PT Kereta Api Indonesia (KAI) tengah mengejar penyelesaian proyek travelator atau eskalator datar yang menghubungkan Stasiun KRL Karet dan BNI City di Jakarta. Berdasarkan informasi resmi perseroan, pembangunan infrastruktur penghubung antar dua stasiun tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2026 mendatang.
Proyek ini merupakan bagian dari upaya integrasi antar moda transportasi umum di kawasan bisnis Jakarta. Travelator tersebut akan memudahkan pergerakan commuters yang sehari-hari menggunakan KRL Commuter Line untuk berpindah antara dua stasiun terdekat tersebut tanpa harus keluar area stasiun.
Detail Spesifikasi dan Nilai Investasi
Berdasarkan data yang dihimpun, travelator yang dibangun memiliki panjang sekitar 200 meter yang membentang di atas jalur rel aktif. Proyek ini memerlukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak termasuk PT MRT Jakarta dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengingat lokasi yang berada di kawasan bisnis utama ibu kota.
Nilai investasi proyek diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah dengan mempertimbangkan kompleksitas konstruksi di area perkotaan padat. KAI menyebut bahwa pembangunan dilakukan secara bertahap untuk meminimalkan gangguan terhadap operasional KRL Commuter Line yang melayani ribuan penumpang setiap harinya.
Pro dan Kontra Pembangunan
Di satu sisi, pembangunan travelator ini mendapat apresiasi dari berbagai kalangan. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai infrastruktur ini akan meningkatkan konektivitas di kawasan bisnis Jakarta sehingga mendukung produktivitas ekonomi. Bagi para pekerja kantoran di kawasan Sudirman-Thamrin, travelator ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh dan mengurangi kemacetan di sekitar stasiun.
Di sisi lain, muncul sejumlah kekhawatiran mengenai dampak konstruksi terhadap lalu lintas di sekitar kawasan tersebut selama masa pembangunan. Beberapa pengamat transportasi publik juga mempertanyakan urgensi pembangunan travelator mengingat dua stasiun hanya berjarak sekitar 500 meter yang masih dapat dijangkau dengan berjalan kaki.
Dampak pada Ekosistem Transportasi Jabodetabek
Jika melihat tren integrasi antarmoda di kawasan metropolitan, pembangunan travelator ini sejalan dengan program pemerintah dalam mendorong penggunaan transportasi publik. Kementerian Perhubungan telah berulang kali menekankan pentingnya konektivitas antar moda untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi.
Berdasarkan data BPS mengenai komuter di Jabodetabek, jumlah pengguna KRL Commuter Line terus mengalami kenaikan year-on-year mencapai 7-8 persen dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa infrastruktur penunjang seperti travelator menjadi semakin relevan untuk menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat.
Namun, para kritikus berpendapat bahwa alokasi anggaran untuk proyek ini sebaiknya dialihkan untuk memperbaiki infrastruktur stasiun yang sudah ada. Beberapa stasiun di Jalur Bogor-Citayam misalnya masih mengalami masalah overcrowding yang dinilai lebih prioritas untuk ditangani.
Keberhasilan proyek ini akan menjadi indikator penting bagi rencana integrasi stasiun-stasiun lain di Jabodetabek. KAI menyatakan bahwa evaluasi akan dilakukan secara berkala selama masa konstruksi untuk memastikan proyek berjalan sesuai jadwal dan anggaran yang telah ditetapkan.
Comments (0)