Di antara arus migrasi lintas batas yang membentuk Asia Tenggara, terselip sebuah kisah luar biasa yang jarang tersingkap: seorang putra Makassar yang menapaki jalan gemilang hingga menduduki posisi Menteri Keuangan Thailand. Pencapaian ini bukan sekadar catatan prestise individual, melainkan juga cerminan mobilitas sosial dan integrasi budaya yang melampaui sekat-sekat kenegaraan.
Akar Historis Diaspora Sulawesi Selatan
Masyarakat Bugis dan Makassar telah lama dikenal sebagai pelaut ulung yang merantau ke berbagai penjuru Nusantara dan Semenanjung Malaya. Sejak abad ke-17, gelombang migrasi dari Sulawesi Selatan membentuk kantong-kantong komunitas di wilayah yang kini menjadi bagian dari Thailand selatan, Malaysia, dan Singapura. Para perantau ini membawa serta keahlian dagang, ketekunan, serta jaringan maritim yang kelak menjadi fondasi bagi keturunan mereka untuk meraih posisi strategis di negeri orang.
Hubungan historis antara Kesultanan Gowa-Tallo dan kerajaan-kerajaan di Semenanjung Malaya turut memperkuat jalur migrasi ini. Banyak bangsawan dan pedagang Makassar yang menetap di wilayah selatan Thailand, khususnya di Provinsi Phuket, Trang, dan Satun. Mereka berasimilasi dengan masyarakat setempat sambil tetap memelihara identitas kultural, menciptakan perpaduan unik yang memperkaya lanskap sosial Thailand.
Transformasi Identitas dan Mobilitas Vertikal
Proses asimilasi yang berlangsung selama beberapa generasi menghasilkan figur-figur yang sepenuhnya mengadopsi identitas Thailand, namun tetap memiliki benang merah genealogis dengan Sulawesi Selatan. Nama dan gelar kebangsawanan Thailand disematkan, sementara darah Makassar mengalir dalam diam. Salah satu keturunan dari diaspora inilah yang akhirnya melesat ke jajaran elite pemerintahan Kerajaan Thailand.
Faktor pendidikan menjadi katalis utama mobilitas vertikal ini. Banyak keluarga diaspora Makassar yang menekankan pentingnya pendidikan tinggi, mengirimkan anak-anak mereka ke institusi prestisius di Bangkok, bahkan ke luar negeri. Akses terhadap pendidikan modern membuka pintu menuju birokrasi kerajaan dan jabatan-jabatan tinggi pemerintahan yang sebelumnya didominasi oleh aristokrasi Siam tradisional.
Jabatan Menteri Keuangan: Puncak Karier Multigenerasi
Menjabat sebagai Menteri Keuangan Thailand bukanlah pencapaian yang datang tiba-tiba. Posisi ini mensyaratkan penguasaan mendalam atas kebijakan fiskal, perpajakan, pengelolaan utang negara, serta hubungan dengan lembaga keuangan internasional. Di bawah konteks Thailand abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika sistem administrasi modern mulai dibangun, kebutuhan akan teknokrat yang memahami perdagangan dan keuangan sangat mendesak.
Keturunan Makassar yang menjabat posisi ini menunjukkan bahwa diaspora tidak sekadar menjadi komunitas marginal, melainkan telah terintegrasi sepenuhnya dalam struktur kekuasaan. Kemampuan beradaptasi, penguasaan bahasa Thai, pemahaman budaya lokal, serta keahlian teknis di bidang ekonomi dan keuangan menjadi kombinasi yang langka dan bernilai tinggi bagi pemerintah kerajaan.
Di satu sisi, pengangkatan ini merefleksikan meritokrasi pragmatis di tubuh pemerintahan Thailand kala itu. Kompetensi dan loyalitas lebih diutamakan ketimbang asal-usul etnis. Di sisi lain, fenomena ini juga memperlihatkan betapa cairnya batas-batas identitas di kawasan Asia Tenggara pra-nasionalisme modern. Kewarganegaraan dan etnisitas belum terkotak-kotak kaku seperti yang kita kenal sekarang.
Warisan yang Terlupakan dan Pembelajaran Kontemporer
Sayangnya, fragmen sejarah seperti ini kerap luput dari narasi arus utama, baik di Indonesia maupun Thailand. Di Indonesia, kisah-kisah diaspora yang berprestasi di luar negeri lebih sering terfokus pada figur-figur kontemporer. Sementara di Thailand, proses asimilasi yang berhasil justru membuat akar Makassar dari tokoh tersebut menjadi kurang ditonjolkan dalam catatan resmi.
Padahal, pengakuan terhadap jejak historis ini memiliki arti penting bagi hubungan bilateral Indonesia-Thailand kontemporer. Kerja sama ekonomi, investasi lintas batas, dan konektivitas antar-masyarakat dapat diperkuat melalui pemahaman bahwa hubungan kedua bangsa memiliki fondasi yang lebih dalam dari sekadar kepentingan politik praktis. Diaspora historis menjadi jembatan kultural yang menghubungkan masa lalu dengan peluang masa depan.
Total nilai perdagangan bilateral Indonesia-Thailand yang terus meningkat setiap tahunnya—mencapai lebih dari 18 miliar dolar AS pada tahun 2023—menunjukkan betapa pentingnya saling pengertian antarmasyarakat. Pemahaman tentang keterkaitan historis seperti kisah Menteri Keuangan asal Makassar ini dapat menjadi modal lunak yang mempererat hubungan ekonomi dan diplomasi publik.
Menelusuri Kembali Jejak yang Tersisa
Riset lebih lanjut tentang figur spesifik ini masih sangat dibutuhkan. Arsip-arsip kolonial, dokumen kerajaan Thailand, serta catatan keluarga di Makassar dan Thailand selatan mungkin menyimpan detail-detail berharga. Kolaborasi akademik antara sejarawan Indonesia dan Thailand dapat membuka lembaran-lembaran yang selama ini tertutup, memberikan gambaran lebih utuh tentang kiprah diaspora Sulawesi Selatan di kerajaan Gajah Putih.
Kisah ini juga mengingatkan kita bahwa identitas nasional bukanlah sesuatu yang statis. Ia dibentuk oleh perjumpaan, pergerakan, dan pertukaran antarbangsa yang telah berlangsung selama berabad-abad. Seorang putra Makassar yang menjadi Menteri Keuangan Thailand adalah bukti bahwa Asia Tenggara, jauh sebelum menjadi kawasan geopolitik modern, telah menjadi ruang bersama bagi berbagai komunitas untuk berkembang dan berkontribusi melampaui batas-batas primordial.
Comments (0)