Geger melanda kawasan pertokoan elektronik Glodok, Jakarta Barat, pada Kamis pagi saat seorang pembeli tak sengaja mengenali sosok di balik karung-karung beras di salah satu los pasar tradisional. Lelaki paruh baya berkaos oblong lusuh dan bertopi caping anyaman itu terciduk tengah menimbang beras untuk seorang pelanggan. Bukan pedagang biasa, ternyata ia adalah seorang mantan menteri yang pernah menduduki jabatan strategis pada era awal reformasi. Identitasnya sontak memicu perbincangan publik, terlebih fakta bahwa pihak keluarga mengaku sama sekali tidak mengetahui kegiatan rahasia ini.
Detik-Detik Terbongkarnya Misteri di Los Pasar
Berdasarkan penuturan beberapa saksi di lokasi, kejadian bermula sekitar pukul 08.30 WIB ketika seorang pria berambut putih yang memanggul karung beras berukuran 25 kilogram terekam kamera ponsel warga. Awalnya tak ada yang curiga, karena gaya berpakaian dan gerak-geriknya sama persis seperti kuli panggul pada umumnya. Namun, seorang pembeli yang juga mantan pegawai negeri di kementerian tempat sang tokoh pernah bertugas langsung mengenali raut wajah itu. "Saya kaget bukan main. Dulu beliau yang tanda tangan anggaran miliaran, sekarang saya lihat pakai caping lagi eceran beras. Saya sampai mundur tiga langkah," ujar saksi yang enggan disebut namanya.
Heboh pun pecah ketika pedagang sekitar diberi tahu. Dalam waktu singkat, los berukuran lima kali empat meter itu dipadati puluhan orang yang penasaran sekaligus ingin berfoto. Sang mantan menteri—sebut saja Pak Harto (bukan nama sebenarnya)—sempat berusaha menenangkan massa sambil tersenyum canggung dan menyebut dirinya hanya "warga biasa yang mencari ketenangan". Ia menegaskan tetap akan melanjutkan aktivitasnya meski identitasnya telah terungkap.
Keluarga Kaget, Tak Ada yang Tahu Soal Ini
Yang paling mengejutkan adalah pengakuan dari pihak keluarga. Istri dan kedua anak mantan menteri tersebut mengaku tak pernah sekalipun mendengar tentang rencana atau praktik berjualan beras. Selama ini, pria berusia 74 tahun itu setiap pagi berpamitan dengan alasan pergi jalan pagi atau bertemu kawan lama. "Bapak selalu pamit jam enam pagi, bilangnya mau cari angin ke Kota Tua. Pulang kadang bawa lumpia atau kerak telor, jadi kami nggak curiga sama sekali," ujar sang anak sulung saat dikonfirmasi via sambungan telepon. Keluarga baru mengetahui kegiatan itu setelah video viral beredar di grup WhatsApp.
Menurut informasi terdekat, mantan menteri itu memang sudah lama merasa gelisah dengan rutinitas pascapensiun yang serba diisi acara seminar dan konsultansi kebijakan. Hingga akhirnya sekitar empat bulan lalu diam-diam menyewa los kecil di blok belakang Pasar Glodok—lokasi yang tak terpantau sahabat dan kolega lamanya—dan memulai usaha beras menggunakan nama samaran. Modal diambil dari tabungan pribadi tanpa sepengetahuan istri. Ia bahkan memiliki buku catatan stok, daftar pemasok dari Karawang, serta langganan tetap yang sebagian besar adalah pemilik warung nasi di sekitar Jakarta Utara.
Respon dan Spekulasi Publik
Berita ini langsung memicu beragam komentar warganet. Tidak sedikit yang memuji kerendahan hati dan menyebutnya sebagai teladan pejabat yang tidak malu bekerja kasar. Di sisi lain, muncul pula dugaan motif ekonomi—apakah sang mantan menteri sedang mengalami kesulitan keuangan? Seorang kolega yang juga mantan direktur BUMN menampik anggapan tersebut. "Beliau masih terhitung berkecukupan, punya rumah di Menteng dan dua mobil. Saya kira ini bukan soal uang, tapi pilihan batin untuk kembali ke rakyat," katanya. Namun spekulasi terus berkembang, terutama setelah diketahui sang tokoh menolak semua tawaran jadi komisaris perusahaan swasta demi "berdagang yang jujur dan tak ada konflik kepentingan".
Pengelola Pasar Glodok menyatakan tidak akan mengusir pedagang dadakan tersebut, selama semua prosedur administrasi berupa sewa lapak dan izin usaha mikro terpenuhi—yang ternyata memang sudah diurus dengan atas nama orang lain. Sementara itu, asosiasi mantan pejabat tinggi negara yang biasa menggelar silaturahmi rutin mengaku syok dan akan mengundang yang bersangkutan untuk berbagi pengalaman. Aktivis antikorupsi memanfaatkan momen ini untuk mengkritik tajam pejabat aktif yang tak tersentuh, dengan menyindir bahwa "lebih terhormat mantan menteri jualan beras ketimbang yang sekarang jualan aset negara".
Antara Harmoni dan Ironi
Hingga berita ini diturunkan, Pak Harto masih setia menjaga los-nya meski liputan media mulai mengular. Saat ditanya soal perasaannya, dengan tenang ia menjawab, "Beras ini riil. Lebih jujur dari angka-angka yang dulu saya tanda tangani, kadang tanpa tahu ujungnya." Kalimat tersebut sontak menjadi bahan renungan banyak pihak. Di tengah pemberitaan korupsi para pejabat aktif, pemandangan seorang mantan pejabat negara menimbang beras seharga Rp12.000 per kilogram menghadirkan ironi yang menusuk sekaligus meneduhkan. Kini, publik menanti adakah langkah lanjutan dari sang mantan menteri, atau apakah justru aktivitas sunyinya di sudut Glodok ini akan menginspirasi para pensiunan lain untuk turun ke pasar daripada ke panggung politik.
Comments (0)