Sep 13, 2026
Hukum

BALI — Tradisi Nasi Rongan Perkuat Solidaritas Sosial Masyarakat

Di balik semangkuk hidangan tradisional Bali, tersimpan sistem nilai sosial dan filosofi hidup yang mengakar kuat. Istilah nasi rongan kini kembali menjadi

BALI — Tradisi Nasi Rongan Perkuat Solidaritas Sosial Masyarakat

Di balik semangkuk hidangan tradisional Bali, tersimpan sistem nilai sosial dan filosofi hidup yang mengakar kuat. Istilah nasi rongan kini kembali menjadi sorotan dalam kajian antropologi budaya dan sosiologi lokal, bukan semata-mata sebagai kuliner porsi besar, melainkan sebagai simbol persaudaraan, perlawanan terhadap isolasi sosial, dan manifestasi rasa syukur kolektif.

Penelusuran mendalam terhadap etimologi dan praktik kultural masyarakat Bali memperlihatkan bagaimana konsep ruang fisik bertransformasi menjadi modal sosial yang merekatkan berbagai lapisan masyarakat.

Menelisik Akar Filosofi: Dari Spiritual hingga Ikatan Kekerabatan

Secara spiritual, masyarakat Bali mengenal konsep rong yang merujuk pada bilik atau rongga suci, seperti pada rong telu—tiga bilik pemujaan atma atau leluhur yang kerap menjadi simbol kesiapan manusia menghadapi fase akhir kehidupan. Namun, dalam dinamika sosial kemasyarakatan, konsep tersebut berkembang menjadi istilah marongan yang bermakna berdampingan atau berdekatan.

"Marongan bukan sekadar batas teritorial tempat tinggal, melainkan kesepakatan kultural bahwa kita berada dalam satu barisan, satu kelompok, dan menegaskan status bukan musuh," ungkap seorang pengamat budaya lokal di Denpasar.

Anatomi Solidaritas 'Maruang' Lintas Batas dan Profesi

Transformasi istilah tersebut melahirkan konsep maruang, yang mencerminkan rasa senasib dan sepenanggungan di tengah realitas sosial yang keras. Berdasarkan reportase lapangan, konsep maruang bekerja dalam berbagai spektrum kehidupan:

  • Solidaritas Rakyat Jelata: Digunakan oleh sesama warga kelas bawah saat menghadapi ketidakpastian hidup, penolakan seleksi pendidikan, maupun kesulitan ekonomi.
  • Aliansi Advokasi Hukum: Muncul istilah advokat maruang untuk para pembela hukum yang gigih memperjuangkan hak-hak masyarakat marjinal yang tertindas.
  • Sinergi Profesi: Kolaborasi erat antara jurnalis investigasi dan aparat kepolisian dalam membongkar serta bertukar data tindak kejahatan demi kepentingan publik.
  • Koneksi Lintas Etnis dan Bangsa: Hubungan historis dan kultural, seperti kedekatan masyarakat Bali dengan warga Tengger, hingga simpati emosional antara bangsa Indonesia dan India dalam perjuangan merebut kemerdekaan Asia dari kolonialisme.

Nasi Rongan: Format Santapan Komunal Penuh Makna

Klimaks dari filosofi maruang termanifestasi nyata dalam hidangan kuliner yang disebut nasi rongan. Berbeda dengan sajian harian biasa, hidangan ini dirancang untuk dinikmati bersama oleh 8 hingga 10 orang dalam satu wadah besar.

  1. Tahap Persiapan: Komunitas mengumpulkan bahan secara gotong royong, mencakup olahan lawar segar, aneka sate rempah, gorengan jeroan, dan serapah khas Bali.
  2. Tahap Penyajian: Seluruh lauk pauk disusun melingkari gunungan nasi di atas nampan besar berdaun pisang, tanpa sekat pemisah antar-individu.
  3. Tahap Pemaknaan: Prosesi makan bersama dilakukan dengan duduk bersila mengitari sajian, di mana setiap orang memiliki hak dan porsi yang setara tanpa memandang status sosial.

Praktik kuliner nasi rongan ini membuktikan bahwa pangan tradisional di Bali berfungsi sebagai instrumen resolusi konflik sekaligus pengikat kohesi sosial, menjadikannya warisan budaya tak benda yang terus relevan di tengah modernisasi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS mega-lestari

Data Journalist. Mengolah data ekonomi menjadi narasi. Alumnus Columbia Journalism School.

Comments (0)

User