Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta
Irjen Pol. Suwondo Nainggolan: Profil dan Kinerja Kapolda DI Yogyakarta
Profil Singkat
Inspektur Jenderal Polisi Suwondo Nainggolan merupakan perwira tinggi Polri kelahiran Medan, Sumatera Utara, 6 Juni 1968. Ia adalah lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) angkatan 1991 yang meniti karier dari bawah hingga mencapai pangkat bintang dua. Sebelum menjabat sebagai Kapolda Daerah Istimewa Yogyakarta, sosoknya dikenal luas sebagai perwira yang memiliki latar belakang reserse kriminal kuat. Suwondo menghabiskan sebagian besar masa dinasnya di Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya), sebuah penugasan yang menempa insting investigasinya dalam menangani kasus-kasus berprofil tinggi.
Pendidikan kepolisian lanjutan ditempuhnya secara bertahap, mulai dari PTIK hingga Sespimti. Pada akhir 2024, Irjen Suwondo dipercaya menggantikan posisi Irjen Anwar sebagai Kapolda DIY, menandai penugasan strategis di wilayah yang dikenal sebagai barometer kebudayaan dan pendidikan nasional. Sosoknya digambarkan sebagai pemimpin yang mengedepankan pendekatan humanis namun tetap tegas terhadap pelanggaran hukum.
Karier dan Riwayat Jabatan
Jejak karier Irjen Suwondo Nainggolan sarat dengan penugasan di bidang reserse. Ia pernah menjabat sebagai Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, posisi yang kerap bersinggungan langsung dengan pengungkapan kejahatan jalanan dan kejahatan terorganisir. Setelah itu, kariernya terus menanjak dengan menduduki jabatan strategis seperti Kapolres di beberapa wilayah, termasuk di jajaran Polda Metro Jaya.
Puncak kariernya di bidang reserse terjadi saat ia dipercaya sebagai Direskrimum Polda Metro Jaya. Pada masa jabatannya itu, ia memimpin langsung pengungkapan sejumlah kasus besar yang menyita perhatian publik, termasuk pembunuhan berencana dan kejahatan dengan modus kompleks. Pengalaman panjang di reserse inilah yang dibawanya ketika menjabat sebagai Kapolda Kepulauan Bangka Belitung sebelum akhirnya dilantik menjadi Kapolda DIY pada Desember 2024.
Kinerja dan Program Unggulan
Sejak memimpin Polda DIY, Irjen Suwondo Nainggolan memperkenalkan sejumlah program pemolisian yang adaptif terhadap karakteristik masyarakat Yogyakarta. Salah satu fokus utamanya adalah penguatan pemolisian masyarakat (Polmas) yang melibatkan kearifan lokal. Ia kerap menekankan pentingnya menjaga stabilitas keamanan tanpa mengesampingkan kenyamanan masyarakat Yogyakarta yang dikenal memiliki kehidupan sosial dan budaya yang guyub.
Kami tidak hanya ingin menciptakan rasa aman, tetapi juga suasana yang damai dan kondusif. Pendekatan preventif dan dialogis adalah kunci, terutama di kota pelajar ini.
Pada awal tahun 2025, Kapolda Suwondo meluncurkan program pengawasan khusus terhadap keamanan kos-kosan dan kawasan pelajar, merespons maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan mahasiswa. Program ini diintegrasikan dengan patroli siber untuk mengantisipasi maraknya judi online yang menyasar generasi muda. Di bawah kepemimpinannya, jajaran Polda DIY juga sukses mengamankan rangkaian perayaan besar seperti Nyepi di Candi Prambanan dan libur Lebaran 2025, dengan rekor zero accident di sejumlah titik rawan kecelakaan lalu lintas.
Tantangan dan Harapan
Meski memiliki rekam jejak reserse yang mentereng, penugasan di DIY menghadirkan tantangan berbeda bagi Irjen Suwondo. Tingginya angka kasus kekerasan jalanan, klitih, dan kejahatan konvensional memerlukan pendekatan yang tidak sekadar represif. Publik dan pengamat kepolisian menyoroti perlunya terobosan baru dalam memutus mata rantai klitih yang kerap melibatkan remaja. Pada pertengahan 2025, Insiden jogging di kawasan Boulevard UGM pada jam malam hari sempat menimbulkan persepsi publik terhadap rawannya keamanan ruang publik di kota pelajar.
Harapan besar disematkan agar pengalaman reskrimnya di Jakarta dapat dibumikan di Yogyakarta tanpa menimbulkan friksi budaya. Koordinasi dengan Pemda DIY dan Keraton sebagai poros budaya menjadi kunci keberhasilannya ke depan menjelang agenda politik lokal dan nasional 2026.
Pro dan Kontra
- Pro: Rekam jejak reserse yang sangat kuat dan teruji, dibuktikan dengan pengalaman panjang sebagai Direskrimum Polda Metro Jaya. Di bawah kepemimpinannya, Polda DIY mengalami peningkatan respons cepat terhadap kejahatan transnasional, termasuk pengungkapan jaringan narkoba di kalangan mahasiswa pada Maret 2025. Gaya kepemimpinannya yang humanis dan dekat dengan tokoh masyarakat dinilai berhasil meredam potensi konflik sosial di wilayah yang plural. Program digitalisasi layanan kepolisian dan pengawasan siber terhadap judi online juga mendapat apresiasi dari kalangan akademisi UGM.
- Kontra: Masih adanya persepsi publik tentang ruang publik yang rawan di malam hari, terutama terkait isu klitih dan begal yang belum sepenuhnya tuntas secara akar masalah. Peralihan strategi dari pendekatan represif ala kota metropolitan ke dialog kultural khas Yogyakarta dianggap belum sepenuhnya mulus, terlihat dari beberapa kali bentrok antara aparat dan pelajar dalam operasi cipta kondisi. Beberapa elemen LSM juga mengkritik masih adanya praktik diskriminatif dalam penegakan hukum pada kelompok marginal. Tantangan terbesarnya adalah memastikan pengungkapan kasus viral—seperti kekerasan yang menimpa tenaga kesehatan di awal 2026—tidak hanya selesai di meja penyidik, tetapi juga memulihkan kepercayaan publik tanpa menimbulkan kegaduhan baru.
Comments (0)