Merajut Jadi Bisnis: UMKM Handmade Tembus Pasar Ekspor

Industri kreatif nasional kembali mencatatkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sek...

Oct 10, 2026 - 17:08
0 0
Merajut Jadi Bisnis: UMKM Handmade Tembus Pasar Ekspor

Industri kreatif nasional kembali mencatatkan tren positif. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah per akhir 2023, sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang sekitar 61 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan subsektor kriya dan fesyen menjadi salah satu kontributor terbesar. Di tengah angka makro tersebut, kisah EKKYTA—sebuah usaha kreatif yang berawal dari hobi merajut—menjadi contoh bagaimana fundamental bisnis yang kuat mampu menembus pasar ekspor.

EKKYTA mulai dirintis sejak 2011. Berawal dari aktivitas merajut rumahan, pelaku usaha ini perlahan mengembangkan produk handmade yang memiliki nilai jual unik. Perjalanan lebih dari satu dekade itu menunjukkan bahwa ketekunan dan inovasi berkelanjutan dapat mengubah hobi menjadi portofolio bisnis yang berorientasi global.

Dari Hobi Menjadi Bisnis Bernilai Tambah

Perkembangan EKKYTA tidak terjadi dalam semalam. Pada tahun-tahun awal, skala produksi masih sangat terbatas, dengan likuiditas yang bergantung pada pesanan perorangan. Namun, fokus pada inovasi desain dan pelatihan keterampilan menjadi kunci. Pelaku usaha secara konsisten memperbarui motif, teknik, dan kualitas bahan untuk menjaga daya saing.

Dalam konteks ekonomi, langkah tersebut sejalan dengan teori nilai tambah (value added). Produk handmade memiliki keunggulan pada keunikan dan unsur kultural, sehingga tidak mudah disubstitusi oleh produk massal. Hal ini membuat produk kriya memiliki elastisitas harga yang lebih rendah di pasar premium, terutama di negara-negara dengan daya beli tinggi.

Di satu sisi, pencapaian pasar ekspor merupakan bukti bahwa produk lokal mampu bersaing secara internasional. Ekspor kriya Indonesia pada 2023 tercatat tumbuh positif, dengan negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jepang, dan beberapa negara Eropa. Sentimen pasar global terhadap produk ramah lingkungan dan buatan tangan (handmade) turut menguntungkan.

Di sisi lain, pelaku UMKM masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Biaya logistik, sertifikasi ekspor, hingga akses pembiayaan menjadi hambatan yang tidak ringan. Rasio kredit UMKM terhadap total kredit perbankan nasional masih berkisar 19–20 persen, jauh di bawah target pemerintah sebesar 30 persen. Artinya, capital outflow berupa pembayaran bahan baku impor dan biaya distribusi masih menjadi beban.

"UMKM kriya memiliki potensi ekspor yang besar, tetapi daya saingnya sangat bergantung pada pembinaan, akses pasar, dan pendampingan berkelanjutan," ujar seorang analis industri kreatif dalam sebuah forum diskusi ekonomi baru-baru ini.

Proyeksi dan Tantangan di Tengah Ketidakpastian Global

Ke depan, proyeksi pertumbuhan sektor kriya diperkirakan tetap positif, meski tidak lepas dari risiko perlambatan ekonomi global. Permintaan produk handmade cenderung inelastis terhadap fluktuasi ekonomi jangka pendek, karena konsumennya berasal dari segmen menengah ke atas. Namun, valuasi usaha tetap dipengaruhi oleh efisiensi produksi dan kemampuan menjaga konsistensi kualitas.

Pro: EKKYTA dan UMKM sejenis membuktikan bahwa inovasi dan pelatihan mampu mendorong penetrasi pasar ekspor tanpa harus bergantung pada modal besar. Kontra: tanpa dukungan pembiayaan dan infrastruktur ekspor yang memadai, pertumbuhan tersebut berisiko stagnan dan sulit naik kelas menjadi pemain global yang mapan.

Secara makro, keberhasilan usaha seperti EKKYTA memberikan sinyal positif bagi indeks kepercayaan pelaku usaha. Jika tren ini berlanjut, kontribusi UMKM terhadap ekspor nonmigas dapat meningkat dari sekitar 15 persen menjadi lebih tinggi dalam beberapa tahun mendatang. Pemerintah sendiri menargetkan porsi UMKM dalam ekspor mencapai 17 persen pada 2024.

Pelajaran bagi Ekosistem UMKM Nasional

Kisah EKKYTA menegaskan bahwa fondasi bisnis yang kuat dibangun dari konsistensi, bukan sekadar momentum. Pelatihan berkelanjutan, adaptasi desain, dan orientasi pasar menjadi faktor fundamental yang menentukan daya tahan usaha. Bagi pembaca awam, istilah "handmade" sesungguhnya merujuk pada produk yang dibuat dengan keterampilan tangan, sehingga memiliki keunikan dan nilai estetika tersendiri.

Dengan demikian, narasi pertumbuhan UMKM tidak cukup hanya diukur dari angka penjualan, tetapi juga dari kemampuan bertahan menghadapi gejolak ekonomi. EKKYTA menjadi contoh bahwa dari benang dan jarum, sebuah usaha dapat merangkai jalan menuju pasar internasional—sebuah pencapaian yang, jika direplikasi, berpotensi memperkuat struktur ekonomi nasional secara lebih merata.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User