Kopi Batang Mendunia, UMKM Binaan BRI Tembus Pasar Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, produksi kopi nasional tercatat sekitar 794 ribu ton per tahun, menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia setelah ...

Aug 08, 2026 - 06:14
0 0
Kopi Batang Mendunia, UMKM Binaan BRI Tembus Pasar Ekspor

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per akhir 2024, produksi kopi nasional tercatat sekitar 794 ribu ton per tahun, menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Sementara itu, nilai ekspor kopi Indonesia mengalami kenaikan signifikan hingga menembus lebih dari 1,6 miliar dollar AS, tumbuh dua digit secara year-on-year (perbandingan kinerja dengan periode yang sama tahun sebelumnya). Di tengah tren positif tersebut, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari daerah mulai membuktikan kapasitasnya menembus pasar internasional.

Salah satu contoh nyata datang dari Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ika Yuanita, pendiri PT Kingkaf Makmur Sejahtera, membangun usahanya dengan misi memperkuat posisi tawar petani kopi lokal. Berbekal inovasi pengolahan pascapanen serta racikan produk bernilai tambah, kopi olahan dari Batang itu kini telah dipasarkan hingga ke luar negeri. Perjalanan usaha tersebut tidak lepas dari dukungan pembiayaan dan pembinaan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, bank dengan portofolio kredit UMKM terbesar di Tanah Air yang menembus lebih dari Rp 1.100 triliun.

Nilai Tambah Menjadi Kunci UMKM Kopi Naik Kelas

Dari sisi fundamental, struktur ekspor kopi Indonesia masih didominasi biji mentah atau green bean yang memiliki nilai tambah rendah. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, lebih dari 70 persen volume ekspor kopi nasional masih berupa biji mentah. Padahal, produk olahan seperti kopi sangrai, bubuk, dan minuman siap seduh mampu memberikan margin keuntungan dua hingga tiga kali lipat dibandingkan komoditas mentah. Inilah celah yang dimanfaatkan Kingkaf: mengolah biji kopi petani Batang menjadi produk jadi dengan kemasan dan citarasa yang sesuai selera pasar global.

Model kemitraan dengan petani juga memperkuat sisi hulu. Dengan skema pendampingan, petani memperoleh kepastian harga sekaligus akses terhadap standar mutu yang lebih baik. Secara makro, penguatan UMKM semacam ini relevan mengingat sektor tersebut berkontribusi sekitar 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia.

"Kami ingin membuktikan bahwa kopi dari kebun petani Batang bisa berbicara di panggung dunia, asalkan diolah dengan standar yang benar dan didukung akses pembiayaan yang memadai," ujar Ika Yuanita.

Di Satu Sisi Peluang Besar, di Sisi Lain Tantangan Nyata

Di satu sisi, prospek ekspor kopi olahan Indonesia sedang berada dalam momentum positif. Harga kopi dunia mengalami kenaikan tajam sepanjang 2024, dengan harga arabika sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir lima dekade akibat gangguan pasokan dari Brasil dan Vietnam. Sentimen pasar global yang menguat ini membuka ruang bagi produk Indonesia untuk masuk ke rantai nilai premium. Proyeksi konsumsi kopi global juga terus tumbuh, terutama dari pasar Asia dan Timur Tengah.

Di sisi lain, tantangan tidak bisa diabaikan. Perubahan iklim menekan produktivitas kebun kopi rakyat yang rata-rata hanya sekitar 700 kilogram per hektare, jauh di bawah Vietnam yang mencapai lebih dari 2 ton per hektare. Selain itu, pelaku UMKM menghadapi kendala sertifikasi internasional, biaya logistik yang tinggi, serta volatilitas nilai tukar rupiah yang dapat menggerus margin. Risiko capital outflow (keluarnya dana asing dari pasar domestik) akibat ketidakpastian ekonomi global juga berpotensi menekan likuiditas perbankan yang menjadi sumber pembiayaan sektor riil.

Peran Perbankan Memperkuat Fundamental UMKM

Dukungan lembaga keuangan menjadi faktor penentu keberlanjutan usaha seperti Kingkaf. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan kredit perbankan ke sektor UMKM tumbuh sekitar 6 hingga 7 persen year-on-year, dengan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang relatif terjaga di kisaran 3 persen. BRI sendiri mencatatkan porsi kredit UMKM lebih dari 80 persen dari total portofolio pinjamannya, menjadikannya motor pembiayaan segmen ini.

Namun demikian, analis menilai pembiayaan saja tidak cukup. Program pembinaan, pendampingan ekspor, dan digitalisasi pembukuan sama pentingnya agar UMKM memiliki fundamental yang kokoh saat menghadapi persaingan global. Valuasi usaha yang sehat pada akhirnya ditentukan oleh konsistensi kualitas produk dan kemampuan manajemen mengelola arus kas.

Ke depan, kisah kopi Batang yang mendunia ini menjadi cermin bahwa kombinasi antara inovasi pelaku usaha, kualitas komoditas lokal, dan dukungan perbankan mampu membuka jalan bagi produk daerah menembus pasar dunia. Meski jalan masih panjang, fondasi yang terbangun hari ini menentukan seberapa jauh UMKM kopi Indonesia melangkah esok hari.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User