JOMBANG — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya mengaku telah menyiapkan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusannya periode 2021-2026. Dokumen setebal hampir 1.000 halaman itu akan disampaikan dalam forum Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menegaskan bahwa LPJ telah disusun secara lengkap, transparan, dan mencakup seluruh aspek kerja kepengurusan selama lima tahun masa baktinya. Ia optimistis dokumen tersebut akan diterima oleh para muktamirin yang hadir dalam ajang musyawarah tertinggi organisasi itu. "Nggak ada alasan untuk menolaknya," ujarnya dengan tegas.
Gus Yahya memimpin PBNU setelah terpilih dalam Muktamar ke-34 NU yang digelar di Bandar Lampung pada akhir 2021. Ia menggantikan KH Said Aqil Siroj yang telah memimpin selama dua periode. Di bawah kepemimpinannya, NU antara lain menegaskan komitmen pada khittah 1926 dan menjaga jarak dari politik praktis, termasuk saat menghadapi kontestasi politik nasional.
Muktamar ke-35 Digelar di Bumi Para Santri
Pemilihan Jombang sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 NU bukan tanpa alasan. Kawasan ini dikenal sebagai Bumi Para Santri dan memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kelahiran NU. Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas sendiri merupakan pesantren yang diasuh oleh KH Wahab Chasbullah, salah satu tokoh sentral yang turut melahirkan organisasi Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.
Muktamar ke-35 ini menjadi momen konsolidasi terbesar bagi warga NU dari seluruh penjuru Tanah Air. Ribuan kader, ulama, serta pengurus dari berbagai pengurus wilayah dan cabang direncanakan hadir untuk membahas arah perjuangan organisasi ke depan. Suasana Jombang pun diprediksi semakin semarak dengan datangnya puluhan ribu jamaah dan simpatisan.
LPJ: Wujud Akuntabilitas Lima Tahun Kepemimpinan
Dalam tradisi organisasi, LPJ merupakan instrumen akuntabilitas utama yang menjadi syarat mutlak bagi setiap kepengurusan. Dokumen ini berisi laporan pelaksanaan program kerja, pengelolaan organisasi, hingga laporan keuangan selama satu periode kepemimpinan. Bagi Gus Yahya, LPJ setebal hampir 1.000 halaman itu menjadi bukti kerja nyata pengurus PBNU selama lima tahun terakhir.
Ketebalan dokumen tersebut dinilai mencerminkan keseriusan dan keterbukaan kepengurusan dalam menjalankan amanah. Gus Yahya menegaskan bahwa tidak ada bagian yang ditutup-tutupi, baik menyangkut keberhasilan maupun kendala yang dihadapi selama masa kepemimpinannya. Dengan demikian, ia yakin para muktamirin akan memberikan penilaian yang objektif.
Dalam tata aturan NU, LPJ bukan hanya formalitas administrasi. Dokumen ini menjadi bahan penilaian serius oleh muktamirin sebelum mereka menentukan sikap terhadap kepengurusan yang berjalan. Penerimaan LPJ menjadi pintu awal bagi muktamar untuk melanjutkan agenda pemilihan kepemimpinan baru secara musyawarah.
Kronologi Persiapan Menuju Muktamar ke-35
Rangkaian persiapan Muktamar ke-35 NU berlangsung secara bertahap. Berikut kronologi perjalanan persiapan hingga LPJ dinyatakan siap disampaikan:
- PBNU menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi Muktamar ke-35 NU.
- Panitia muktamar dibentuk untuk mengurus persiapan teknis, logistik, serta kelengkapan administrasi sidang.
- Gus Yahya bersama jajaran pengurus menyusun LPJ kepengurusan periode 2021-2026 secara bertahap.
- Draf LPJ setebal hampir 1.000 halaman dirampungkan dan diverifikasi kelengkapan datanya.
- LPJ dipersiapkan untuk dibacakan dan dibahas dalam sidang pleno muktamar.
- Para muktamirin akan menanggapi, menilai, hingga memutuskan penerimaan LPJ tersebut.
Isi LPJ dan Jaminan Transparansi
Secara garis besar, LPJ kepengurusan PBNU periode 2021-2026 memuat laporan pelaksanaan program kerja di berbagai bidang, mulai dari keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, hingga hubungan internasional. Di dalamnya juga tercantum laporan keuangan serta perkembangan organisasi di tingkat pengurus wilayah dan cabang di seluruh Indonesia.
Gus Yahya berharap penyampaian LPJ berjalan lancar dan menjadi dasar bagi muktamar untuk menilai kinerja kepengurusan secara proporsional. Baginya, muktamar bukan sekadar ajang pergantian kepemimpinan, tetapi juga ruang evaluasi bersama demi kemaslahatan umat dan bangsa.
Harapan di Balik Muktamar ke-35
Muktamar ke-35 NU di Jombang diharapkan berjalan khidmat, aman, dan melahirkan keputusan yang menyejukkan. Sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, langkah NU selalu dinanti publik, baik dalam konteks kebangsaan maupun global. Kehadiran Gus Yahya dengan LPJ hampir 1.000 halaman itu menjadi salah satu sorotan utama dalam forum lima tahunan tersebut.
Publik kini menanti bagaimana jalannya Muktamar ke-35 NU berlangsung di Tambakberas. Yang jelas, kesiapan Gus Yahya membawa LPJ hampir 1.000 halaman menegaskan bahwa pertanggungjawaban bukan sekadar kewajiban prosedural, melainkan cermin amanah yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Comments (0)