Berdasarkan catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Indonesia mencatat lebih dari 3.000 kejadian bencana setiap tahun, dengan kerugian ekonomi yang kerap menembus belasan triliun rupiah. Di tengah gugusan angka itu, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi dua provinsi yang paling sering dilanda bencana hidrometeorologi: banjir, tanah longsor, hingga angin kencang. Dari sinilah langkah PT Permodalan Nasional Madani (PNM) menggelar turnamen olahraga bersama media massa menjadi menarik untuk disimak, bukan hanya karena nilainya, tetapi juga karena pesan yang ingin disampaikan.
Lewat ajang yang mempertemukan insan PNM dan jurnalis dari berbagai media itu, perusahaan pelat merah di bawah holding ultra mikro bersama BRI berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp26,8 juta untuk korban bencana di NTT dan NTB. Dana tersebut merupakan akumulasi dari iuran pendaftaran peserta, lelang barang, hingga donasi spontan penonton sepanjang turnamen berlangsung. Angka ini memang tidak besar jika dibandingkan kebutuhan pemulihan pascabencana yang bisa mencapai miliaran rupiah, tetapi nilainya justru terletak pada simbolisme kolaborasi lintas profesi.
Kolaborasi Media dan Korporasi: Energi Baru Galang Dana
Model penggalangan donasi melalui olahraga sebenarnya bukan hal baru di dunia filantropi. Yang membedakan kali ini adalah keterlibatan media sebagai mitra, bukan sekadar pemberita. Dalam struktur kerja sama semacam ini, media memainkan peran ganda: sebagai penyebar informasi sekaligus penggerak partisipasi publik. Bagi PNM, kolaborasi ini juga menjadi sarana membangun kedekatan dengan masyarakat, sebuah bentuk investasi reputasi jangka panjang yang tidak selalu bisa diukur dengan rasio keuangan semata.
Di sisi lain, pendekatan ini turut mengedukasi publik bahwa donasi tidak harus selalu datang dari kalangan atas. Turnamen olahraga membuka ruang partisipasi yang lebih cair: siapa pun bisa berkontribusi, dari nominal tiket masuk yang kecil hingga jumlah yang lebih besar. Semangat gotong royong semacam ini, menurut sejumlah pengamat filantropi, justru memperkuat ketahanan sosial masyarakat dalam menghadapi bencana yang datang berulang.
Di Satu Sisi: Dampak bagi Reputasi dan Ekonomi Lokal
Dari sudut pandang korporasi, aksi sosial semacam ini memiliki efek ganda. Pertama, donasi meringankan beban korban bencana di tengah terbatasnya anggaran pemerintah daerah. Kedua, dari sisi bisnis, keterlibatan dalam kegiatan sosial memperkuat citra perusahaan di mata nasabah, khususnya nasabah PNM Mekaar yang mayoritas adalah perempuan pelaku usaha mikro di daerah. Ketika perusahaan menunjukkan kepedulian terhadap daerah asal nasabahnya, loyalitas cenderung meningkat, dan pada gilirannya ikut menopang portofolio pembiayaan jangka panjang.
Ada pula dampak ekonomi yang lebih langsung. Aliran donasi ke NTT dan NTB menambah likuiditas, atau ketersediaan dana tunai, di tingkat rumah tangga terdampak, membantu mereka memenuhi kebutuhan pokok dan bahan bangunan. Dalam istilah ekonomi, ini adalah injeksi permintaan agregat berskala kecil yang membantu menggerakkan roda usaha lokal, dari toko material hingga warung makan, sehingga pemulihan tidak hanya menunggu turunnya bantuan pemerintah pusat.
Di Sisi Lain: Donasi Bukan Pengganti Mitigasi Struktural
Namun, para kritikus mengingatkan agar solidaritas jangan berhenti pada donasi. Bencana hidrometeorologi di NTT dan NTB cenderung berulang setiap tahun, yang menandakan akar masalahnya adalah persoalan tata ruang, degradasi lingkungan, dan lemahnya infrastruktur mitigasi. "Donasi itu penting, tetapi harus dibarengi perbaikan sistem peringatan dini dan penataan wilayah rawan bencana. Jika tidak, kita hanya memadamkan api tanpa memperbaiki kabel yang terbakar," ujar seorang akademisi kebencanaan yang enggan disebutkan namanya.
Kritik lain menyasar kesinambungan. Aksi sosial berbasis acara bersifat insidental; ketika turnamen usai, arus donasi ikut menurun. Belum lagi biaya operasional penyelenggaraan yang tidak sedikit. Pertanyaannya, apakah model ini bisa direplikasi secara rutin atau hanya menjadi agenda tahunan yang berhenti setelah sorotan kamera padam? Di sinilah transparansi menjadi kunci: publik perlu tahu bagaimana dana Rp26,8 juta itu disalurkan, kepada siapa, dan dengan mekanisme apa.
Proyeksi dan Pelajaran untuk Masa Depan
Ke depan, tren tanggung jawab sosial perusahaan di Indonesia bergerak dari sekadar derma menuju dampak terukur. Perusahaan dituntut tidak hanya menghitung berapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi seberapa besar perubahan yang dihasilkan. Dalam konteks NTT dan NTB, kolaborasi antara korporasi dan media bisa menjadi pintu masuk untuk program yang lebih struktural, misalnya pendampingan usaha mikro di daerah pascabencana, yang justru sejalan dengan mandat PNM sebagai penyalur pembiayaan ultra mikro.
Pada akhirnya, turnamen olahraga yang mengumpulkan Rp26,8 juta ini adalah potret kecil dari sebuah ekosistem: media mengamplifikasi pesan, korporasi menggerakkan sumber daya, dan masyarakat menyalurkan empati. Angkanya boleh kecil, tetapi pesannya besar: solidaritas lintas profesi bisa menjadi fondasi ketahanan sosial menghadapi bencana yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim, sekaligus pengingat bahwa upaya mitigasi tetap menjadi pekerjaan rumah yang tidak boleh ditinggalkan.
Comments (0)