Jakarta — Wika Salim Tampil di Istana Sambut PM India, Tuai Pro Kontra
Penyanyi dangdut Wika Salim menjadi sorotan usai tampil di Istana Kepresidenan Republik Indonesia dalam acara penyambutan Perdana Menteri India, Narendra M
Penyanyi dangdut Wika Salim menjadi sorotan usai tampil di Istana Kepresidenan Republik Indonesia dalam acara penyambutan Perdana Menteri India, Narendra Modi. Kehadirannya dalam jamuan kenegaraan yang lazim diisi oleh seniman berkelas nasional itu langsung memicu gelombang diskusi di media sosial. Sebagian pihak menilai pemilihan Wika sebagai representasi segar diplomasi budaya, sementara yang lain mempertanyakan kesesuaian artis dangdut berbalut citra populer dengan kemegahan protokol kenegaraan.
Momen tersebut terdokumentasi di akun Instagram pribadi Wika Salim. Dalam unggahannya, ia terlihat mengenakan busana formal bernuansa etnik, menyapa tamu kehormatan, dan tampil menghibur di hadapan para pejabat tinggi dua negara. Namun, di balik foto-foto itu, perdebatan publik tak terelakkan.
Representasi Budaya Pop atau Degradasi Protokol?
Di satu sisi, sejumlah pengamat menilai langkah pemerintah mengundang Wika Salim sebagai sinyal positif inklusivitas budaya. Musik dangdut adalah identitas populer Indonesia yang sudah mendunia, dan membawanya ke panggung kenegaraan dapat membangun soft diplomacy yang lebih dekat dengan rakyat. Hubungan Indonesia-India yang kental dengan pertukaran budaya—mulai dari film Bollywood hingga kuliner—menjadikan dangdut sebagai jembatan musikal yang akrab di telinga publik India.
"Ini langkah maju dalam diplomasi budaya kita. Dangdut sudah menjadi soft power yang diakui, bukan sekadar hiburan kelas bawah. Jika dikemas dengan baik, justru memperkuat citra Indonesia yang ramah dan beragam," ujar pengamat budaya pop, Dr. Andrianto Kusuma, melalui keterangan tertulis.
Selain itu, sosok Wika Salim yang masih muda dan aktif di media sosial dianggap mampu mendekatkan momen protokoler kepada generasi milenial dan Gen Z. Pemerintah disebut-sebut sedang berupaya membangun narasi Indonesia yang lebih segar di mata dunia, tidak lagi kaku dengan pakem-pakem tradisional.
Kritik: Kenegaraan Bukan Panggung Hiburan Biasa
Di kubu berseberangan, kritik tajam justru datang dari pengamat protokol dan sejarawan. Mereka menilai jamuan kenegaraan memiliki tata krama dan simbolisme tinggi yang tidak bisa disamakan dengan konser musik pop. Undangan kepada Wika Salim, yang selama ini dikenal lewat lagu-lagu seperti "Sambalado" atau penampilan energik di acara televisi, dianggap mengaburkan batas antara hiburan ringan dan seremoni kenegaraan.
"Protokol kenegaraan bukan sekadar acara biasa; ia adalah perwujudan kedaulatan dan martabat bangsa. Menghadirkan artis yang belum melalui proses seleksi artistik yang ketat bisa menimbulkan kesan bahwa kita menganggap remeh etika diplomatik," komentar Prof. Sutopo, pakar hubungan internasional dari Universitas Negeri Jakarta.
Warganet pun terbelah. Tagar #WikaSalim dan #IstanaNegara sempat menjadi topik tren di Twitter/X. Sebagian netizen mempertanyakan dasar kuratorial undangan tersebut, mengingat banyak seniman dengan kredibilitas internasional yang bisa dihadirkan. Tidak sedikit pula yang menyoroti potensi risiko image jika ada hal-hal tidak terduga yang terjadi dalam acara bertaraf internasional tersebut.
Antara Pro dan Kontra: Sebuah Perbandingan
Mengupas dua perspektif ini, kita bisa merangkum sejumlah poin yang menonjol dari masing-masing kubu.
- Pro: Memperkuat diplomasi budaya populer; menjangkau audiens yang lebih luas; menunjukkan keberanian pemerintah dalam berekspresi; mengangkat citra dangdut sebagai genre musik nasional yang membumi; potensi ketertarikan India terhadap irama dan kolaborasi lintas budaya.
- Kontra: Risiko merendahkan martabat acara kenegaraan; kurangnya transparansi dalam proses seleksi artis; kemungkinan kesalahpahaman protokoler dari pihak tamu asing; forum negara bukan panggung hiburan; mengabaikan seniman yang telah teruji di panggung internasional.
Kejadian ini menjadi cermin bagaimana Indonesia merumuskan ulang identitas budayanya di pentas global. Diperlukan keseimbangan antara modernitas dan tradisi, agar setiap undangan seni dalam acara kenegaraan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermartabat dan strategis.
Comments (0)