Aug 28, 2026
Bisnis

Karhutla Kalimantan Berpotensi Ganggu Pasokan Unit Karbon Bursa

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per kuartal terakhir, akumulasi perdagangan unit karbon di pasar modal telah mencapai 1,9 juta ton CO2e sejak bursa karbon resmi beroperasi pada September 2...

Karhutla Kalimantan Berpotensi Ganggu Pasokan Unit Karbon Bursa

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per kuartal terakhir, akumulasi perdagangan unit karbon di pasar modal telah mencapai 1,9 juta ton CO2e sejak bursa karbon resmi beroperasi pada September 2023. Di tengah capaian tersebut, kabar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi perhatian baru bagi pelaku pasar: BEI menilai bencana ini berpotensi mengganggu pasokan unit karbon yang diperdagangkan di pasar modal dalam beberapa tahun ke depan.

Kekhawatiran itu beralasan karena sebagian pasokan unit karbon berasal dari proyek berbasis alam, seperti konservasi hutan dan restorasi lahan gambut. Ketika kawasan proyek terbakar, kapasitas penyerapan emisi menurun drastis sehingga proyeksi pasokan ikut terkoreksi. Bagi pembaca awam, unit karbon dapat dipahami sebagai sertifikat yang mewakili pengurangan emisi satu ton karbon dioksida, yang diperjualbelikan oleh perusahaan untuk mengimbangi emisi yang mereka hasilkan.

Karhutla Menekan Fundamental Pasokan Berbasis Alam

Berdasarkan pemantauan titik panas (hotspot) yang dirilis instansi terkait, sebaran kebakaran di Kalimantan mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren ini menjadi sinyal bahwa musim kemarau yang lebih kering meningkatkan risiko kebakaran pada lahan gambut, yang sulit dipadamkan dan menghasilkan emisi besar.

Proyek karbon berbasis alam umumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memverifikasi jumlah serapan karbonnya. Kebakaran di kawasan proyek dapat menghapus akumulasi serapan yang telah dihitung, sehingga unit karbon yang sudah diterbitkan maupun yang akan diterbitkan mengalami penurunan kualitas. Dalam jangka panjang, hal ini menekan fundamental pasokan dan berpotensi mendorong kenaikan harga unit karbon di bursa, mengingat jumlah yang tersedia semakin terbatas.

Dua Sisi Mata Uang: Sentimen Pasar versus Daya Tahan Bursa

Di satu sisi, karhutla membawa risiko nyata bagi pasar karbon domestik. Risiko reputasi menjadi isu paling krusial: kredibilitas kredit karbon Indonesia di mata investor global dapat dipertanyakan apabila proyek penyerapan emisinya terbakar. Investor institusional yang mengelola portofolio berkelanjutan umumnya sangat sensitif terhadap isu semacam ini. Kekhawatiran tersebut berpotensi memicu capital outflow dari instrumen berbasis alam dan menekan likuiditas perdagangan di bursa karbon dalam negeri.

Di sisi lain, dampak langsung terhadap operasional bursa dinilai masih terbatas. Struktur pasokan saat ini masih didominasi unit karbon berbasis teknologi, seperti yang dihasilkan pembangkit energi terbarukan, biomassa, dan program efisiensi energi, yang tidak terpengaruh oleh kebakaran hutan. Selain itu, volume perdagangan 1,9 juta ton CO2e masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan penurunan emisi nasional, sehingga gangguan pasokan di satu wilayah belum serta-merta menghentikan aktivitas bursa secara keseluruhan.

Karhutla memang menjadi risiko fundamental bagi pasokan karbon berbasis alam, tetapi dampaknya terhadap bursa secara keseluruhan bergantung pada proporsi unit berbasis teknologi dibandingkan berbasis alam. Yang perlu diwaspadai adalah efek jangka panjang terhadap kredibilitas pasar karbon domestik di mata pembeli internasional, ujar seorang analis yang memantau perkembangan pasar karbon regional.

Proyeksi dan Fundamental Makro

Perkembangan ini terjadi di tengah target ambisius Indonesia dalam menurunkan emisi. Berdasarkan dokumen kontribusi nasional (NDC), Indonesia menargetkan penurunan emisi sebesar 31,89 persen dengan upaya sendiri dan hingga 43,2 persen dengan dukungan internasional pada 2030. Pasar karbon menjadi salah satu instrumen pembiayaan penting untuk mencapai target tersebut, sehingga gangguan pada pasokannya memiliki implikasi makro yang tidak bisa diabaikan.

Dari sisi harga, unit karbon di bursa domestik sempat diperdagangkan pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp100 ribu per ton CO2e, jauh di bawah harga karbon di bursa internasional seperti Eropa yang dapat melampaui Rp1 juta per ton. Selisih valuasi ini menjadi daya tarik sekaligus tantangan: menarik minat pembeli yang mencari unit murah, tetapi menimbulkan pertanyaan tentang kualitas penyerapan emisinya.

Ke depan, tren perdagangan karbon diperkirakan terus mengalami kenaikan seiring makin banyaknya sektor yang diwajibkan memenuhi batas emisi. Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), misalnya, mulai diwajibkan mengikuti perdagangan karbon secara bertahap. Rasio antara permintaan dan pasokan akan menentukan arah pergerakan harga dalam beberapa tahun mendatang, dan karhutla menjadi salah satu variabel yang membuat proyeksi tersebut semakin tidak pasti.

Kesimpulan Analisis

Karhutla di Kalimantan mengingatkan bahwa pasar karbon tidak dapat dilepaskan dari risiko iklim yang justru ingin dikendalikannya. Di satu sisi, gangguan pasokan berbasis alam berpotensi menekan likuiditas dan memicu koreksi harga; di sisi lain, dominasi unit berbasis teknologi serta kecilnya volume relatif membuat bursa masih memiliki ruang untuk bertahan.

Kunci ke depan adalah penguatan tata kelola proyek karbon, pemantauan lahan secara berkala, dan diversifikasi sumber pasokan agar fundamental pasar tetap sehat. Tanpa itu, sentimen pasar dapat berubah sewaktu-waktu, dan proyeksi pertumbuhan perdagangan karbon yang optimistis berisiko tidak tercapai meskipun minat terhadap instrumen ini terus meningkat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS yudi-kurniawan

Analis Keuangan. Fokus pada pasar saham, obligasi, dan reksa dana. Pemegang sertifikasi CSA level 1.

Comments (0)

User