Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, kembali menggetarkan panggung diplomasi budaya dengan merujuk pada warisan pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Dalam sebuah forum yang mempertemukan pemuka agama dan negarawan, Khamenei menyitir ungkapan Bung Karno tentang urgensi persatuan di tengah kemajemukan. Momen ini sontak menuai atensi, tidak hanya karena bobot pesannya, tetapi juga karena jembatan sejarah yang terajut antara dua peradaban besar Muslim: Iran dan Indonesia.
Yang membuat pengutipan ini istimewa adalah konteksnya. Khamenei tidak sekadar menyebut nama Soekarno sebagai tokoh pendiri bangsa, melainkan menyelami substansi pidato sang proklamator untuk menegaskan persatuan sebagai prasyarat mutlak kekuatan nasional dan keutuhan umat. Di hadapan audiens yang terdiri dari ulama, akademisi, dan pejabat negara, ia menyampaikan bahwa pesan Soekarno tentang "bersatu dalam perbedaan" adalah panggilan abadi yang tidak lekang oleh zaman maupun batas geografis. Dengan intonasi yang tenang tapi penuh penekanan, Khamenei memaknai bahwa hanya dengan mengedepankan persatuan, sebuah bangsa dapat berdiri tegak di atas fondasi yang rapuh sekalipun.
Momen Bersejarah di Balik Pengutipan
Pengutipan itu terjadi dalam pertemuan tahunan yang digelar terkait solidaritas Islam dan peran pemuda dalam membangun peradaban. Khamenei, yang dikenal jarang merujuk tokoh di luar lingkar sejarah Islam Syiah, secara mengejutkan mengangkat kisah perjuangan Soekarno dalam mempersatukan Nusantara yang sarat mozaik etnis, bahasa, dan keyakinan. "Pemimpin Anda, Soekarno, telah memberikan warisan luar biasa: ia mempersatukan rakyat tanpa memaksa mereka meninggalkan identitas aslinya," ujarnya, seperti dituturkan sejumlah peserta yang hadir. Kalimat itu, meskipun diutarakan setahun silam, baru mencuat ke permukaan publik setelah para analis hubungan internasional mengangkatnya dalam kajian lintas peradaban.
Menurut catatan sejarah lisan yang beredar di kalangan cendekiawan Tehran, Khamenei merenung cukup lama tentang bagaimana Soekarno mampu merangkul para pemimpin Islam dan nasionalis sekuler—bahkan kelompok Kristen dan Hindu—dalam satu barisan perlawanan terhadap kolonialisme. Ia terkesan pada momen ketika Bung Karno, dalam sebuah pidato di masa awal kemerdekaan, menyerukan agar masyarakat Indonesia tidak terkotak-kotak oleh sekat agama dan ideologi. Bagi Khamenei, model kepemimpinan semacam itu adalah antidot bagi perpecahan yang kerap melanda Dunia Islam saat ini.
Pidato Bung Karno yang Menembus Batas Waktu
Soekarno memang dikenal sebagai orator ulung yang selalu menempatkan persatuan nasional di atas segalanya. Gagasannya tentang "Nasionalisme, Agama, dan Komunisme" (NASAKOM) mungkin kontroversial, tetapi inti dari pemikirannya tidak lain adalah merangkul seluruh elemen bangsa. Lebih dari itu, Pancasila yang digalinya dari kearifan lokal menawarkan platform bersama bagi semua golongan. Dalam konteks inilah Khamenei melihat relevansi yang kuat. "Perbedaan keyakinan atau pandangan politik tidak boleh menjadi tembok yang memecah belah umat manusia," begitu intisari pesan Soekarno yang dikutip oleh Pemimpin Iran tersebut.
Sumber-sumber menyebut bahwa Khamenei mengacu pada salah satu pidato Bung Karno yang menekankan pentingnya toleransi aktif: bukan sekadar membiarkan perbedaan, tetapi mengelolanya sebagai kekuatan. Pidato tersebut diyakini disampaikan dalam sebuah forum internasional di era 1950-an, saat Indonesia baru saja memproklamasikan diri dan tengah mencari legitimasi di mata dunia. Di sinilah letak kecemerlangan Soekarno: ia berhasil menerjemahkan kebinekaan menjadi modal politik dan diplomatik.
Makna Strategis di Balik Rujukan Lintas Bangsa
Bagi Iran, yang juga memiliki keragaman etnis—Persia, Azeri, Kurdi, Arab, dan Baloch—serta minoritas agama seperti Kristen, Yahudi, dan Zoroaster, pesan Soekarno menemukan lahan subur. Khamenei, melalui rujukannya, seolah ingin menyampaikan bahwa nasionalisme inklusif adalah kunci stabilitas negara. Di tengah tekanan geopolitik dan sanksi ekonomi yang berkepanjangan, soliditas domestik menjadi benteng utama. Mengutip Soekarno adalah cara elegan untuk mengajak rakyat Iran menutup celah perpecahan yang bisa dieksploitasi musuh.
Pengamat politik Timur Tengah menilai langkah ini bukan sekadar retorika. Ini adalah bentuk diplomasi lunak yang cerdas: menggarisbawahi kedekatan ideologis dengan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tanpa harus mengorbankan prinsip revolusi. Indonesia, dengan sejarah panjang toleransinya, menjadi model yang aman untuk dirujuk. Khamenei, sebagai pemimpin spiritual sekaligus politik, memanfaatkan momen itu untuk menjangkau hati konstituennya yang lebih luas, termasuk generasi muda yang semakin kritis terhadap isu-isu keberagaman.
Gema di Nusantara: Kebanggaan dan Refleksi
Kabar bahwa Pemimpin Tertinggi Iran mengutip Bung Karno langsung menggema di Indonesia. Sejumlah tokoh masyarakat dan politikus menyambut positif. "Ini membuktikan bahwa pemikiran para pendiri bangsa kita mendunia dan masih relevan," ujar seorang sejarawan dari Universitas Indonesia. Di sisi lain, momen ini juga membuka ruang introspeksi: sudahkah masyarakat Indonesia sendiri benar-benar mengamalkan nilai persatuan yang diwariskan Soekarno? Di tengah polarisasi politik dan meningkatnya tensi identitas, rujukan dari negeri sejauh Iran menjadi cermin yang memantulkan paradoks realitas hari ini.
Respons resmi dari pemerintah pun tidak kalah hangat. Kementerian Luar Negeri menyatakan apresiasinya dan menekankan bahwa hubungan Indonesia-Iran tidak hanya bersifat transaksional di bidang ekonomi dan energi, tetapi juga memiliki kedalaman kultural. "Warisan intelektual seperti ini menjadi fondasi persahabatan dua bangsa yang berakar pada penghormatan terhadap kemanusiaan dan perdamaian," demikian bunyi rilis yang dikeluarkan. Kunjungan-kunjungan kebudayaan pun diproyeksikan akan ditingkatkan, termasuk seminar dan simposium yang mengkaji pemikiran Soekarno dalam panggung internasional.
Pelajaran untuk Generasi Kini
Di era yang ditandai oleh derasnya arus informasi dan kerapuhan kohesi sosial akibat media sosial, warisan persatuan ala Soekarno menjadi semacam kompas moral. Generasi muda, baik di Indonesia maupun Iran, dapat memetik hikmah bahwa identitas tidak harus menjadi benteng eksklusif, melainkan jembatan menuju kebersamaan yang lebih bermakna. Khamenei, dengan merujuk pada sang proklamator, sesungguhnya sedang mewariskan pesan yang sama: bahwa masa depan peradaban ditentukan oleh seberapa mampu kita merawat kemajemukan.
Para pendidik mulai mengintegrasikan perspektif ini ke dalam kurikulum kewarganegaraan. Di Iran, sejumlah universitas membuka diskusi tentang Pancasila sebagai studi kasus ideologi pemersatu. Di Indonesia, antusiasme untuk mengkaji ulang pemikiran Bung Karno mendapat suntikan energi baru. Momen Khamenei yang mengutip Soekarno adalah angin segar yang mengingatkan kita bahwa nilai-nilai luhur tidak pernah usang; ia bisa dinyalakan lagi dari belahan dunia mana pun, oleh siapa pun, untuk kemanusiaan yang lebih utuh.
Menatap ke Depan: Kolaborasi Berbasis Nilai
Lebih jauh, pengutipan ini membuka peluang kolaborasi strategis yang lebih dalam antara Indonesia dan Iran di bidang diplomasi budaya dan dialog antaragama. Kedua negara dapat mempelopori forum pemuda Islam yang mendorong toleransi dan moderasi, sekaligus melawan narasi ekstremisme yang seringkali memanfaatkan sekat-sekat perbedaan. Model Soekarno tentang "ketuhanan yang berkebudayaan" berpotensi menjadi kerangka bersama untuk mengampanyekan wajah Islam yang ramah dan merangkul.
Dengan demikian, apa yang disampaikan Khamenei bukan sekadar kenangan manis seorang pemimpin terhadap tokoh bangsa lain. Ini adalah pengakuan bahwa ide besar tentang persatuan tidak terikat pada satu benua atau satu masa. Ia adalah napas yang terus mengalir, menunggu dihirup oleh mereka yang berani memimpikan dunia yang lebih adil dan padu. Ketika seorang Pemimpin Tertinggi Iran menggema ulang pesan Soekarno, sesungguhnya ia sedang menegaskan bahwa perjuangan untuk persatuan adalah agenda peradaban yang tak pernah selesai—dan harus diperjuangkan tanpa henti, dari Teheran hingga Jakarta.
Comments (0)