yang lebih luas, 280 paket di 12 titik atau total sekitar 3.360 paket merupakan angka yang sangat kecil dibandingkan populasi pekerja rentan yang mencapai puluhan juta jiwa. Rasio cakupannya bahkan tidak mencapai 0,01 persen. Ini menunjukkan bahwa aksi filantropi korporasi lebih berfungsi sebagai simbol komitmen ketimbang solusi struktural.
Persoalan fundamental pekerja rentan terletak pada akses terhadap jaminan sosial, kepastian pendapatan, dan perlindungan hukum. Data OJK per Agustus 2024 menunjukkan inklusi keuangan formal baru menyentuh sekitar 75,02 persen penduduk dewasa, sementara kepemilikan rekening di lembaga keuangan formal pada kelompok berpenghasilan terendah masih tertinggal. Kesenjangan ini menjadi akar kerentanan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan distribusi makanan sesaat.
Dari perspektif pasar, sentimen terhadap sektor perbankan tetap ditentukan oleh fundamental seperti rasio kecukupan modal (CAR), kualitas kredit bermasalah (NPL), dan pertumbuhan kredit. Program sosial tidak secara langsung memengaruhi valuasi saham, tetapi dapat memperkuat legitimasi sosial dan portofolio reputasi emiten di mata investor yang semakin memperhatikan faktor ESG.
Pro dan Kontra dalam Perspektif Ekonomi
Pro: Kegiatan semacam ini memperkuat jaring pengaman sosial informal, mendorong konsumsi di lapisan bawah, dan meningkatkan kesadaran publik terhadap keberadaan pekerja rentan. Efek psikologisnya terhadap sentimen sosial juga positif karena memperkuat kohesi di tengah ketimpangan.
Kontra: Kritik utama adalah sifatnya yang ad hoc dan tidak berkelanjutan. Tanpa pendampingan pemberdayaan, pelatihan, atau integrasi ke dalam skema perlindungan sosial yang lebih luas, bantuan pangan hanya bersifat tambal sulam. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha agar dampaknya tidak menguap dalam hitungan hari.
Ke depan, tantangan bagi industri perbankan adalah mengubah program simbolis menjadi instrumen pemberdayaan yang terukur. Indeks pembangunan manusia (IPM) Indonesia pada 2023 berada di angka 74,39, naik tipis dari 73,77 pada 2022. Angka ini menunjukkan perbaikan, tetapi masih menyisakan ruang besar untuk mempercepat kesejahteraan kelompok rentan. Apresiasi kepada pekerja rentan, dengan demikian, sebaiknya dipandang sebagai titik awal, bukan tujuan akhir.
Comments (0)