Sep 13, 2026
Hukum

KALTENG — Titik Panas Karhutla Nasional Turun, Kalteng Masih Tertinggi

Asap tipis menyelimuti cakrawala Palangkaraya ketika fajar menyingsing. Meskipun secara nasional tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan angk

KALTENG — Titik Panas Karhutla Nasional Turun, Kalteng Masih Tertinggi

Asap tipis menyelimuti cakrawala Palangkaraya ketika fajar menyingsing. Meskipun secara nasional tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menunjukkan angka penurunan, realita di tapak tanah Kalimantan Tengah masih menyisakan ironi. Berdasarkan pemantauan satelit terbaru, total hotspot atau titik panas secara nasional berhasil melandai ke angka 567 titik. Namun, provinsi berjuluk Bumi Tambun Bungi ini justru terus mendominasi peta sebaran dengan jumlah terbanyak, menegaskan kerentanan kawasan lahan gambut yang kian mengering.

Tim investigasi Beritadua.com menemukan bahwa penurunan angka nasional ini tidak serta-merta meredam potensi bencana ekologis di tingkat tapak. Dari total titik panas yang terdeteksi oleh BMKG dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), hampir separuhnya terkonsentrasi di wilayah Kalimantan Tengah. Wilayah seperti Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, dan Kotawaringin Timur menjadi kantong utama ancaman. Lahan gambut dalam yang mengalami krisis hidrologi akibat pengeringan masif disinyalir menjadi pemicu utama lambatnya pemadaman, di mana api menjalar hingga ke bawah permukaan tanah (subsurface fire).

Membedah Data Sebaran Titik Panas Karhutla

Data menunjukkan adanya disparitas yang signifikan antarwilayah. Di saat beberapa provinsi tetangga berhasil menekan lonjakan angka pemukiman titik panas melalui pembasahan berkala (rewetting), Kalimantan Tengah justru menanggung beban terberat akibat pembukaan lahan yang tak terkendali serta minimnya akses ke wilayah terisolasi.

Berikut adalah gambaran estimasi sebaran titik panas karhutla di beberapa wilayah rawan bencana:

Wilayah / Provinsi Jumlah Titik Panas (Hotspot) Tingkat Kerentanan Lahan
Kalimantan Tengah 245 titik Sangat Tinggi (Gambut Dalam)
Kalimantan Barat 112 titik Tinggi
Kalimantan Selatan 88 titik Sedang-Tinggi
Sumatera Selatan & Riau 75 titik Sedang
Wilayah Lainnya 47 titik Rendah-Sedang

Keberadaan ribuan hektar lahan gambut yang terdegradasi menjadi bahan bakar yang sangat mudah terpesonifikasi oleh percikan api sekecil apa pun. Pengamat ekologi lahan basah mengungkapkan bahwa mengatasi kebakaran gambut membutuhkan penanganan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menyiram permukaan tanah.

"Menurunnya angka nasional adalah kabar baik, tetapi kita tidak boleh terkecoh oleh statistik permukaan. Di Kalimantan Tengah, api sering kali tidak membakar di atas, melainkan membara di dalam lapisan gambut sejauh dua hingga tiga meter. Tanpa intervensi pembasahan total dan penegakan hukum di areal konsesi, angka 567 titik tersebut bisa melonjak kembali dalam hitungan hari," tegas Dr. Aris Handoko, Peneliti Senior Ekologi Gambut Universitas Palangka Raya.

Langkah Darurat dan Escalation Patroli Udara-Darat

Menanggapi situasi krusial ini, Satuan Tugas (Satgas) Karhutla gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni kini memperketat pengawasan di zona-zona merah. Patroli udara memanfaatkan helikopter water bombing dikerahkan secara intensif untuk menyiram titik-titik yang sukar dijangkau jalur darat. Selain itu, pemerintah daerah mulai mengaktifkan posko siaga darurat di level desa untuk mendeteksi dini setiap kepulan asap yang muncul.

Penegakan hukum terhadap oknum pembakar lahan juga mulai ditingkatkan secara tajam. Investigasi lapangan menyasar kawasan perkebunan dan area terlantar yang terindikasi sengaja dibakar untuk efisiensi pembersihan lahan (land clearing). Pemerintah menegaskan tidak akan memberikan toleransi bagi korporasi maupun individu yang terbukti memicu kebencanaan ini.

"Kami telah mengerahkan personel tambahan ke wilayah rawan di Kalteng. Fokus utama kami bukan hanya memadamkan api yang terlihat, tetapi memutus rantai aktivitas pembakaran liar dan memastikan kanalisasi gambut tetap terisi air," ungkap Komandan Satgas Daerah Karhutla saat dikonfirmasi tim Beritadua.com.

Meskipun ancaman meluasnya kabut asap lintas batas (cross-border haze) masih relatif terkendali, ancaman terhadap kesehatan masyarakat lokal dan kerusakan keanekaragaman hayati tetap membayangi. Penurunan hotspot secara nasional harus dijadikan momentum untuk perbaikan tata kelola lahan secara permanen, bukan sekadar penanganan musiman saat musim kemarau menerpa.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS lukman-hakim

Editor Ekonomi. Mantan analis pasar modal. Spesialisasi: makroekonomi, kebijakan moneter, dan perdagangan internasional.

Comments (0)

User