Sep 22, 2026
Bisnis

Kisah Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Olahan Hasil Laut Bersama BRI Peduli

Perjalanan hidup seorang mantan pekerja migran Indonesia (PMI) kerap menyimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Namun, dari kerasnya kehidupan di negeri orang, sering kali lahir semangat pantang men...

Kisah Mantan PMI Sukses Bangun Usaha Olahan Hasil Laut Bersama BRI Peduli

Perjalanan hidup seorang mantan pekerja migran Indonesia (PMI) kerap menyimpan kisah perjuangan yang tidak mudah. Namun, dari kerasnya kehidupan di negeri orang, sering kali lahir semangat pantang menyerah yang kemudian mengubah jalan hidup. Inilah yang dialami oleh Rosyidah, perempuan asal pesisir yang setelah bertahun-tahun mengadu nasib di luar negeri, akhirnya pulang ke tanah air dengan mimpi besar: menjadi pengusaha mandiri di bidang kuliner olahan hasil laut.

Sekembalinya dari luar negeri, Rosyidah tidak memilih kembali menjadi buruh. Ia melihat potensi besar dari kekayaan laut di sekitarnya yang selama ini belum tergarap maksimal. Hasil tangkapan nelayan lokal seperti ikan, cumi, dan udang sering kali hanya dijual mentah dengan harga rendah. Di sinilah ia menemukan celah: mengolah bahan baku tersebut menjadi aneka camilan dan lauk siap santap yang bernilai tambah tinggi. Dari situ, lahirlah merek C'milzea—singkatan dari camilan hasil laut berkualitas yang ia bangun dari nol.

Dari Dapur Kecil Menuju Pasar Lebih Luas

Usaha ini dimulai dengan sangat sederhana. Rosyidah hanya mengandalkan peralatan dapur rumah tangga dan resep racikan sendiri. Produk awal berupa keripik cumi, abon ikan, dan stik udang. Pemasaran pun dilakukan dengan cara konvensional: menitip di warung-warung sekitar dan menjual dari rumah ke rumah. Namun, kendala terbesar segera muncul: modal terbatas dan pengetahuan mengenai strategi pengembangan bisnis modern. Ia menyadari, agar usaha ini bisa tumbuh, dibutuhkan suntikan modal usaha dan peningkatan kapasitas diri.

Di tengah pencariannya, Rosyidah menemukan program BRI Peduli yang kerap mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat di sektor riil. Melalui bantuan permodalan dan pelatihan yang diberikan, Rosyidah mulai mendapatkan akses terhadap hal-hal yang sebelumnya sulit dijangkau: pendampingan manajemen keuangan, pengemasan yang menarik, hingga strategi perluasan pasar. Dukungan ini menjadi titik balik bagi C'milzea.

Dukungan yang Mengubah Laju Usaha

Bantuan dari BRI Peduli tidak hanya bersifat finansial. Rosyidah mengikuti serangkaian pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan untuk mitra binaan. Ia belajar menghitung harga pokok produksi secara tepat, menyusun neraca sederhana, serta memanfaatkan media sosial sebagai etalase digital. Pendekatan ini membantunya memahami bahwa usaha kecil bukan sekadar menjual produk, tapi juga membangun merek dan kepercayaan konsumen.

Dampaknya nyata. Dari kapasitas produksi 10 kilogram bahan baku per hari, kini C'milzea mampu mengolah lebih dari 50 kilogram per hari. Omzet yang semula hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan, melonjak hingga puluhan juta rupiah. Rosyidah bahkan mampu merekrut ibu-ibu tetangga sebagai tenaga produksi, sehingga menciptakan lapangan kerja langsung bagi delapan kepala keluarga di desanya. Lingkaran ekonomi lokal mulai berputar kencang.

Tidak berhenti di situ, produk-produk C'milzea kini telah merambah kota-kota besar di luar wilayahnya. Pemesanan datang melalui platform daring dan jejaring reseller. Kehadiran kemasan yang menarik dan izin edar dari Dinas Kesehatan semakin menguatkan posisi C'milzea di tengah persaingan pasar camilan modern. Produk andalan seperti stik cumi pedas manis dan abon tuna kini menjadi buah tangan khas daerah tersebut.

Menularkan Semangat dan Kemandirian

Kisah Rosyidah menunjukkan bahwa perjalanan pulang seorang pekerja migran tidak harus berakhir di titik nol. Dengan dukungan yang tepat, pulang kampung justru bisa menjadi awal dari kemandirian ekonomi. Program sosial seperti BRI Peduli hadir bukan sebagai belas kasihan, melainkan sebagai mitra pertumbuhan. Modal bergulir yang diberikan disertai tanggung jawab pengembalian sehingga terbangun budaya usaha yang sehat dan berkelanjutan.

Rosyidah kini tidak hanya berfokus pada produksi. Ia aktif menjadi mentor bagi perempuan-perempuan di komunitasnya yang ingin memulai usaha sendiri. Ia membagikan pengalaman pasang surut merintis C'milzea, menekankan pentingnya menjaga kualitas produk dan pelayanan. Pesannya sederhana: jangan pernah meremehkan sumber daya di sekitar kita. Ikan dan hasil laut yang melimpah, jika dibungkus dengan kreativitas dan ketekunan, bisa menjadi pundi-pundi rupiah yang menjanjikan.

Ke depan, Rosyidah berharap mampu memperluas jejaring distribusi hingga ke luar provinsi dan menembus pasar ekspor dalam skala rumah tangga. Ia juga tengah menjajaki sertifikasi halal dan BPOM untuk menjangkau segmen pasar yang lebih luas. Semua itu dimulai dari satu langkah kecil: kembali ke akar, melihat potensi lokal, dan berani bermimpi besar. Bantuan teknis dan permodalan dari BRI Peduli menjadi katalis yang mempercepat langkah itu. Kini, C'milzea bukan sekadar label dagang—ia adalah simbol kebangkitan perempuan purna migran yang berhasil menulis ulang nasibnya sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User