Leapmotor Siapkan Dua SUV Listrik Rakitan Lokal untuk Pasar Indonesia
Jakarta — Pabrikan otomotif asal Tiongkok, Leapmotor, mengonfirmasi rencana ekspansifnya di Tanah Air dengan menghadirkan dua model Sport Utility Vehicle (
Jakarta — Pabrikan otomotif asal Tiongkok, Leapmotor, mengonfirmasi rencana ekspansifnya di Tanah Air dengan menghadirkan dua model Sport Utility Vehicle (SUV) listrik sepanjang tahun ini. Langkah ini menandai babak baru persaingan kendaraan elektrifikasi di segmen SUV yang kian memanas di Indonesia.
Model pertama yang akan diperkenalkan adalah Leapmotor B10. Mobil ini dijadwalkan meluncur secara resmi dalam gelaran Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di Tangerang. Kehadiran B10 menjadi penanda keseriusan Leapmotor yang sebelumnya telah mengumumkan kemitraan strategis dengan Indomobil Group selaku distributor nasional.
Samuel Christian Wowor, Brand Head of Leapmotor Indonesia, memberikan sinyal kuat mengenai positioning harga B10 yang akan bersaing secara agresif di pasar. Ia memastikan banderol SUV listrik tersebut masih berada dalam koridor yang telah dijanjikan sebelumnya.
"Untuk harganya sendiri, untuk On The Road (OTR) Jabodetabek, kami masih sesuai dengan gambaran di awal yang sebenarnya di bawah Rp500 juta," ujar Samuel di sela acara 'Leapmotor B10 Drive and Pedal' di Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Rentang harga di bawah Rp500 juta menempatkan B10 pada segmen menengah yang sangat kompetitif, tepat bersinggungan dengan pemain mapan seperti Hyundai Ioniq 5, Wuling Alvez EV, hingga Chery Omoda E5. Leapmotor tampaknya ingin memanfaatkan celah pasar konsumen yang menginginkan SUV listrik berteknologi mutakhir tanpa harus membayar harga premium.
Strategi Lokalisasi: Produksi CKD dan TKDN
Salah satu pembeda signifikan dari strategi Leapmotor adalah komitmen perakitan lokal sejak awal peluncuran. Leapmotor B10 yang dipamerkan di GIIAS nanti bukan lagi unit impor utuh (Completely Built Up/CBU), melainkan sudah dirakit di fasilitas Indomobil Group yang berlokasi di Cikampek, Jawa Barat melalui skema Completely Knocked Down (CKD).
Tan Kim Piauw, Chief Executive Officer (CEO) PT Indomobil National Distributor (IND), menegaskan bahwa aspek Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sudah menjadi prioritas utama. Pemenuhan regulasi TKDN adalah kunci untuk membuka akses insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan insentif lainnya.
"Untuk TKDN mobil ini, minimal sesuai dengan persyaratan pemerintah, 40 persen. Kami pasti memenuhi itu," tegas Tan Kim Piauw.
Pemenuhan TKDN 40% akan memberikan keuntungan ganda: harga jual lebih rendah karena insentif pajak, serta efek berganda ke rantai pasok komponen lokal. Hal ini selaras dengan peta jalan pemerintah yang menargetkan ekosistem kendaraan listrik terintegrasi dari hulu ke hilir.
Model Kedua: C10 Siap Menyusul
Selain B10, Leapmotor juga menyiapkan model kedua yaitu Leapmotor C10. Informasi detail mengenai spesifikasi dan jadwal peluncuran C10 masih terbatas, namun dipastikan model ini akan turut mengisi line-up SUV listrik Leapmotor di Indonesia. Kehadiran dua model sekaligus dalam satu tahun menunjukkan ambisi Leapmotor untuk tidak sekadar "hadir", melainkan langsung membentuk portofolio produk yang solid.
Strategi dua model ini mencerminkan tren pabrikan Tiongkok yang agresif merangsek pasar Asia Tenggara. Dengan mengandalkan harga kompetitif, fitur melimpah, dan dukungan purna jual yang terus diperkuat, merek-merek seperti Leapmotor berupaya merebut pangsa pasar yang selama ini didominasi pabrikan Jepang dan Korea.
Analisis Prospek: Peluang dan Tantangan
Masuknya Leapmotor menghadirkan dinamika baru yang perlu dicermati dari berbagai sisi. Berikut perbandingan antara potensi positif dan risiko yang mengiringinya:
Pro: Harga di bawah Rp500 juta dengan status rakitan lokal menjadikan B10 sebagai proposisi nilai yang sangat menarik bagi konsumen yang sensitif harga. Akses insentif pemerintah karena TKDN 40% akan menekan biaya lebih lanjut. Dukungan jaringan Indomobil yang luas memberikan jaminan purna jual — aspek krusial yang kerap menjadi kelemahan merek pendatang baru. Dua model SUV sekaligus mempercepat Leapmotor dalam membangun brand recognition. Teknologi baterai dan fitur yang ditawarkan berpotensi lebih segar dibanding pemain lama yang siklus pembaruannya lebih lambat.
Kontra: Merek Tiongkok masih menghadapi persepsi kualitas yang beragam di mata konsumen Indonesia, terutama di segmen menengah-atas. Layanan purna jual dan ketersediaan suku cadang perlu dibuktikan dalam praktik, bukan sekadar janji. Kompetitor sekelas Hyundai dan Wuling telah lebih dulu membangun basis pelanggan yang loyal. Fluktuasi kurs dan eskalasi bea masuk komponen dapat menggerus keunggulan harga yang saat ini diandalkan. Regulasi TKDN yang terus dievaluasi pemerintah dapat mengubah kalkulasi bisnis secara mendadak. Selain itu, kejenuhan segmen SUV listrik yang kian ramai membuat diferensiasi menjadi semakin sulit.
Kehadiran Leapmotor B10 dan C10 akan menjadi ujian sesungguhnya apakah strategi "harga agresif plus teknologi tinggi" yang diusung pabrikan Tiongkok mampu mendobrak loyalitas konsumen Indonesia yang selama ini cenderung konservatif dalam memilih merek otomotif.
Dengan jadwal peluncuran yang tinggal menghitung bulan, publik dan kompetitor sama-sama menanti gebrakan nyata Leapmotor di GIIAS 2026 mendatang.
Comments (0)