Jakarta Pusat — Remaja Putri Ikuti Pelatihan Tari Tradisi di PPSB Mashabi
Lantunan lembut gamelan mengalun dari sudut aula, berpadu dengan hentakan kaki kecil yang serempak mengikuti irama. Di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) M
Lantunan lembut gamelan mengalun dari sudut aula, berpadu dengan hentakan kaki kecil yang serempak mengikuti irama. Di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Muhammad Mashabi, Jalan KH Mas Mansyur, Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sekelompok remaja putri tampak serius menirukan gerakan tangan instruktur mereka—lentik jari yang membentuk posisi ngrayung, lengkung tubuh yang mengalun perlahan bak air mengalir. Rabu siang itu, 1 Juli 2026, menjadi saksi bisu bagaimana ruang di tengah padatnya ibu kota disulap menjadi laboratorium budaya yang hidup. Pelatihan tari tradisi yang berlangsung sejak 23 Juni hingga 6 Juli 2026 ini tak sekadar mengajarkan gerak, melainkan merawat akar identitas di tengah gempita modernisasi.
Program intensif selama dua pekan itu diikuti oleh puluhan peserta berusia 13 hingga 18 tahun. Mereka berasal dari beragam latar belakang—ada yang sebelumnya hanya mengenal tari tradisional lewat layar gawai, ada pula yang sudah menekuni sanggar di kampung halaman. Sebanyak 47 remaja putri tercatat sebagai peserta aktif, angka yang menurut penyelenggara melampaui target awal yang hanya 30 orang. Antusiasme ini memberi secercah harapan bahwa generasi “digital native” masih menyisakan ruang untuk warisan leluhur.
Dari Teknik Dasar hingga Filosofi Tubuh
Hari itu, pelatihan memasuki sesi teknik dasar gerak. Para peserta diajak menyelami detail postur: posisi mendhak (merendah) yang menguji kekuatan paha, langkah srisig berpola cepat, hingga harmoni antara napas dan tempo gamelan. Instruktur tak hanya menuntut ketepatan gerak, tetapi juga pemahaman filosofis. “Tari bukan sekadar hafalan gerak. Setiap lengkungan tangan bercerita, setiap hentakan kaki punya makna. Kalian harus merasakan, bukan sekadar bergerak,” ujar instruktur di sela latihan.
“Saya awalnya malu dan kaku. Tari tradisional itu seperti dunia lain yang jauh dari keseharian saya sebagai anak kota. Tapi setelah seminggu, saya mulai paham bahwa ini adalah cara nenek moyang berdialog dengan alam dan sesama. Sekarang saya justru merasa bangga bisa membawakannya,” tutur Aulia (16), salah satu peserta asal Palmerah, Jakarta Barat.
PPSB Muhammad Mashabi sendiri didesain sebagai ekosistem seni-budaya terpadu: selain ruang pelatihan tari, terdapat studio musik tradisional, ruang pamer, dan panggung pertunjukan. Pusat ini membuka akses gratis bagi komunitas yang ingin berlatih atau berkegiatan, asalkan mendaftar melalui seleksi proposal. Dalam konteks kebijakan kota, kehadiran PPSB menjadi bagian dari strategi Dinas Kebudayaan DKI Jakarta untuk mengaktifkan “oase budaya” di setiap kecamatan, menjawab kegelisahan akan meredupnya minat generasi muda terhadap seni tradisi.
Dua Sisi Pelatihan: Antara Harapan dan Realitas
Menelaah lebih dalam, pelatihan tari tradisi bagi remaja semacam ini memunculkan perspektif ganda yang sama kuatnya. Di satu sisi, publik memandang program ini sebagai katalis penting dalam menjembatani gap antara anak muda dengan akar budayanya—terutama di Jakarta yang cosmopolitan. Di sisi lain, muncul skeptisisme tentang seberapa jauh pelatihan dua pekan mampu mengubah preferensi estetika remaja yang sudah telanjur terbentuk oleh budaya populer Korea, TikTok, dan modern dance.
Pengamat pendidikan budaya dari Universitas Negeri Jakarta, Dr. Rina Mulyasari (nama samaran, sesuai wawancara telepon), mengapresiasi langkah ini namun sekaligus mengritisi pendekatan jangka pendeknya. “Saya pikir PPSB sudah tepat menciptakan ruang inklusif. Tapi pelestarian tidak bisa instan. Bayangkan, setelah dua minggu ini peserta kembali ke lingkungan yang minim stimulus seni tradisi. Harus ada program lanjutan yang terstruktur, misalnya mentorship bulanan atau kolaborasi lintas sanggar. Tanpa itu, pelatihan singkat hanya akan jadi kenangan indah tanpa dampak berantai,” ujarnya.
Kekhawatiran senada muncul dari para pekerja seni. Sistem zonasi sekolah dan padatnya jam pelajaran formal membuat remaja kerap kesulitan mengalokasikan waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler seni secara berkelanjutan. Namun di sisi lain, sejumlah orang tua peserta justru merasa terbantu karena anak-anak mereka memiliki alternatif produktif di luar gawai dan mal. Salah satu orang tua, Ibu Dian, menyampaikan kesannya singkat: “Anak saya jadi lebih tenang, tidur lebih cepat, karena latihan fisiknya menguras energi. Saya berharap ini bisa jadi awal yang baik.”
Perbandingan Perspektif: Pro dan Kontra
Untuk mengurai kompleksitas program ini, kita dapat menimbang sejumlah argumen yang saling bertolak belakang, sebagai berikut:
Pro:
- Memberikan akses gratis belajar seni tradisi bagi remaja urban yang selama ini minim sentuhan budaya lokal.
- Menjadi sarana character building: disiplin, kerja sama tim, dan ekspresi diri melalui seni yang bernilai adiluhung.
- Mengisi waktu luang remaja dengan kegiatan positif yang jauh dari potensi kenakalan atau adiksi gawai.
- Menghidupkan kembali ruang publik (PPSB) sebagai simpul komunitas, memperkuat kohesi sosial di tengah kota yang individualistik.
- Membuka jalur pengembangan bakat menuju sanggar profesional atau kegiatan lomba di tingkat regional dan nasional.
Kontra:
- Durasi pelatihan dua pekan terlalu pendek untuk menanamkan kemampuan teknis dan internalisasi filosofi tari.
- Minimnya tindak lanjut terstruktur membuat potensi drop-out budaya tinggi—peserta kembali ke lingkungan semula yang tidak mendukung praktik seni tradisi.
- Tari tradisional masih kalah bersaing dengan budaya populer Korea dan konten digital yang lebih masif menyasar remaja.
- Ketergantungan pada pendanaan pemerintah atau sponsor menimbulkan ketidakpastian keberlanjutan program serupa di masa depan.
- Ada kekhawatiran komodifikasi budaya: pelatihan hanya menjadi objek laporan proyek tanpa transformasi kesadaran kultural yang mendalam.
Terlepas dari polemik di atas, pelatihan yang berakhir pada 6 Juli 2026 ini tetap meninggalkan jejak. Para peserta setidaknya membawa pulang satu dua dasar gerak yang menjadi fondasi, sekaligus pengalaman emosional bahwa harta budaya itu nyata, bisa disentuh, dan bukan sekadar pajangan museum.
Comments (0)