Aug 28, 2026
Bisnis

Danantara Housing Expo 2026: Cicilan 40 Tahun, Bunga 2,75 Persen

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal kedua 2026, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) nasional masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year di kisaran dua digit, sejalan dengan membaiknya fund...

Danantara Housing Expo 2026: Cicilan 40 Tahun, Bunga 2,75 Persen

Berdasarkan data Bank Indonesia per kuartal kedua 2026, penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) nasional masih mencatatkan pertumbuhan year-on-year di kisaran dua digit, sejalan dengan membaiknya fundamental ekonomi domestik. Di tengah tren itu, Danantara Indonesia menggelar Housing Expo 2026 yang menawarkan skema pembiayaan rumah dengan tenor hingga 40 tahun, harga mulai Rp120 juta, dan suku bunga 2,75 persen per tahun.

Skema tersebut menempatkan pameran ini pada posisi yang menarik di tengah persaingan produk pembiayaan perumahan. Untuk rumah dengan harga Rp120 juta, simulasi sederhana menunjukkan angsuran bulanan berada di kisaran Rp412 ribu apabila seluruh pembiayaan menggunakan bunga tetap 2,75 persen selama 40 tahun. Angka itu jauh lebih ringan dibandingkan tenor 20 tahun yang umumnya membebani angsuran hampir dua kali lipat.

Fundamental Makro dan Daya Beli Masyarakat

Proyeksi sejumlah ekonom menyebutkan bahwa kombinasi suku bunga acuan pada level moderat dan inflasi yang terkendali memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengambil pembiayaan jangka panjang. Likuiditas perbankan yang memadai turut menopang penyaluran kredit properti, sementara sentimen pasar terhadap sektor perumahan mulai membaik setelah beberapa tahun tertahan oleh tingginya suku bunga.

Di satu sisi, penawaran tenor 40 tahun merupakan jawaban atas persoalan keterjangkauan harga rumah di kota-kota besar. Rasio harga rumah terhadap pendapatan di Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan negara tetangga, sehingga perpanjangan tenor menjadi salah satu instrumen untuk menurunkan beban angsuran bulanan tanpa harus menunggu kenaikan pendapatan secara signifikan.

Di Sisi Lain: Beban Bunga Jangka Panjang

Namun, di sisi lain, tenor panjang menyimpan risiko yang perlu dicermati. Total kewajiban yang dibayar nasabah selama 40 tahun akan jauh melampaui harga rumah. Dengan angsuran sekitar Rp412 ribu per bulan, total pembayaran mencapai hampir Rp198 juta, artinya beban bunga kumulatif mendekati Rp78 juta atau sekitar 65 persen dari nilai rumah. Bagi pembeli dengan pendapatan fluktuatif, komitmen pembayaran selama empat dekade dapat menjadi beban struktural dalam portofolio keuangan keluarga.

Risiko kedua berkaitan dengan struktur suku bunga. Apabila skema bunga tetap hanya berlaku pada masa tertentu dan kemudian beralih ke bunga mengambang, kenaikan suku bunga acuan di masa depan dapat menggandakan beban angsuran. Riwayat capital outflow pada periode ketidakpastian global menunjukkan betapa cepatnya likuiditas dan suku bunga dapat berubah.

“Tenor panjang memang menurunkan angsuran bulanan, tetapi nasabah harus menghitung total kewajiban selama masa kredit. Jangan hanya melihat angka cicilan, lihat juga struktur bunganya,” ujar seorang analis properti yang enggan disebutkan namanya.

Stimulus, Likuiditas, dan Proyeksi Pasar Properti

Dari sisi kebijakan, pemerintah dan otoritas moneter terus mendorong sektor properti melalui berbagai stimulus, mulai dari insentif pajak hingga pelonggaran rasio loan to value (LTV). Kebijakan ini bertujuan menjaga pertumbuhan KPR tetap positif di tengah perlambatan konsumsi rumah tangga. Indeks harga properti residensial pada kuartal-kuartal terakhir menunjukkan tren kenaikan yang moderat, menandakan permintaan belum surut meskipun daya beli masih selektif.

Bagi pengembang, pameran semacam ini menjadi barometer sentimen pasar. Tingginya jumlah pengunjung yang memburu unit rumah menunjukkan bahwa permintaan terpendam masih besar, terutama dari kelompok milenial dan generasi Z yang mulai memasuki usia produktif untuk memiliki hunian pertama. Harga mulai Rp120 juta dengan bunga 2,75 persen menjadi daya tarik utama bagi segmen pembeli pertama kali.

Catatan Analis: Membaca Angka secara Utuh

Sebagai catatan, setiap skema pembiayaan memiliki dua sisi. Sisi positifnya, akses kepemilikan rumah menjadi lebih terbuka bagi kelompok berpendapatan menengah. Sisi lainnya, beban jangka panjang dan risiko perubahan suku bunga menuntut kehati-hatian dalam perencanaan keuangan. Kuncinya bukan pada tenor atau bunga semata, melainkan pada kesesuaian skema dengan kemampuan bayar dan stabilitas pendapatan masing-masing calon pembeli.

Proyeksi ke depan, sektor properti diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi nasional, sepanjang didukung stabilitas makro dan kebijakan yang konsisten. Namun, valuasi yang wajar dan transparansi skema pembiayaan tetap menjadi syarat utama agar momentum ini tidak berujung pada beban utang rumah tangga yang berlebihan. Dengan simulasi yang jujur dan perbandingan antarbank, calon pembeli dapat mengambil keputusan yang lebih rasional.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS sarah-anjani

Reporter Perbankan. Meliput OJK, LPS, dan industri jasa keuangan.

Comments (0)

User