Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik per 2025, konsumsi susu nasional mencapai sekitar 4,4 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya berkisar 900 ribu ton atau kurang dari seperempat kebutuhan. Artinya, lebih dari 75% pasokan susu nasional masih berasal dari impor. Kondisi ini menjadi perhatian serius Menteri Pertanian, yang memperingatkan bahwa dalam tiga tahun mendatang Indonesia berpotensi sepenuhnya bergantung pada susu impor jika tidak ada intervensi struktural yang signifikan.
Fundamental Industri Persusuan yang Rapuh
Di satu sisi, tren konsumsi susu nasional menunjukkan kenaikan year-on-year sekitar 4-6% seiring pertumbuhan kelas menengah dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Proyeksi Bappenas menempatkan kebutuhan susu nasional dapat menyentuh 5,5 juta ton pada 2028. Lonjakan permintaan ini, tanpa diimbangi kapasitas produksi domestik, akan memperlebar defisit neraca perdagangan sektor peternakan. Nilai impor susu dan produk olahannya sendiri tercatat menembus USD 1,5 miliar atau setara Rp23 triliun per tahun, angka yang signifikan bagi struktur perdagangan pangan nasional.
Di sisi lain, populasi sapi perah nasional justru stagnan bahkan mengalami penurunan di beberapa sentra produksi seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah. Data Ditjen Peternakan menunjukkan populasi sapi perah nasional berada di kisaran 580 ribu ekor, turun dari posisi 600 ribu ekor lima tahun lalu. Rendahnya populasi ini berbanding lurus dengan lemahnya produksi susu segar domestik. Peternak rakyat yang mendominasi struktur industri mengeluhkan harga jual susu segar di tingkat peternak yang hanya berkisar Rp5.500-Rp6.500 per liter, sementara biaya produksi pakan dan tenaga kerja terus mengalami kenaikan.
"Kalau tidak ada terobosan dalam tiga tahun, kita bisa 100% bergantung pada susu impor. Ini bukan hanya soal ekonomi, tapi kedaulatan pangan," tegas Menteri Pertanian dalam sebuah wawancara.
Likuiditas dan Portofolio Sektor Peternakan
Dari perspektif likuiditas, akses permodalan bagi peternak sapi perah masih menjadi kendala utama. Rasio kredit usaha rakyat yang terserap sektor peternakan hanya sekitar 6-7% dari total portofolio KUR di sektor pertanian. Sementara itu, perbankan memandang sektor ini berisiko tinggi karena siklus produksi susu yang panjang dan fluktuasi harga yang tidak menentu. Sentimen pasar terhadap investasi di sektor persusuan pun cenderung lemah, terlihat dari minimnya capital inflow ke industri pengolahan susu hulu.
Pro: Pemerintah telah menyiapkan program pengembangan sapi perah melalui skema kredit murah dan bantuan bibit unggul. Jika berjalan sesuai rencana, produksi susu domestik diproyeksikan naik menjadi 1,3 juta ton pada 2027. Beberapa investor swasta juga mulai melirik pengembangan peternakan modern dengan skala ekonomi yang lebih efisien. Kontra: Program serupa pernah dicanangkan tahun 2018 dengan target swasembada susu 2025, namun realisasinya jauh dari harapan. Struktur biaya pakan yang didominasi impor bahan baku menjadikan industri ini rentan terhadap gejolak nilai tukar. Setiap pelemahan rupiah sebesar 10% langsung mengerek biaya produksi susu domestik secara signifikan.
Proyeksi dan Implikasi Jangka Panjang
Jika tidak ada perubahan fundamental, indeks ketergantungan impor susu dapat melonjak dari 75% menjadi 85-90% dalam tiga tahun. Implikasinya tidak hanya pada defisit transaksi berjalan, tetapi juga pada harga susu di tingkat konsumen yang semakin terpapar risiko volatilitas global. Valuasi industri pengolahan susu nasional akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas susu internasional serta kebijakan negara eksportir seperti Selandia Baru, Australia, dan Uni Eropa.
Diperlukan reformasi struktural yang menyentuh hulu hingga hilir: penguatan populasi sapi perah melalui inseminasi buatan massal, diversifikasi pakan lokal berbasis hijauan tropis, hingga insentif fiskal bagi peternak yang mampu mencapai skala ekonomi tertentu. Tanpa itu, peringatan tiga tahun ini bukan sekadar alarm, melainkan proyeksi yang sulit dihindari.
Comments (0)