Di balik sorot lampu panggung dan riuh tepuk tangan penonton, tersembunyi realitas perjuangan ekonomi yang menguras tenaga. Ni Luh Rusmila Dewi, perempuan berusia 38 tahun asal Karangasem, Bali, harus melipatgandakan perannya setiap hari demi membesarkan tiga orang buah hatinya secara mandiri tanpa kehadiran pasangan hidup.
Investigasi atas potret pekerja perempuan di pelosok Bali Timur ini menyingkap tabir kerasnya bertahan hidup di tengah himpitan biaya pendidikan dan kebutuhan harian. Mila Dewi, sapaan akrabnya, menjalani tiga mata rantai profesi sekaligus: tenaga administrasi sekolah, perajin kuliner mandiri, hingga biduan panggung lintas daerah.
Kronologi Rutinitas Harian: Bertarung Melawan Keterbatasan
Penelusuran terhadap rutinitas harian Mila Dewi menunjukkan bagaimana beban ganda dipikul tanpa jeda istirahat yang memadai. Setiap fase waktu dalam 24 jam telah dipetakan secara ketat untuk menopang stabilitas dapur rumah tangganya:
- Pukul 04.30 WITA: Memulai hari sebelum fajar menyingsing dengan mempersiapkan perlengkapan sekolah ketiga anaknya serta meracik bahan baku untuk usaha kuliner dimsum mentai.
- Pukul 07.30 WITA: Menjalankan tugas kedinasan di bidang Tata Usaha (TU) sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu di SDN 4 Kubu, Karangasem.
- Pukul 13.30 WITA: Kembali ke kediaman untuk memproses produksi dan melayani pesanan kuliner rumahan bermerek Kubu Dimsum.
- Pukul 19.00 WITA (Bila Ada Jadwal): Berangkat menuju lokasi pertunjukan musik untuk bernyanyi di atas panggung hingga larut malam.
Kesenjangan Upah dan Tekanan Inflasi Rumah Tangga
Kondisi yang dialami Mila Dewi mencerminkan fenomena ketimpangan ekonomi yang kerap dihadapi pekerja paruh waktu di sektor pendidikan. Penghasilannya sebagai staf Tata Usaha di SDN 4 Kubu hanya berkisar Rp600.000 per bulan. Jumlah tersebut berada jauh di bawah standar kebutuhan hidup layak (KHL) untuk membiayai empat jiwa dalam satu kepala keluarga.
“Karena membesarkan tiga anak di zaman sekarang biayanya tidak main-main. Jadi tidak cukup hanya satu pekerjaan,” ungkap Mila Dewi dalam keterangannya.
Keterbatasan alokasi upah tersebut memaksa diversifikasi mata pencaharian menjadi keharusan mutlak, bukan lagi sekadar pilihan karier tambahan. Tuntutan biaya sekolah, buku pelajaran, hingga operasional harian anak-anaknya menuntut likuiditas harian yang tidak bisa dipenuhi semata dari gaji bulanan institusi.
Ketahanan Ekonomi Berbasis Usaha Mikro dan Talenta Seni
Inisiatif membuka gerai Kubu Dimsum menjadi jaring pengaman finansial harian. Dengan mengandalkan pesanan daring dan jejaring komunitas lokal di Kecamatan Kubu, lini usaha makanan siap saji ini memberikan perputaran modal yang cepat untuk menutup celah kekurangan harian keluarga.
Sementara itu, panggung hiburan musik menjadi katup penyelamat tatkala ada panggilan pentas. Meski harus mengorbankan waktu istirahat malam, penampilan profesional di atas panggung tetap dijaga demi membawa pulang honor tambahan. Sosok Mila Dewi menjadi cerminan nyata dari ketangguhan perempuan kepala rumah tangga (PEKKA) di pedesaan Bali yang terus bergerak maju melawan impitan ekonomi demi masa depan anak-anaknya.
Comments (0)