Oct 09, 2026
Bisnis

Fesyen Makassar Angkat Aksara Lontara, UMKM Tumbuh di Tengah Tren Budaya

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. ...

Fesyen Makassar Angkat Aksara Lontara, UMKM Tumbuh di Tengah Tren Budaya

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor UMKM menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap hampir 97 persen tenaga kerja. Di tengah angka makro tersebut, segmen UMKM kreatif berbasis warisan budaya menunjukkan tren pertumbuhan yang menarik untuk dicermati. Salah satu contohnya adalah Ripuji Lontaratta, jenama fesyen asal Makassar yang mengangkat aksara Lontara sebagai identitas desainnya.

Fenomena ini bukan sekadar cerita inspiratif individual. Ia mencerminkan pergeseran preferensi konsumen yang mulai menghargai produk lokal bernilai budaya, sekaligus menunjukkan bagaimana pelaku usaha kecil dapat membangun fundamental bisnis di tengah persaingan pasar yang ketat.

Menggabungkan Desain Modern dan Warisan Aksara

Ripuji Lontaratta didirikan oleh As'ad Fadli dengan pendekatan yang relatif berbeda dari kebanyakan jenama fesyen arus utama. Alih-alih mengikuti tren global secara mentah, ia memasukkan aksara Lontara — sistem tulisan tradisional Bugis-Makassar — ke dalam elemen desain produk fesyennya. Strategi ini menempatkan produk pada ceruk pasar tertentu: konsumen yang mencari keunikan sekaligus nilai kultural.

Secara ekonomi, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya membangun diferensiasi produk, yakni strategi menciptakan keunggulan kompetitif dengan menawarkan sesuatu yang tidak mudah ditiru pesaing. Dalam pasar fesyen yang sangat terfragmentasi, diferensiasi menjadi kunci untuk menghindari perang harga yang menggerus margin.

Di satu sisi, pendekatan budaya ini membuka peluang ekspor dan kolaborasi dengan sektor pariwisata. Produk bernuansa etnik memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan mancanegara maupun pasar diaspora. Di sisi lain, ceruk pasar yang sempit membuat skala produksi sulit membesar, sehingga biaya per unit cenderung lebih tinggi dibanding produk massal.

Peran Pendanaan dan Literasi Keuangan UMKM

Pertumbuhan usaha seperti Ripuji Lontaratta tidak lepas dari akses permodalan. Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan masih berada di kisaran 19-20 persen pada 2023, meskipun pemerintah menargetkan porsi tersebut naik menuju 30 persen. Kesenjangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi pelaku usaha kreatif yang umumnya tidak memiliki agunan aset tetap.

Sejumlah bank nasional mengembangkan program pendampingan bagi UMKM binaan, mencakup pelatihan manajemen, pemasaran digital, hingga fasilitasi sertifikasi produk. Bagi usaha fesyen berbasis budaya, dukungan semacam ini penting untuk memperbaiki tata kelola keuangan dan memperkuat struktur modal kerja.

"UMKM kreatif memiliki nilai tambah kultural, tetapi sering menghadapi kendala pada sisi pembukuan dan akses pasar. Pendampingan yang berkelanjutan menjadi penentu apakah mereka bisa naik kelas," ujar seorang pengamat ekonomi kreatif.

Dari perspektif likuiditas, usaha kecil dengan siklus produksi tidak teratur rentan terhadap fluktuasi arus kas. Musim permintaan yang tidak merata — misalnya lonjakan saat momen tertentu dan sepi di bulan biasa — menuntut manajemen persediaan yang disiplin. Tanpa itu, valuasi usaha cenderung stagnan meski pertumbuhan omzet terlihat positif.

Pro dan Kontra Ekonomi Berbasis Budaya

Pro: Pelestarian aksara Lontara melalui produk komersial menciptakan nilai ekonomi sekaligus menjaga warisan budaya. Setiap produk yang terjual menjadi media edukasi tidak langsung. Selain itu, identitas budaya yang kuat dapat memperkuat daya saing di pasar global, terutama ketika konsumen internasional mencari autentisitas. Tren ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif yang ditargetkan menyumbang kontribusi signifikan terhadap PDB nasional.

Kontra: Mengandalkan narasi budaya saja tidak cukup untuk menjamin keberlanjutan usaha. Tanpa efisiensi produksi, pengendalian mutu, dan strategi distribusi yang matang, sebuah jenama berisiko terjebak pada segmen pasar terbatas. Sentimen pasar terhadap produk etnik juga bersifat siklikal — naik saat tren budaya menguat, dan bisa menurun ketika perhatian konsumen beralih. Selain itu, pelaku usaha harus waspada terhadap risiko apropriasi budaya jika tidak dikelola dengan pemahaman yang tepat.

Dari kacamata makro, kisah Ripuji Lontaratta merepresentasikan potensi sekaligus keterbatasan UMKM kreatif Indonesia. Proyeksi pertumbuhan sektor ekonomi kreatif yang berada di kisaran 5-7 persen per tahun secara year-on-year memberi ruang optimisme. Namun, fundamental usaha tetap harus dibangun di atas manajemen keuangan yang sehat, bukan hanya kekuatan narasi.

Ke depan, kombinasi antara pelestarian budaya, inovasi desain, dan disiplin bisnis akan menentukan apakah jenama-jenama semacam ini mampu bertahan dan berkembang. Indeks keberhasilan tidak diukur dari viralnya sebuah cerita, melainkan dari kemampuan menjaga arus kas, memperluas pasar, dan menciptakan dampak ekonomi berkelanjutan bagi komunitas di sekitarnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User