KUR BRI Dorong UMKM Gula Merah Sumenep Tumbuh Dua Dekade
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal III 2024, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional telah mencapai Rp 214,5 triliun, dengan pertumbuhan year-on-year sekitar 12,3 p...
Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM per kuartal III 2024, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) secara nasional telah mencapai Rp 214,5 triliun, dengan pertumbuhan year-on-year sekitar 12,3 persen. Di tengah arus besar tersebut, terdapat kisah nyata dari Sumenep, Madura, yang menunjukkan bagaimana akses pembiayaan mikro mampu mengubah fundamental usaha kecil. Rosidah, seorang pengusaha gula merah asal Sumenep, telah membuktikan bahwa konsistensi selama dua dekade, ditopang oleh suntikan likuiditas dari KUR BRI, mampu meningkatkan kapasitas produksi dan kesejahteraan keluarganya secara signifikan.
Perjalanan Dua Dekade: Dari Skala Rumahan ke Produksi Lebih Besar
Rosidah memulai usahanya pada awal tahun 2000-an dengan peralatan sederhana dan kapasitas produksi yang sangat terbatas. Berdasarkan penuturannya, pada masa awal ia hanya mampu mengolah sekitar 50 kilogram nira aren per hari, dengan hasil akhir tidak lebih dari 5 kilogram gula merah. Namun, sejak mendapatkan akses KUR BRI sekitar lima tahun terakhir, kapasitas produksinya mengalami kenaikan hingga 300 persen. Kini, ia mampu mengolah 200 kilogram nira per hari, menghasilkan sekitar 20 kilogram gula merah berkualitas premium.
Di satu sisi, peningkatan kapasitas ini tidak terlepas dari perbaikan alat produksi yang dibiayai melalui KUR. Rosidah mengganti tungku tradisional dengan wajan berkapasitas lebih besar, serta membeli mesin pengaduk semi-otomatis yang mempercepat proses kristalisasi. Di sisi lain, faktor manajemen waktu dan ketersediaan bahan baku juga berperan penting. Meskipun modal bertambah, ia tetap menghadapi tantangan fluktuasi harga nira di tingkat petani, yang terkadang naik hingga 15 persen pada musim kemarau.
Dampak KUR terhadap Kesejahteraan dan Serapan Tenaga Kerja
Berdasarkan data Bank Indonesia untuk wilayah Jawa Timur, sektor industri makanan olahan, termasuk gula merah, menyerap sekitar 18 persen tenaga kerja UMKM di Madura. Dalam kasus Rosidah, dampaknya terlihat nyata: ia kini mempekerjakan empat orang karyawan tetap, meningkat dari sebelumnya hanya satu orang. Upah yang dibayarkan mencapai Rp 75.000 per hari, lebih tinggi dari upah minimum kabupaten yang sekitar Rp 70.000. Hal ini menunjukkan bahwa KUR tidak hanya meningkatkan pendapatan pemilik usaha, tetapi juga mendorong distribusi kesejahteraan ke masyarakat sekitar.
Pro: Pertumbuhan omzet Rosidah tercatat naik dari Rp 8 juta per bulan pada 2020 menjadi Rp 24 juta per bulan pada akhir 2024. Rasio profitabilitas usahanya juga membaik, dari margin 20 persen menjadi 32 persen, berkat efisiensi bahan bakar dan penurunan tingkat cacat produksi. Kontra: Namun, tekanan inflasi bahan pangan dan kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram sebesar 10 persen pada awal tahun ini sempat menggerus margin. Untuk mengatasinya, Rosidah melakukan diversifikasi produk menjadi gula semut, yang memiliki nilai jual lebih tinggi sekitar 20 persen dibandingkan gula cetak.
Sentimen Pasar dan Proyeksi Ke Depan
Sentimen pasar terhadap produk gula merah dari Sumenep cukup positif, terutama karena tren permintaan gula alami yang meningkat seiring kesadaran kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Asosiasi Industri Gula Indonesia, konsumsi gula merah domestik tumbuh 5,2 persen per tahun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi gula rafinasi yang hanya 2,1 persen. Rosidah memanfaatkan tren ini dengan menjalin kemitraan dengan dua distributor di Surabaya, yang membantunya menembus pasar modern.
Di satu sisi, proyeksi usaha Rosidah ke depan terlihat cerah. Ia berencana mengajukan tambahan KUR sebesar Rp 50 juta untuk membangun gudang penyimpanan dan membeli mesin pengemas vakum, yang dapat memperpanjang umur simpan produk hingga enam bulan. Di sisi lain, terdapat risiko capital outflow dari sektor riil jika suku bunga KUR naik pada semester kedua 2025, mengingat Bank Indonesia masih mempertahankan kebijakan hawkish dengan suku bunga acuan di level 5,75 persen. Namun, berdasarkan pengalaman dua dekade, Rosidah tetap optimis karena fundamental permintaan domestik yang stabil.
Kisah Rosidah menjadi representasi bagaimana instrumen pembiayaan mikro seperti KUR BRI berperan sebagai katalis pertumbuhan inklusif. Meskipun tidak lepas dari tantangan eksternal, ketahanan dan adaptasi menjadi kunci utama. Dengan dukungan likuiditas yang tepat, UMKM gula merah di daerah terpencil mampu bersaing dan meningkatkan kesejahteraan kolektif, membuktikan bahwa akses modal bukan sekadar angka statistik, melainkan pengubah hidup nyata.
Comments (0)