Aug 31, 2026
Bisnis

Kabut Asap Ganggu Sekolah, Kelanjutan Program MBG Jadi Perhatian

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Agustus 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia dapat memburuk ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu p...

Kabut Asap Ganggu Sekolah, Kelanjutan Program MBG Jadi Perhatian

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per Agustus 2026, kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia dapat memburuk ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memicu peningkatan konsentrasi partikel halus. Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan, termasuk keputusan sekolah untuk mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke format daring. Di tengah gangguan itu, keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut menjadi perhatian karena penerima manfaatnya berada di lingkungan sekolah.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyampaikan bahwa pelaksanaan MBG di sekolah terdampak kabut asap perlu menyesuaikan situasi lapangan. Perubahan pola belajar tidak otomatis menghapus kebutuhan anak terhadap asupan bergizi. Namun, distribusi makanan harus memperhitungkan faktor keselamatan, akses kendaraan, kondisi dapur penyedia makanan, serta kemungkinan penutupan sementara fasilitas pendidikan.

Sekolah Daring Mengubah Pola Penyaluran

Peralihan pembelajaran dari ruang kelas ke rumah menciptakan tantangan baru bagi mekanisme penyaluran MBG. Selama ini, sekolah berfungsi sebagai titik temu antara satuan pendidikan, peserta didik, pengelola dapur, dan petugas distribusi. Ketika siswa tidak hadir secara fisik, pola tersebut tidak dapat berjalan dengan cara yang sama.

Di satu sisi, penghentian sementara pengiriman ke sekolah yang kosong dapat mencegah makanan terbuang dan mengurangi risiko petugas terpapar udara dengan kualitas buruk. Makanan yang tidak segera dikonsumsi juga berpotensi mengalami penurunan mutu apabila penyimpanan dan pengangkutannya terganggu. Dalam konteks program berskala besar, efisiensi semacam ini penting untuk menjaga penggunaan anggaran negara.

Di sisi lain, siswa tetap memerlukan pemenuhan gizi meskipun belajar dari rumah. MBG dirancang untuk membantu menyediakan makanan bernutrisi bagi peserta didik, sehingga perubahan metode belajar tidak serta-merta menghilangkan tujuan program. Pemerintah perlu menentukan apakah bantuan tetap diberikan melalui mekanisme alternatif, misalnya penjadwalan ulang, titik distribusi yang lebih aman, atau pengaturan pengambilan oleh keluarga.

Keselamatan dan Ketepatan Sasaran

Kabut asap karhutla membawa partikel yang dapat mengganggu sistem pernapasan, terutama pada anak-anak. Karena itu, keputusan operasional MBG tidak hanya berkaitan dengan logistik, tetapi juga dengan perlindungan kesehatan. Jika indeks kualitas udara menunjukkan kondisi tidak sehat, aktivitas pengantaran dan pembagian makanan perlu mengikuti arahan pemerintah daerah serta otoritas kesehatan.

Pro: penyesuaian distribusi secara lokal dapat menjaga kesinambungan bantuan sekaligus melindungi siswa dan petugas. Pemerintah daerah dapat memetakan sekolah berdasarkan tingkat paparan asap, status pembelajaran, dan kemampuan dapur penyedia. Dengan pendekatan tersebut, sekolah yang masih beroperasi normal dapat melanjutkan program, sementara wilayah dengan risiko lebih tinggi memperoleh skema khusus.

Kontra: penerapan aturan berbeda-beda antarwilayah berpotensi menimbulkan ketidakseragaman. Daerah dengan keterbatasan transportasi, fasilitas penyimpanan, atau data penerima manfaat mungkin mengalami keterlambatan. Selain itu, distribusi melalui rumah membutuhkan verifikasi tambahan agar makanan benar-benar diterima oleh anak yang menjadi sasaran program. Tanpa pengawasan, terdapat risiko salah sasaran, biaya angkut meningkat, dan akuntabilitas melemah.

Anggaran, Logistik, dan Evaluasi Program

Program MBG memiliki dimensi fiskal yang besar karena mencakup pengadaan bahan pangan, pengolahan, tenaga kerja, transportasi, dan pengawasan. Setiap perubahan skema akibat bencana asap harus dihitung berdasarkan biaya per porsi, jarak distribusi, kapasitas dapur, serta jumlah hari sekolah yang terdampak. Rasio biaya distribusi terhadap nilai makanan menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur efisiensi.

Dalam jangka pendek, pemerintah dapat menggunakan data harian mengenai kualitas udara, jumlah sekolah yang beralih daring, dan sebaran peserta didik. Data tersebut membantu menentukan wilayah yang memerlukan penundaan, pengalihan, atau tetap menjalankan pengiriman. Evaluasi juga perlu mencatat jumlah porsi yang tersalurkan, makanan yang tidak terdistribusi, serta perubahan biaya operasional dibandingkan kondisi normal.

Di satu sisi, gangguan akibat karhutla dapat menjadi ujian terhadap ketahanan sistem MBG. Program yang memiliki prosedur darurat, basis data penerima yang mutakhir, dan koordinasi lintas lembaga akan lebih mudah beradaptasi. Di sisi lain, apabila setiap kejadian memicu penghentian tanpa skema pengganti, kelompok rentan berisiko kehilangan dukungan gizi pada saat kondisi lingkungan justru memburuk.

Keputusan terkait MBG di wilayah terdampak perlu menempatkan keselamatan sebagai syarat utama, tanpa mengabaikan kebutuhan gizi anak selama kegiatan sekolah berubah menjadi daring.

Proyeksi Keberlanjutan MBG di Tengah Risiko Karhutla

Ke depan, keberlanjutan MBG di wilayah yang mengalami kabut asap akan bergantung pada kualitas koordinasi antara BGN, pemerintah daerah, sekolah, pengelola dapur, dan layanan kesehatan. Pemerintah juga perlu menyiapkan protokol yang menjelaskan batas indeks kualitas udara, prosedur penghentian sementara, cara penyimpanan makanan, serta mekanisme penyaluran pengganti.

Tren karhutla yang berulang setiap musim kering menunjukkan bahwa gangguan semacam ini tidak dapat diperlakukan sebagai peristiwa satu kali. Perencanaan perlu memasukkan skenario cuaca ekstrem, akses jalan terganggu, dan perpindahan kegiatan sekolah ke rumah. Dengan begitu, fundamental program—yakni penyediaan makanan bergizi bagi anak—tetap terjaga, sementara pelaksanaannya dapat menyesuaikan risiko lokal.

Nasib MBG di sekolah terdampak kabut asap pada akhirnya bukan sekadar persoalan apakah makanan tetap dikirim atau dihentikan. Isunya mencakup perlindungan kesehatan, ketepatan sasaran, efisiensi anggaran, dan kemampuan pemerintah menjaga layanan publik dalam situasi darurat. Keputusan yang berbasis data akan menentukan apakah perubahan pembelajaran dapat diikuti dengan penyaluran gizi yang aman dan terukur.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS nadia-rahmawati

Reporter Nasional. Reporter isu nasional dan kebijakan publik.

Comments (0)

User