Aug 25, 2026
Bisnis

Kepergian Gubernur BI Guncang Rupiah, Ditutup di Rp18.009

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini, mencatatkan posisi Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS). Koreksi harian sebesar 0,26 persen ini terjadi hanya beberapa jam s...

Kepergian Gubernur BI Guncang Rupiah, Ditutup di Rp18.009

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini, mencatatkan posisi Rp18.009 per dolar Amerika Serikat (AS). Koreksi harian sebesar 0,26 persen ini terjadi hanya beberapa jam setelah pengumuman mengejutkan bahwa Gubernur Bank Indonesia menyatakan mundur dari jabatannya. Pelaku pasar merespons dengan cepat, mengalihkan portofolio ke aset yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian arah kebijakan moneter.

Tekanan Langsung di Pasar Valas

Berdasarkan data transaksi antarbank, rupiah dibuka di level Rp17.962 dan terus melemah sepanjang sesi. Volume perdagangan tercatat 24 persen di atas rata-rata 20 hari terakhir, menandakan adanya aksi jual masif oleh investor asing. Indeks dolar AS yang menguat tipis ke 105,8 sebenarnya belum cukup untuk menjelaskan seluruh depresiasi. Yang jauh lebih dominan adalah sentimen domestik negatif pasca kekosongan kepemimpinan di bank sentral.

Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun langsung melonjak 14 basis poin ke 6,92 persen, cerminan bahwa premi risiko yang diminta investor meningkat tajam. Data dari OJK mencatat arus modal keluar (capital outflow) dari pasar obligasi mencapai Rp4,2 triliun dalam dua jam pertama setelah berita mundur. Angka ini belum termasuk potensi pelepasan di pasar saham yang membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,8 persen.

Dua Sisi Koin: Ketakutan dan Peluang

Di satu sisi, mundurnya Gubernur BI membuka ruang ketidakpastian yang tidak disukai pasar. Pelaku usaha khawatir proses transisi akan menunda keputusan strategis seperti penyesuaian suku bunga acuan. Pasar membutuhkan figur dengan kredibilitas teruji untuk menjaga stabilitas rupiah. Kekosongan ini ibarat menerbangkan pesawat tanpa kapten, ujar seorang ekonom senior. Ekspektasi terhadap kenaikan BI Rate yang selama ini menjadi tameng rupiah kini dipertaruhkan. Jika Dewan Gubernur yang baru terbentuk justru mengambil sikap lebih dovish, tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut ke kisaran Rp18.300 dalam jangka menengah.

Di sisi lain, sebagian analis menilai reaksi pasar bersifat sementara. Fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid: cadangan devisa per akhir bulan lalu masih US$150,2 miliar, inflasi inti terjaga di 2,1 persen, dan surplus neraca perdagangan berlanjut. Koreksi ini justru membuka peluang bagi investor jangka panjang. Secara historis, setiap kali rupiah menembus level psikologis 18.000 karena isu non-fundamental, biasanya terjadi rebound dalam 2–3 pekan, kata Kepala Riset sebuah bank investasi. Ia menunjuk intervensi ganda BI melalui operasi pasar terbuka dan lelang SBN sebagai pertahanan yang masih kuat.

Respons Cepat Otoritas dan Proyeksi

Bank Indonesia melalui juru bicaranya segera mengeluarkan pernyataan untuk menenangkan pasar. Disebutkan bahwa Dewan Gubernur tetap menjalankan fungsi operasional dan seluruh kebijakan moneter berjalan sesuai koridor yang telah ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur terakhir. BI juga menegaskan telah melakukan triple intervention pada pagi hari: di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian SBN dari pasar sekunder. Langkah ini berhasil mencegah pelemahan lebih dalam, meski belum mampu membalikkan arah.

Prospek rupiah ke depan sangat bergantung pada kecepatan Presiden menunjuk Gubernur BI definitif. Jika nama yang muncul berasal dari kalangan profesional dengan latar belakang moneter yang kuat dan pasar menilainya hawkish, maka rupiah berpotensi kembali menguat ke bawah Rp17.800. Sebaliknya, proses politik yang berlarut-larut dapat memperpanjang tekanan dan membuka peluang spekulasi. Data historis menunjukkan, dalam lima peristiwa pergantian Gubernur BI sebelumnya, rupiah rata-rata terdepresiasi 1,2 persen dalam sepekan pertama, lalu stabil kembali setelah nama pengganti diumumkan.

Dari kacamata teknikal, level Rp18.009 kini menjadi resistensi baru yang perlu diwaspadai. Apabila dalam dua hari ke depan rupiah tidak mampu menembus kembali ke bawah level tersebut, pergerakan menuju Rp18.100–Rp18.150 menjadi skenario yang patut diperhitungkan. Namun, sejumlah indikator seperti Relative Strength Index (RSI) mulai memasuki wilayah oversold, mengindikasikan bahwa tekanan jual mulai kehabisan tenaga. Investor disarankan untuk tidak panik dan memantau pernyataan resmi dari otoritas fiskal maupun moneter sebagai panduan. Yang pasti, ujian bagi fundamental rupiah baru saja dimulai, dan pasar akan terus mengawasi setiap detik perkembangan di Senayan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS admin

Comments (0)

User