Kerupuk Kulit Jakarta Tembus Pasar Inggris, Bertahan Dua Dekade
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik mengenai kinerja industri makanan olahan skala mikro, kecil, dan menengah per 2025, sektor pengolahan makanan ringan berbasis prote...
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian dan Badan Pusat Statistik mengenai kinerja industri makanan olahan skala mikro, kecil, dan menengah per 2025, sektor pengolahan makanan ringan berbasis protein hewani mencatat pertumbuhan nilai tambah yang cukup konsisten. Di tengah tren tersebut, sebuah rumah produksi kerupuk kulit di Jakarta—yang mengolah sekitar 150 kilogram kulit sapi per hari—menjadi salah satu contoh usaha yang mampu bertahan lebih dari dua dekade dan menembus pasar ekspor, termasuk Inggris. Usaha yang dirintis sejak 1999 ini menunjukkan bahwa fundamental bisnis berbasis pengolahan bahan baku lokal masih memiliki ruang tumbuh di pasar global.
Dari Kulit Sapi Lokal ke Rak Toko Inggris
Secara ekonomi, kulit sapi merupakan produk sampingan dari industri pemotongan hewan yang sering kali memiliki nilai jual rendah. Melalui proses pengolahan—perendaman, pembersihan, pemotongan, penggorengan, hingga pengemasan—komoditas ini berubah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Dengan kapasitas 150 kilogram per hari, rumah produksi tersebut secara teoretis mampu menghasilkan sekitar 45 hingga 60 kilogram kerupuk kulit siap jual per hari, tergantung tingkat penyusutan (shrinkage) yang umumnya berkisar 60–70 persen pada proses penggorengan.
Jika diasumsikan harga jual rata-rata Rp80.000 per kilogram di pasar domestik dan dua hingga tiga kali lipat di pasar ekspor, maka nilai penjualan harian dapat mencapai Rp4,8 juta hingga Rp14,4 juta per hari, atau setara Rp1,4 miliar hingga Rp4,3 miliar per tahun dengan asumsi 300 hari kerja. Angka ini menempatkan usaha tersebut pada kategori menengah yang mampu menyerap tenaga kerja tetap sekaligus menjadi simpul permintaan bagi peternakan dan rumah potong hewan di sekitar Jakarta.
Pro: Permintaan Ekspor dan Ketahanan Rantai Pasok
Di satu sisi, penetrasi ke pasar Inggris menunjukkan bahwa produk makanan ringan tradisional Indonesia memiliki daya saing dari sisi cita rasa dan keunikan. Pasar Inggris dikenal memiliki komunitas diaspora Asia yang besar serta konsumen yang semakin terbuka terhadap camilan bertekstur renyah dan berprotein tinggi. Dari perspektif ekonomi, ekspor memberi keuntungan berupa diversifikasi pasar, sehingga pelaku usaha tidak sepenuhnya bergantung pada daya beli domestik yang rentan terhadap fluktuasi inflasi pangan.
Keunggulan lain terletak pada struktur biaya. Bahan baku kulit sapi relatif melimpah dan berharga rendah, sementara proses produksi padat karya sehingga penyerapan tenaga kerja per unit output cukup tinggi. Ketika nilai tukar rupiah melemah, produk ini otomatis menjadi lebih kompetitif di pasar internasional—sebuah fenomena yang dalam istilah ekonomi disebut exchange rate pass-through, yaitu transmisi perubahan kurs terhadap harga ekspor.
Kontra: Standar Mutu, Logistik, dan Ketergantungan Bahan Baku
Namun di sisi lain, ekspor ke negara dengan standar keamanan pangan ketat seperti Inggris menuntut kepatuhan terhadap regulasi yang tidak sederhana. Sertifikasi keamanan pangan, pelacakan asal bahan baku (traceability), serta standar higienitas menjadi prasyarat yang menambah biaya tetap. Bagi usaha mikro dan kecil, beban ini bisa menjadi hambatan masuk (barrier to entry) yang signifikan. Biaya logistik pengiriman produk kering dalam jumlah besar ke Eropa juga menekan margin, terutama karena kerupuk kulit bersifat bulky—memakan volume besar relatif terhadap beratnya.
Risiko kedua adalah fluktuasi pasokan kulit sapi. Ketika harga kulit sapi naik akibat permintaan industri lain seperti kerajinan dan pakan ternak, biaya produksi ikut terdorong naik. Karena harga jual di pasar ekspor biasanya terikat kontrak, kenaikan biaya bahan baku tidak selalu bisa langsung diteruskan ke pembeli, sehingga margin bisa tertekan. Di sinilah pentingnya manajemen portofolio produk dan efisiensi likuiditas usaha agar tetap sehat saat siklus harga komoditas berubah.
Proyeksi dan Sentimen Pasar
Ke depan, prospek industri kerupuk kulit sangat bergantung pada kemampuan pelaku usaha menaikkan skala produksi tanpa mengorbankan mutu. Pemerintah melalui berbagai program kemitraan ekspor dapat membantu dari sisi pembiayaan dan sertifikasi. Dengan fundamental yang kuat, tren permintaan camilan berbasis protein diperkirakan masih tumbuh, terutama di pasar negara maju. Namun tanpa perbaikan pada aspek logistik, standar mutu, dan stabilitas pasokan bahan baku, pertumbuhan tersebut berpotensi tidak merata antarpelaku usaha.
"Ketahanan usaha pangan olahan selama lebih dari dua dekade biasanya ditopang oleh kombinasi konsistensi mutu dan kemampuan membaca peluang pasar, bukan semata faktor harga," ujar seorang pengamat industri makanan olahan.
Sebagai catatan bagi pembaca, angka-angka dalam artikel ini merupakan estimasi berbasis asumsi umum industri dan bukan proyeksi resmi pelaku usaha. Yang jelas, dari kacamata ekonomi, kisah kerupuk kulit Jakarta ini menggambarkan bagaimana komoditas bernilai rendah dapat naik kelas melalui pengolahan, ketekunan, dan orientasi pasar yang tepat.
Comments (0)