Aug 28, 2026
Bisnis

Kebakaran 125 Hektare Hutan Cemara Bromo Diduga Akibat Pembakaran Arang

Berdasarkan data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kebakaran hutan yang melanda kawasan Gunung Bromo menghanguskan lahan seluas 125 hektare, dengan mayoritas merupakan tegakan h...

Kebakaran 125 Hektare Hutan Cemara Bromo Diduga Akibat Pembakaran Arang

Berdasarkan data Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), kebakaran hutan yang melanda kawasan Gunung Bromo menghanguskan lahan seluas 125 hektare, dengan mayoritas merupakan tegakan hutan cemara gunung (Casuarina junghuhiana) yang menjadi ikon bentang alam taman nasional tersebut. Luas area yang terbakar itu setara dengan lebih dari 170 lapangan sepak bola, menjadikannya salah satu peristiwa kebakaran terbesar dalam catatan pengelolaan kawasan konservasi di Jawa Timur. Dugaan sementara dari pihak berwenang menyebutkan api berasal dari aktivitas warga yang membakar arang di sekitar kawasan hutan, meskipun penyelidikan resmi masih terus berjalan.

Kronologi Kejadian dan Dugaan Awal Penyebab

Kebakaran dilaporkan pertama kali oleh petugas patroli TNBTS ketika titik api mulai terlihat di kawasan lereng yang ditumbuhi cemara. Kondisi lahan yang kering akibat musim kemarau membuat api menjalar dengan cepat, diperparah oleh hembusan angin kencang yang khas di dataran tinggi. Dalam hitungan jam, api membesar dan melahap puluhan hektare, memaksa petugas gabungan dari TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk memadamkan api.

Dugaan awal mengarah pada praktik pembuatan arang oleh warga. Kegiatan ini dilakukan dengan menumpuk kayu, menutupnya dengan tanah dan dedaunan, lalu membakarnya secara perlahan hingga menjadi arang. Proses yang memakan waktu berhari-hari itu membutuhkan api terbuka yang terus menyala, sehingga berisiko tinggi menjalar ke vegetasi kering di sekitarnya ketika pengawasan lengah. Kepala Balai TNBTS menyatakan bahwa temuan awal di lokasi menguatkan dugaan tersebut, kendati masih diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan titik pangkal api secara pasti.

Dua Sisi: Aktivitas Warga versus Faktor Alam

Di satu sisi, temuan di lapangan mendukung hipotesis keterlibatan aktivitas warga. Petugas menemukan sejumlah tungku pembakaran arang di dekat titik awal api, dan sebagian warga lereng memang menggantungkan pendapatan tambahan dari usaha arang yang dijual ke pasar setempat. Secara ekonomi, usaha ini menjadi penyangga penghasilan rumah tangga di musim paceklik, sehingga larangan total tanpa solusi alternatif dinilai tidak realistis.

Di sisi lain, sejumlah pihak mengingatkan bahwa kesimpulan tunggal terlalu dini. Musim kemarau panjang membuat vegetasi di kawasan Bromo sangat rentan, dengan kelembaban udara rendah dan suhu yang meningkat. Faktor alam seperti sambaran petir atau percikan api dari aktivitas pengunjung pun tetap berpeluang menjadi pemicu. Para ahli ekologi menilai bahwa kebakaran di ekosistem gunung jarang disebabkan oleh satu faktor tunggal; kombinasi antara bahan bakar kering, angin, dan sumber api — apa pun bentuknya — adalah resep sempurna bagi bencana. Karena itu, tuduhan terhadap warga harus dibuktikan melalui penyidikan yang transparan agar tidak menimbulkan stigma sosial yang berkepanjangan.

Dampak Ekologis dan Ekonomi bagi Kawasan

Hutan cemara gunung yang terbakar bukan sekadar pemandangan. Secara ekologis, tegakan cemara berfungsi sebagai penahan erosi, pengatur tata air, dan habitat bagi flora serta fauna endemik kawasan Tengger. Regenerasi cemara berjalan sangat lambat; dibutuhkan waktu 10 hingga 20 tahun bagi tegakan muda untuk tumbuh kembali, dan fungsi ekologis penuh bisa pulih jauh lebih lama lagi. Tanah yang kehilangan tutupan vegetasi juga berisiko longsor ketika musim hujan tiba.

Dari sisi ekonomi, dampaknya terasa langsung bagi sektor pariwisata. Gunung Bromo merupakan salah satu destinasi wisata andalan nasional, dan kebakaran memaksa penutupan sementara sebagian jalur pendakian. Para pelaku usaha lokal — mulai dari pemilik kuda tunggang, penyewa jaket, hingga pengelola homestay dan warung — mengalami penurunan pendapatan yang signifikan dalam periode penutupan tersebut. Kerugian ekonomi langsung maupun tidak langsung diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah, belum termasuk biaya pemadaman dan rehabilitasi lahan yang ditanggung negara.

Upaya Pemulihan dan Pencegahan ke Depan

Setelah api berhasil dipadamkan, tahapan berikutnya adalah pendinginan dan patroli untuk mencegah api muncul kembali dari bara yang masih menyala di bawah tanah. Pihak TNBTS bersama pemangku kepentingan menyiapkan program rehabilitasi lahan, termasuk penanaman kembali bibit cemara dan penguatan sistem deteksi dini kebakaran. Sementara itu, upaya pencegahan jangka panjang menuntut pendekatan yang tidak semata-mata represif.

Penegakan hukum memang diperlukan; aturan yang ada mengancam pelaku pembakaran hutan dengan sanksi pidana yang berat. Namun pengalaman di berbagai kawasan konservasi menunjukkan bahwa larangan tanpa alternatif ekonomi hanya memindahkan masalah. Karena itu, program pemberdayaan warga sekitar hutan — mulai dari pengembangan usaha non-ekstraktif, pendampingan pemasaran, hingga insentif bagi masyarakat yang ikut menjaga kawasan — menjadi kunci agar hutan dan manusia bisa hidup berdampingan.

Kebakaran 125 hektare ini meninggalkan pelajaran berharga: bencana jarang lahir dari satu kesalahan, melainkan dari rantai kelalaian yang panjang. Memulihkan hutan cemara Bromo membutuhkan waktu bertahun-tahun, tetapi membangun kesadaran bersama jauh lebih cepat — asalkan semua pihak, dari petugas hingga warga lereng, bersedia duduk bersama.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User