Sep 15, 2026
Nasional

Kemenpar: Wisata Kuliner Jadi Alasan Utama 58 Persen Wisman ke Indonesia

Aroma ketumbar, serai, dan sangrai kelapa membumbung tinggi di tengah riuk-pikuk kawasan wisata kuliner malam. Di balik kepulan asap pembakaran sate dan ge

Kemenpar: Wisata Kuliner Jadi Alasan Utama 58 Persen Wisman ke Indonesia

Aroma ketumbar, serai, dan sangrai kelapa membumbung tinggi di tengah riuk-pikuk kawasan wisata kuliner malam. Di balik kepulan asap pembakaran sate dan gemerincik kuali penggorengan nasi goreng, tampak deretan pelancong asing dengan kamera menggantung di leher, antusias mengantre demi mencicipi keautentikan rasa lokal. Pemandangan ini bukan sekadar fenomena kebetulan di sudut kota. Berdasarkan temuan terbaru Kementerian Pariwisata, diplomasi rasa kini resmi menjadi jembatan utama yang menarik jutaan pasang mata—dan lidah—dunia ke Nusantara. Angka statistik mengejutkan mengonfirmasi bahwa 58,34 persen wisatawan mancanegara (wisman) menjadikan wisata kuliner sebagai alasan utama berkunjung ke Indonesia.

Magnet Aroma dan Diplomasi Rasa di Meja Makan

Pergeseran tren pariwisata global pascapandemi menunjukkan bahwa wisatawan tak lagi hanya berburu keindahan lanskap alam atau kemegahan bangunan bersejarah. Pengalaman rasa telah berintegrasi menjadi identitas utama perjalanan. Indonesia, dengan keberagaman lebih dari 1.300 suku bangsa dan puluhan ribu resep tradisional, memegang kartu truf dalam peta gastronomi dunia. Dari kelezatan rendang Sumatra Barat yang legendaris hingga gurihnya babi guling Bali serta pedasnya ayam betutu, kaya rempah menjadi daya pikat tanpa tanding.

"Wisatawan masa kini mencari keotentikan budaya melalui piring makanan mereka. Ketika mereka mencicipi rempah-rempah asli Indonesia di tempat asalnya, ada ikatan emosional dan pengalaman kultural mendalam yang tidak bisa digantikan oleh destinasi mana pun," ungkap seorang peneliti kebijakan gastronomi nasional.

Antara Potensi Ekonomi UMKM dan Tantangan Standarisasi

Tingginya minat wisman terhadap sektor kuliner memberikan dampak domino yang signifikan terhadap perekonomian arus bawah. Pedagang kaki lima, warung makan keluarga, hingga restoran berkonsep fine dining merasakan langsung geliat transaksi ini. Namun, di balik potensi jumbo tersebut, penelusuran di lapangan menunjukkan adanya sejumlah tantangan krusial, terutama menyangkut higiene sanitasi, kontinuitas pasokan bahan baku, serta standarisasi pelayanan skala internasional.

Berikut adalah peta preferensi daya tarik wisatawan mancanegara saat memilih destinasi liburan di Indonesia berdasarkan data terintegrasi:

Kategori Motivasi Kunjungan Persentase Estimasi Preferensi Dampak Langsung pada Ekonomi Lokal
Wisata Kuliner & Gastronomi 58,34% Sangat Tinggi (Penyedia Kuliner, Petani Rempah, UMKM)
Wisata Alam & Bahari 24,15% Sedang (Pemandu Lokal, Koperasi Wisata)
Wisata Budaya & Warisan Sejarah 12,51% Sedang (Pengrajin Seni, Sanggar Budaya)
Lainnya (MICE & Belanja) 5,00% Bervariasi

Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata terus mendorong peningkatan standar kebersihan dan pengemasan produk makanan lokal tanpa menghilangkan keaslian rasa tradisionalnya. Penguatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi kunci agar dominasi angka 58,34 persen ini dapat dikonversi menjadi pendapatan daerah yang berkelanjutan dan merata.

Mengakselerasi Program "Indonesia Spice Up The World"

Temuan bahwa mayoritas wisman memilih Indonesia karena makanan memperkuat urgensi program strategis nasional seperti Indonesia Spice Up The World. Program kolaboratif lintas kementerian ini bertujuan untuk mempromosikan rempah-rempah serta produk kuliner Nusantara ke pasar global, sekaligus mendorong pembukaan restoran Indonesia di berbagai kota utama dunia.

"Kuliner bukan lagi sekadar elemen pendukung pariwisata, melainkan penggerak utama (main driver) industri ini. Jika kita berhasil mengemas narasi dan kualitas higiene di balik setiap hidangan dengan baik, daya pikat Indonesia akan semakin tidak tertandingi," tegas pejabat Kementerian Pariwisata.

Langkah kongkret yang kini tengah digencarkan meliputi sertifikasi keselamatan pangan untuk warung tradisional, pemetaan jalur rute wisata gastronomi (gastronomy route) di destinasi unggulan seperti Bali, Joglosemar, dan Sumatra Barat, serta pelatihan pemandu wisata berkeahlian sejarah kuliner.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User