Sep 15, 2026
Nasional

BANDUNG — Program Wujudkan Anak Ceria Bantu Seragam Sekolah Keluarga Dhuafa

Di sebuah pemukiman padat di pinggiran Kota Bandung, jemari mungil Najwa Nada (7) menggenggam erat seragam sekolah baru yang masih beraroma kain pabrik. Ba

BANDUNG — Program Wujudkan Anak Ceria Bantu Seragam Sekolah Keluarga Dhuafa

Di sebuah pemukiman padat di pinggiran Kota Bandung, jemari mungil Najwa Nada (7) menggenggam erat seragam sekolah baru yang masih beraroma kain pabrik. Bagi sebagian besar anak dari keluarga mampu, sepasang seragam sekolah merupakan hal biasa menjelang tahun ajaran baru. Namun, di tangan Najwa dan keluarga dhuafa lainnya, paket seragam tersebut adalah sebuah kepastian yang menunda keputusasaan di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.

Senyum mengembang dari wajah lugunya saat mencoba pakaian tersebut. Selama ini, cita-cita Najwa untuk melangkah ke sekolah dasar terus dibayangi ketakutan orang tuanya yang tidak mampu membeli perlengkapan dasar. Realitas ini mencerminkan potret buram akses pendidikan di kawasan perkotaan, di mana biaya operasional dan perlengkapan sekolah kerap menjadi dinding pembatas yang memisahkan anak-anak rentan dari hak dasar mereka.

Realita Pahit di Balik Beban Logistik Sekolah

Penelusuran tim investigasi Beritadua.com mengindikasikan bahwa ancaman keputussekolahan di tingkat dasar saat ini bukan hanya disebabkan oleh biaya SPP—yang sebagian besar sudah ditanggung pemerintah melalui dana BOS—melainkan beban hidden costs atau biaya tersembunyi. Pembelian seragam, sepatu, tas, hingga buku pelengkap menelan biaya yang tidak sedikit bagi keluarga berpenghasilan tidak tetap.

Bagi buruh harian lepas atau pedagang kecil, pengeluaran awal masuk sekolah kerap memaksa mereka terjebak dalam utang atau menunda pendidikan anak. Bantuan langsung berupa perlengkapan sekolah menjadi angin segar yang sangat dinantikan.

"Saya bingung mau cari uang dari mana lagi untuk beli baju sekolah. Kalau tidak ada bantuan paket seragam ini, mungkin Najwa harus menunda sekolahnya. Bantuan ini benar-benar menyambung harapan kami," ungkap salah satu orang tua penerima manfaat dengan mata berkaca-kaca.

Melalui inisiatif program "Wujudkan Anak Ceria", ratusan paket perlengkapan sekolah didistribusikan secara langsung kepada keluarga yang terdata dalam kategori dhuafa. Program ini berfokus pada intervensi cepat untuk memastikan anak-anak usia sekolah tidak mengalami diskriminasi sosial maupun kendala fisik saat memulai proses belajar.

Mengikis Ketimpangan Akses Pendidikan di Perkotaan

Ketimpangan ekonomi yang membelenggu sektor pendidikan membutuhkan perhatian serius. Data lapangan menunjukkan adanya jarak yang sangat lebar antara pendapatan harian keluarga miskin kota dengan perkiraan pengeluaran logistik sekolah pada awal tahun ajaran baru.

Kategori Pengeluaran Estimasi Biaya Per Anak (Rp) Dampak terhadap Pendapatan Dhuafa
Seragam & Sepatu Baru 450.000 - 650.000 Menyita hingga 40% pendapatan bulanan
Buku & Alat Tulis 150.000 - 250.000 Beban tambahan yang sering tertunda
Transportasi & Penunjang 200.000 / bulan Risiko tinggi memicu anak putus sekolah

Pengamat kebijakan sosial menilai bahwa pemenuhan kebutuhan dasar sekolah seperti seragam memegang peranan psikologis yang amat vital bagi anak-anak. "Pendidikan adalah sarana mobilitas sosial paling efektif untuk memutus rantai kemiskinan intergenerasional. Ketika seorang anak merasa minder atau tidak bisa sekolah hanya karena tidak memiliki seragam, kita sedang membiarkan kemiskinan membelenggu masa depan mereka sejak dini," ujar peneliti sosiologi pendidikan.

Paket seragam di tangan Najwa Nada mungkin tidak serta-merta menghapus garis kemiskinan keluarga tersebut. Namun, seragam baru itu memberi mereka satu hal yang amat berharga: keyakinan bahwa mimpi anak-anak dhuafa berhak untuk terus diperjuangkan.

Program "Wujudkan Anak Ceria" menyasar ratusan anak rentan di Bandung untuk mencegah angka putus sekolah akibat tingginya biaya logistik pendidikan. Simak ulasan lengkapnya di website Beritadua.com.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS arif-budianto

Reporter Energi. Fokus pada kebijakan energi, transisi hijau, dan industri ekstraktif.

Comments (0)

User