Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Desember 2023, nilai ekspor getah dan minyak atsiri Indonesia—kelompok yang mencakup kapur barus, kayu manis, dan rempah sejenis—tercatat mencapai US$1,24 miliar sepanjang tahun, atau tumbuh sekitar 8,7 persen year-on-year dibanding 2022. Angka itu menegaskan satu hal yang jarang disadari publik modern: komoditas aroma dan rempah Nusantara punya akar sejarah panjang yang bahkan tercatat dalam kitab suci umat Islam.
Dalam Al-Qur'an, surat Al-Insan ayat 5 menyebut "kafur" sebagai salah satu unsur minuman penghuni surga. Kata kafur diyakini merujuk pada kapur barus, sejenis kristal aromatik yang dihasilkan dari pohon kamper. Yang menarik, para sejarawan ekonomi memperkirakan kafur dalam ayat itu bukan sekadar diksi religius, melainkan cerminan jalur dagang yang hidup di masa awal Islam—sebuah rute yang ujungnya berada di pesisir barat Sumatra.
Barus dan Hegemoni Rempah Nusantara
Barus, sebuah kawasan di pantai barat Sumatra, dikenal sebagai salah satu pusat produksi kapur barus terbesar di dunia kuno. Berbagai catatan pelayaran dari abad ke-7 hingga ke-11 menyebut kapal-kapal asing rutin singgah untuk membeli komoditas ini. Kapur barus dari Barus disebut-sebut memiliki kualitas lebih tinggi dibanding pasokan dari Arabia atau India Selatan, sehingga kerap dijual dengan harga premium—dalam beberapa kesaksian, setara emas per satuan beratnya.
Pada era itu, kapur barus tidak hanya dipakai sebagai bahan wewangian atau pengawet jenazah, tetapi juga campuran minuman dan obat-obatan. Permintaannya meluas dari pasar Tiongkok, India, hingga kekhalifahan Islam di Timur Tengah. Dari sinilah muncul istilah "camphor" dalam bahasa Inggris dan "kafur" dalam bahasa Arab, diambil dari nama Barus yang dalam pelafalan lokal disebut "Kapur Barus".
"Jaringan dagang rempah abad pertengahan bukan hanya jalur barang, tetapi jalur peradaban. Kapur barus dari Barus menjadi salah satu bukti bahwa Nusantara telah terhubung ke sistem ekonomi global jauh sebelum era kolonial," tutur sejarawan maritim dalam sejumlah kajian akademik tentang Silk Road maritim.
Di sisi lain, tidak semua akademisi sepakat bahwa kafur dalam Al-Qur'an secara literal merujuk pada produk Barus. Sebagian menilai kata kafur dalam ayat tersebut lebih bersifat metaforis untuk menggambarkan minuman yang sejuk dan murni, bukan penunjukan geografis. Namun, secara ekonomi, argumentasi kuantitatif tetap kuat: frekuensi penyebutan kapur barus dalam berbagai naskah Arab abad ke-9 hingga ke-12 menunjukkan volume perdagangan yang signifikan dari kawasan Asia Tenggara.
Peran Pedagang Arab dan Penyebaran Islam
Kedatangan pedagang Arab ke Barus tidak bisa dipisahkan dari penyebaran Islam di Nusantara. Berbeda dengan teori Gujarat yang menekankan peran pedagang India, sejumlah peneliti mengajukan teori Arab—bahwa kontak awal Islam di Sumatra terjadi lewat pedagang dari Timur Tengah yang menetap di Barus selama berbulan-bulan menunggu musim angin. Interaksi ekonomi yang panjang itu membuka ruang akulturasi budaya dan keagamaan.
Di satu sisi, arus ini memperkuat posisi Barus sebagai simpul perdagangan internasional. Kapur barus menjadi komoditas yang menggerakkan likuiditas lokal, membangun permukiman pelabuhan, dan menciptakan kelas pedagang pribumi yang berpengalaman bernegosiasi dengan jaringan dagang lintas benua. Di sisi lain, ketergantungan pada satu komoditas membuat ekonomi Barus rentan terhadap sentimen pasar global kuno. Ketika permintaan kapur barus menurun akibat pasokan alternatif dari Semenanjung Malaya dan Kalimantan, aktivitas pelabuhan ikut melambat.
Fundamental ekonomi kuno ini memberi pelajaran bagi proyeksi modern. Menurut data Kementerian Perdagangan, kapur barus kini lebih banyak diproduksi secara sintetis dari terpentin, sehingga nilai tambah bahan baku alami tergerus. Meski begitu, permintaan global terhadap produk aromaterapi dan minyak atsiri alami diperkirakan tumbuh 6–9 persen per tahun hingga 2030. Ini peluang bagi Indonesia untuk mengembalikan posisi sebagai pemasok high-end, bukan sekadar pengekspor bahan mentah.
Relevansi Ekonomi Kini
Dari perspektif makro, kejayaan Barus mengingatkan bahwa kekayaan alam Nusantara selalu menjadi magnet capital inflow sejak ribuan tahun lalu. Narasi "kafur" dalam Al-Qur'an dan jejak pedagang Arab di Barus adalah bukti bahwa integrasi ekonomi dan penyebaran nilai budaya berjalan seiring. Persoalannya, apakah Indonesia hari ini mampu mengelola kekayaan rempah dengan rasio nilai tambah yang lebih baik dibanding masa lalu. Tanpa hilirisasi, tren ekspor bahan mentah berpotensi mengulang pola ekonomi kolonial yang menempatkan Nusantara sebagai pemasok mentah dan pasar produk jadi.
Valuasi ekonomi kapur barus kuno setara emas seharusnya menjadi cermin. Jika dulu kapur barus dari Barus mampu menembus pasar Timur Tengah tanpa perantara, kini pertanyaannya adalah mengapa produk olahan rempah Indonesia masih kalah bersaing dengan merek global. Jawabannya bukan pada alam, melainkan pada kebijakan industri, riset, dan branding. Sentimen pasar terhadap warisan rempah bisa menjadi modal, tetapi hanya jika ditopang fundamental produksi yang kuat.
Comments (0)